Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 03 January 2017

Pelajar Indonesia di Damaskus: Waspadai WNI yang Pernah Terlibat Konflik Suriah


enablers-w1-5447e2dacaa071-1

islamindonesia.id – Pelajar Indonesia di Damaskus: Waspadai WNI yang Pernah Terlibat Konflik Suriah

 

Salah satu informasi yang menyedot perhatian masyarakat Indonesia di penghujung tahun 2016 ialah soal Aleppo. Sebagian media menginformasikan terjadinya pembantaian warga sipil oleh pemerintah Suriah. Bahkan di Channel 2 TV Israel, menyebut sedang terjadi ‘holocaust’.

Foto-foto “korban” yang tidak disertai dengan sumber yang jelas pun menyebar masif di media sosial. Seiring dengan itu, kecaman atas mazhab tertentu bahkan ulama di Suriah yang dituding terlibat pembantaian mengalir tak terbendung. Ujaran kebencian akhirnya turut mewarnai ruang publik di Indonesia khususnya di media sosial.

[Baca juga – Gus Mus: Mufti Suriah Syaikh Hassoun 100 Persen Sunni, Saya Kenal Pribadi]

[Baca juga: WAWANCARA – Dubes RI di Damaskus: Pasca Dikuasai Pemerintah Suriah, Aleppo Relatif Aman]

Menanggapi fenomena seperti ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Suriah mengeluarkan 15 pernyataan yang meluruskan berbagai informasi. Selain itu, PPI mengecam keras segala bentuk kekerasan atas nama agama dan segala bentuk aksi yang dapat mengancam kesatuan NKRI atau mengganggu keharmonisan bersama.

“Konflik di Suriah bukanlah konflik sektarian. Melainkan konflik yang berkaitan erat dengan berbagai kepentingan politik regional dan global,” katanya.

Di samping itu, PPI juga menghimbau pemerintah RI untuk, “Mewaspadai WNI yang pernah terlibat konflik Suriah dan melakukan koordinasi dengan Perkumpulan Alumni Syam Indonesia (AL-SYAMI) sebagai wadah resmi alumni PPI Suriah di tanah air.”

Seperti diketahui, sejak September 2016, satu demi satu wilayah Suriah yang selama ini dikuasai kelompok teroris seperti ISIS kembali direbut pemerintah setempat. Hingga 16 Desember 2016, Damaskus mengumumkan pembebasan Aleppo yang selama lima tahun diduduki para pemberontak bersenjata, termasuk Jays Al Islam.

[Baca juga: Diduga Terkait Jaysh Al-Islam dan GNPF-MUI, IHR Rilis Pernyataan Sikap]

[Baca juga: Sebagian “Berita Aleppo” Provokatif, Pelajar Indonesia di Suriah Rilis 15 Pernyataan Resmi]

Terhimpitnya para teroris di Suriah sejak 5 bulan lalu itu, menjadi peringatan dimana Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ratusan warga Indonesia yang tergabung dengan ISIS pulang ke tanah air.

“531 orang Indonesia yang dari Suriah masuk ke Indonesia ada 2 dari Uighur (Cina). Mereka itu kan yang termasuk program pemantauan, foreign terrorist fighters (FTF) itu atau gampangnya returnis yang fighter,” kata Kepala BNPT Suhardi (15/9), seperti dikutip detik.com

Salah satu WNI yang tak kembali akibat tewas di Suriah ialah Muhammad Ridwan, anak Abu Jibril. Putra petinggi Majelis Mujahidin Indonesia ini tewas di Suriah ketika bergabung dengan kelompok An-Nusra, cabang kelompok teroris Al-Qaeda sebagaimana ISIS. Ridwan atau yang dikenal sebagai Abu Omar itu dikabarkan tewas akibat terkena peluru tank di Kota Idlib – Suriah, pada  26 Maret 2015.

Sedangkan nama Abu Jibril, seperti lansir Tempo, pernah disebut-sebut dalam tragedi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, keduanya di Jakarta, pada 2009. Salah satu anaknya, yaitu Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan, divonis lima tahun penjara karena terbukti melakukan pidana terorisme.

Kabar terkahir yang masih dalam penyelidikan Polri ialah temuan logistik bantuan “Indonesian Humanitarian Relief” di markas teroris “Jays Al Islam”. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan pihaknya akan lakukan pendalaman atas temuan ini dan berkoordinasi ke kedutaan besar Indonesia di Suriah.[]

[Baca juga: Soal “Bantuan Nyasar” IHR, Dubes RI di Suriah: KBRI Tak Pernah Fasilitasi Bantuannya]

[Baca juga: Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia]

YS/ islam indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *