Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 25 December 2016

Kemana Bantuan Masyarakat Indonesia di Suriah?


ihr

islamindonesia.id – Kemana Bantuan Masyarakat Indonesia di Suriah?

 

Pasca-pembebasan Aleppo dari kelompok pemberontak bersenjata, setumpuk logistik ditemukan warga setempat di gedung bekas markas kelompok militan  “Jaysh al Islam”, tepatnya di distrik al Kalasa. Sambil menunjuk barang-barang yang ditinggal pergi oleh Jaysh al Islam, Amer Saleem mengisahkan tentang warga setempat yang melewati malam-malamnya dengan kelaparan. Sebagian di antara mereka bahkan mati kelaparan.

“Mereka tidak membolehkan kami untuk makan walau hanya sepotong roti,” kata Amer seperti dalam rekaman video yang diunggah euronews (14/12).

>> ANALISIS – Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?

Masih dalam video yang sama, salah satu di antara logistik yang diangkut dari markas Jaysh al Islam ialah dus putih dengan tulisan dan logo “Indonesian Humanitarian Relief” (IHR). Menurut laporan republika.co.id (26/6), IHR merupakan lembaga penyalur bantuan kemanusiaan untuk rakyat Suriah yang dipimpin Bachtiar Nasir, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Berikut video yang merekam bantuan IHR di markas Jays al Islam selengkapnya:

Dalam menyalurkan bantuan ini, IHR yang bermitra dengan Sinergi Foundation bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan terbesar di Turki, yakni IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) Insani Yardim Vakfi. Karena itu, bantuan masyarakat Indonesia yang berhasil dikumpulkan untuk Suriah dibawa oleh Tim IHR – Sinergi Foundation ke Istanbul, Turki.

“Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan dukungan rakyat Indonesia bagi pemerintah dan rakyat Turki, yang saat ini menampung sekitar 3 juta pengungsi Suriah. Turki adalah negara penampung pengungsi terbesar saat ini,” kata Bachtiar dalam jumpa pers yang digelar Jumat (24/6) seperti dikutip republika.co.id.

ihr

Lalu mengapa bantuan IHR berada di markas Jaysh al Islam, bukan di tangan pengungsi atau warga sipil Aleppo? Di sisi lain, kata peneliti Nahdlatul Ulama – Rumail Abbas, Bachtiar Nasir dalam websitenya pun tidak menyinggung logistik salah sasaran.

“Saat Aleppo dibombardir, dia masih menggalang dana,” kata Abbas di akun twitternya @Stakof (24/12).

Barangkali Bachtiar  memang tidak tahu bahwa bantuan IHR jatuh ke tangan pemberontak yang dinilai sebagai kelompok teroris. Tapi setidaknya kemungkinan itu telah diingatkan oleh sejumlah pihak, termasuk Ketua Ikatan Ulama Suriah Prof Taufiq Ramadhan Al Bouthi yang pernah berkunjung ke Indonesia.

>> Prof. Al-Bouthi: Penggalangan ‘Dana Suriah’ Hanya Sampai ke Kantong Pencari Sumbangan

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, selain di IHR, Bachtiar Nasir juga aktif memimpin Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) yang selama ini mengkampanyekan pengumpulan dana bantuan untuk Suriah. Dilaporkan oleh website yang bernaung di bawah FIPS, bumisyam.com, Bachtiar Nasir pernah bertolak ke Turki pada 25 April 2013 untuk tujuan Suriah. Dan keberangkatan Bachtiar ke Tanah Syam, – seperti diberitakan websitenya, – sebagai ketua FIPS.

2016-12-25-2

Meski website  fips.or.id telah “suspended” hingga tidak bisa diakses, bumisyam.com tetap aktif mengkampanyekan misi FIPS dengan jargon ‘Save Aleppo’ disertai nomor rekening. Jika ditelusuri pemberitaan bumisyam.com soal Suriah, setidaknya ada 11 pemberitaan dengan kata kunci “Jaysh al Islam”. Berbeda dengan sebagian pandangan, bumisyam.com menilai Jaysh al Islam merupakan kelompok pejuang atau mujahidin.

>> INFOGRAFIS – Daftar Negara Pengekspor ‘Pasukan Jihad’ ke Suriah

Dalam hal ini, Rumail Abbas mengingatkan kembali, “Sebelum Anda menyalurkan fulus ke IHR, mending tagih penjelasan Bachtiar Nasir: kenapa gudang pemberontak ada logistik IHR? Kalau dipikir-pikir, Bachtiar Nasir kan memang satu lapak dengan pengusung khilafah. Jays Al-Islam & ISIS pun pendukung hal yang sama.”

Pada 25 Desember 2015 misalnya, bumisyam.com menyebut faksi-faksi pejuang di Aleppo telah membentuk koalisi mujahidin yang disebut ‘Fatah Aleppo’. Langkah ini diambil untuk meniru kesuksesan rekan-rekan mereka di Idlib yang memperoleh kemajuan luar biasa terhadap pasukan rezim. Faksi-faksi yang menyatakan bergabung dan membentuk ‘Fatah Aleppo’ terdiri dari Jaysh al-Islam, al-Shamiya, Fastaqem Kma AMRT, Ahrar al-Sham, Fajr al-Khilafah, al-Sham revolusioner dan al-Sham Legiun.

2016-12-25-3_li

Setahun kemudian, tepatnya 16 Desember 2016, pemerintah Suriah beserta koalisinya mengumumkan pembebasan Suriah dari para pemberontak bersenjata termasuk kelompok Jaysh al Islam yang meninggalkan sisa bantuan logistik di markasnya, Aleppo.

Sebelum berhasil direbut oleh pemerintah setempat, euronews.com melaporkan (14/12), kelompok-kelompok pemberontak “pecah kongsi” dan saling serang satu sama lainnya. Kekejaman yang dilakukan Jays al Islam atas warga sipil selama di Aleppo membuat Damaskus memasukkannya dalam daftar teroris.

Adapun mitra IHR di Turki, yaitu IHH Yardım Vakfı, juga pernah dilaporkan terseret ke dalam skandal yang terkait dengan kelompok teroris di Suriah. Bahkan eks Ketua Divisi Operasi Anti-Teror  Kepolisian Nasional Turki Ahmad Sait Yayla, di medium.com (16/9), menjelaskan bahwa IHH merupakan refleksi yang akurat terkait “hubungan gelap” antara pemerintahan Turki dan “grup jihadis”.

Ahmet Sait Yayla

– Ahmet Sait Yayla –

Pada 3 Januari 2014 misalnya, harian Hurriyet – media Turki berhaluan moderat – melaporkan, polisi Turki menemukan sejumlah amunisi dan senjata di dalam truk bantuan atas nama IHH yang ditujukan ke grup jihadis di Suriah. Sayangnya, Pemerintah Erdogan melarang peliputan media ketika pengadilan atas temuan ini berlangsung. Tak hanya itu, pemerintah menuding Fethullah Gulen dan jaringannya berupaya melemahkan pemerintah atas skandal ini.

Menurut Sait, meski mengkambinghitamkan Gulen, bukti adanya kerjasama pemerintah Turki dan IHH benar-benar akurat. “Secara tidak langsung, saya terlibat sejak awal dalam penyelidikan kontra-terorisme atas (kasus) IHH ini,” katanya seperti dikutip medium.com (16/9).

“Pemimpin IHH ditangkap sebagai hasil dari proses penyelidikan waktu itu. Dari bukti-bukti yang kami peroleh, menunjukkan bahwa lembaga ini berada di belakang yang selama ini mendukung ISIS. IHH menyediakan senjata dan amunisi kepada kelompok-kelompok jihadis, bukan hanya ISIS,” tambah Sait.

Bagaimana dengan bantuan masyarakat Indonesia via IHR yang juga bekerjasama dengan IHH?  Bagi Abbas, kecurigaan dan kekhawatiran tentu perlu.  “Di tengah kebingungan konflik di Suriah, pemaparan publik soal ini jelas penting,” kata pria asal Jepara ini.

>> Singgung Soal Aleppo, Gus Mus: Bacalah Surat Terbuka Ini dengan Pikiran Jernih

 

YS / islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *