Satu Islam Untuk Semua

Monday, 02 January 2017

WAWANCARA – Dubes RI di Damaskus: Pasca Dikuasai Pemerintah Suriah, Aleppo Relatif Aman


wltacb6j0o

islamindonesia.id – WAWANCARA – Dubes RI di Damaskus: Pasca Dikuasai Pemerintah Suriah, Aleppo Relatif Aman

 

 

Suriah kembali menjadi sorotan publik khususnya setelah pemerintah Suriah berhasil merebut kembali kota Aleppo yang selama 5 tahun terakhir ini diduduki pemberontak bersenjata. Dengan bantuan sejumlah negara koalisi Suriah, Damaskus akhirnya mengambil-alih Aleppo kembali, khususnya bagian Timur.

Lalu bagaimana kondisi tanah Syam pasca-kemenangan operasi pembebasan pada 16 Desember 2016? Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto memaparkan kondisi di Suriah saat ini, kepada Metrotvnews.com melalui surat elektronik, Sabtu 31 Desember 2016.

[Baca juga: ANALISIS – Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?]

Bisa dijelaskan kondisi di Suriah saat ini, terutama di Aleppo?

Kondisi di Suriah umumnya di Damaskus, Latakia, Tartus, Homs, Hama semakin aman dan stabil, nadi perekonomian berjalan normal meskipun jauh menurun.  Kantor-kantor pemerintah, perbankan,  toko dan mall, pasar-pasar, sekolah dan Perguruan Tinggi serta kantor perwakilan asing di Damaskus semuanya buka bekerja pada kondisi normal jalan-jalan raya dalam kotapun selalu ada kemacetan. Tetapi kelangkaan energi terjadi sehingga listrik hanya 2 jam setelah padam 4 jam.

Untuk Aleppo relatif aman terutama setelah Aleppo Timur kembali dikuasai oleh Pemerintah Suriah. Kontak senjata sudah tidak ada, tetapi kesulitan listrik dan air masih terus terjadi.

Pemerintah bekerjasama dengan Polisi Militer Rusia tengah membersihkan sisa-sisa ranjau dan bahan peledak lainnya. Sejak 5 Desember lalu, mereka berhasil membersihkan 966 ha wilayah Aleppo Timur dengan menjinakkan 14.700 bom termasuk 6.700 bom rakitan. Tim juga telah menetralisir 2.149 rumah, 44 sekolah, 38 masjid, 10 rumah sakit dan klinik, 2 taman kanak-kanak, tempat penyimpanan air, 2 penyalur listrik dan pengolahan air dan roti.

Kehancuran infrastruktur kota melumpuhkan ekonomi karena sebelum perang Aleppo merupakan penyumbang 80 persen pendapatan  di Suriah. Industri makanan, karpet, pelistrikan, kosmetik, tekstil dan lain-lain telah hancur akibat perang.

[Baca juga: Singgung Soal Aleppo, Gus Mus: Bacalah Surat Terbuka Ini dengan Pikiran Jernih]

Seberapa besar kehancuran di Suriah akibat perang?

Suriah mengalami kehancuran yang parah akibat konflik berkepanjangan antara Pemerintah Suriah dengan kelompok oposisi bersenjata dan para teroris yang sempat menguasai beberapa wilayah Suriah selama lebih dari lima tahun terakhir ini.

Sektor-sektor: industri, pertanian minyak dan gas,  pariwisata. perdagangan dan peternakan semua mengalami penurunan drastis dan inflasi lebih dari 400 persen.

Apakah bisa Indonesia turut bertindak untuk meredakan pertempuran?

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang masih mempertahankan perwakilan diplomatiknya di ibu kota Damaskus karena masih banyaknya WNI di Suriah. Di samping itu, Indonesia melalui forum multilateral, seperti PBB, OKI terus mendorong solusi politik bukan militer untuk perdamaian di Suriah selain itu juga imbauan kepada negara-negara yang terlibat untuk mengedepankan negosiasi mencapai solusi politik dan meningkatkan bantuan kemanusiaan, karena tidak ada konflik atau perang yang selesai tanpa perundingan.

Maka dari itu, solusi politik perlu terus dikedepankan dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah ini.

Ada kabar mengenai bantuan Indonesia yang sampai ke tangan pemberontak, apakah bisa dikonfirmasi?

KBRI memfasilitasi penyerahan bantuan kemanusiaan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Suriah dan PPI Dunia ke Bulan Sabit Merah Suriah/Syrian Arab Red Crescent (SARC) di Kantor Pusat SARC di Damaskus dan diterima langsung oleh President of The Syrian Arab Red Crescent (SARC), Dr. Abdul Rahman Attar pada April 2016.

Bantuan yang disampaikan senilai 3.565.000 (tiga juta lima ratus enam puluh lima Lira Suriah) atau sekitar USD7.000 dan enam kardus berisi pakaian dan kebutuhan anak-anak. Bantuan ini diberikan sebagai ungkapan solidaritas dan perhatian terhadap rakyat Suriah yang berada di penampungan di bawah pengawasan SARC.

Dalam konteks PBB, Pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan bantuan resmi senilai USD500,000 melalui organisasi UN-OCHA kepada Pemerintah Suriah.

Disamping itu, KBRI juga tengah memfasilitasi bantuan dua unit ambulan dari Dompet Dhuafa dan MERC yang tengah dalam proses akhir. Sedangkan selain sumbangan dari organisasi/lembaga yang kami sebut di atas, KBRI tidak pernah memfasilitasi bantuan kemanusiaan sehingga tidak mengetahui tujuan dan peruntukannya.

[Baca juga: Polri Telusuri Keterlibatan Bachtiar Nasir Terkait Logistik IHR di Markas Teroris Jaysh Al-Islam]

Perlindungan terhadap WNI di Suriah

Banyak WNI yang berada di Suriah saat ini. Kondisi itu tentunya membuat KBRI Suriah untuk siaga memberikan perlindungan terhadap WNI yang berada di Suriah. Dubes Djoko pun menjelaskan perlindungan yang diberikan oleh KBRI kepada WNI.

Mengenai perlindungan WNI, bagaimana kondisi keamanan Konjen Aleppo, mengingat hingga saat ini masih beroperasi?

Indonesia adalah satu-satunya negara yang masih membuka dan mempertahankan kantornya Aleppo, bukan konsulat, tetapi kantor cabang konsuler di Aleppo. Misi utamanya adalah perlindungan dan repatriasi WNI.

Setiap bulannya, kantor Aleppo mengirimkan para TKI yang diperjuangkan hak-haknya untuk segera dipulangkan via Damaksus ke Indonesia.

Pasca Aleppo Timur kembali dikuasai oleh Pemerintah, kondisi kantor dan shelter Aleppo relatif aman dan tenang. Sebelumnya, kantor Aleppo sering sekali kena dampak mortar yang dilempar secara acak oleh kelompok pemberontak.

[Baca juga: Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia]

Masih adakah WNI yang masih ke Suriah secara ilegal?

Hingga kini, WNI korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terus dikirim masuk ke Suriah sekitar 20—30 orang setiap bulannya. Sindikat TPPO ini beroperasi di Indonesia, pencegahan seharusnya bermula dan dilakukan sejak di Tanah Air.

Pihak KBRI apakah masih menerima laporan keberadaan WNI di lokasi pertempuran?

Ya jelas Masih.

Hingga saat ini berapa WNI yang masih berlindung di penampungan KBRI dan kapan repatriasi akan dilakukan terhadap mereka?

Jumlah penghuni shelter Damaskus per tanggal 29 Desember sebanyak 30 orang, Aleppo empat orang, dan Lattakia dua orang. Repatriasi WNI Suriah ke Indonesia hingga hari ini sudah lebih dari 12.576 WNI dalam mencapai gelombang ke-282 sejak 2012. Pada Januari 2017, kita akan mulai lagi gelombang ke-283.

Sebagai catatan, saat ini diberlakukan gencatan senjata di sebagian besar wilayah Suriah. Gencatan diajukan oleh Rusia dan Turki dan diperkuat dengan sebuah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB). Resolusi itu mendukung upaya kedua negara untuk “mulai melompat” ke pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik hampir enam tahun.

Resolusi Dewan Keamanan PBB bertujuan membuka jalan bagi perundingan, bulan depan, di ibu kota Kazakhstan, Astana, di bawah perlindungan Rusia dan Iran –keduanya pendukung pemerintah Suriah– dan dari pendukung pemberontak, Turki.

Turki dan Rusia mengatakan pembicaraan itu akan melengkapi, bukan menggantikan, upaya perdamaian yang didukung PBB, termasuk perundingan yang ditetapkan untuk dilanjutkan 8 Februari di Jenewa.

Naskah resolusi PBB “menyambut baik dan mendukung upaya Rusia dan Turki untuk mengakhiri kekerasan di Suriah dan mulai melangkah ke proses politik”. Juga menyatakan pembicaraan Astana sebagai “langkah penting”. Langkah itu juga menyerukan pengiriman “yang cepat, aman, dan tanpa hambatan” bantuan kemanusiaan di Suriah.[]

 

[Baca juga: WAWANCARA – Dubes RI di Damaskus: Tidak Ada Benturan Suni-Syiah di Suriah]

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *