Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 28 August 2016

KHAS–Gus Mus: Syukuri Akal dan Hati dengan Berfikir, Berdzikir


Gus-Mus1

IslamIndonesia.id – Gus Mus: Syukuri Akal dan Hati dengan Berfikir, Berdzikir

 

Seperti saban Jum’at lain, KH Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri menyampaikan pesan singkat, sederhana namun sarat makna via media sosial. Jum’at kemarin (26/8), pengasuh pondok pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang itu mengajak untuk memperhatikan karunia yang diberikan Allah pada tiap manusia.

“Kita dianugrahi akal dan hati. Marilah kita syukuri dengan menggunakannya untuk berfikir dan berdzikir,” katanya via akun twitter.

Seperti diketahui, dalam Al-Qur’an, tidak kurang dari 70 ayat yang berbicara tentang anjuran bahkan perintah menggunakan akal. Ekspresi ayat bisa terlihat dalam beragam bentuk, seperti dengan bertanya, “Afalaa ta’qilun” (Apakah kalian tidak menggunkan akal?) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berfikir?)

Anugrah yang bernama akal merupakan kemampuan yang diberikan pada manusia untuk membedakan antara yang benar dan salah, baik dan buruk, atau yang menguntungkan (maslahat) dan mudarat. Seperti kemampuan lain yang dimiliki manusia, akal bisa dikembangkan, disempurnakan tapi juga bisa disia-siakan atau diterlantarkan. Salah satu bentuk pengembangan akal ialah dengan ‘tafkir’ atau berfikir. Dalam Al-Qur’an, selain menggunakan ‘ta’qilun’ yang berasal dari kata ‘aql’ juga menggunakan kata ‘fikr’ seperti ‘afalaa tatafakkarun’. Dalam Al-Qur’an, setidaknya 18 ayat yang menggunakan kata ‘fikr’.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih  dari keperluan’. Demikianlah Allah menerankan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Anehnya, tidak sedikit orang yang memandang rendah kedudukan akal. Bahkan, sebagian Muslimin menganggap semakin religius seseorang semakin harus meninggalkan akalnya.

Dengan jargon ‘berpegang pada Al-Qur’an dan hadist’, seolah-olah diartikan meninggalkan akal. Atau sebaliknya, orang yang menggunakan akalnya berarti bukan orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist. Lebih jauh lagi, ada yang meyakini bahwa jika ingin mendapatkan kebenaran dalam agama, jangan menggunakan akal. Bukankah pandangan ini bertentangan dengan sekian banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memuliakan kedudukan akal?

Menariknya, jika ditelusuri kata ‘akal’ dalam Al-Qur’an, semuanya adalah kata kerja, bukan kata benda. Jadi akal, dalam Al-Qur’an, adalah aktivitas atau dinamika dalam diri manusia. Akal adalah aktivitas untuk mengurai, mengelompokkan, menganalisis mana yang baik, dan buruk, atau mana yang benar dan salah.

Berbeda dengan orang kafir, jika ditinjau dari akar kata ‘kafir’, berarti orang yang menutup diri. Mereka menutup diri dari aktivitas pencarian pada yang benar dan yang batil. “Pokoknya” apa yang telah ia yakini adalah kebenaran, dan apapun informasi yang datang dari luar dirinya ia telah tolak. Dengan segera, -karena eksklusif – ia sesat-kan, bid’ah-kan, salah-kan, dst. Maka, salah satu cirinya orang kafir ialah merendahkan informasi yang datang dari orang lain sebelum proses penalaran.

(Baca juga: Cak Nun: Kalau Ada Pemimpin Adil,  Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong)

Adapun orang berakal, senantiasa siap mendengar atau menerima informasi dari orang lain – apapun latar belakangnya, – dan siap berdiskusi demi meraih ilmu yang lebih luas dan kebenaran yang lebih meyakinkan. Maka, salah satu ciri ulama yang luas ilmunya, kata Gus Mus, ialah tidak gampang ‘kagetan’.

“Salah satu ciri ulama yang nyegoro (seluas samudera) ilmu agamanya itu tidak kagetan. Sampeyan pernah lihat Mbah Sahal kaget? Tidak pernah to..?! Tidak seperti kiai-kiai lainnya. Ada Syiah kaget, ada Ahmadiyah kaget. Ada Ulil Abshar Abdalla kaget,” katanya dalam peringatan 7 hari haul KH MA Sahal Mahfudh di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati.

(Baca juga: Gus Dur, Gus Mus dan Keilmuan dalam Islam)

Betapa pentingnya akal, manusia didefenisikan sebagai makhluk yang berakal. Sedemikian esensialnya, tanpa akal, tiada makhluk yang dikatakan manusia. “Sesungguhnya binatang melata yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak, tuli dan tidak menggunakan akalnya” (QS. Al Anfal: 22). Dan ayat ini pun mencerminkan tentang fungsi akal yang menaikkan derajat seseorang melampaui makhluk-makhluk melata lainnya.

Dalam surah Al-Baqarah: 164, juga tercermin bagaimana Allah seolah-ola ingin menegaskan bahwa hanya orang-orang yang menggunakan akalnya yang mampu menyikap makna di balik tanda-tanda alam semesta yang terlihat oleh indra ini. Sedemikian, sehingga penciptaan segala sesuatu di jagad alam ini ditujukan bagi yang menggunakan akalnya. Bahkan bisa dikatakan; orang yang berkal ialah fokus penciptaan di alam raya ini.

Adapun ‘hati’, sebagaimana akal, merupakan hakikat yang melampaui panca indra. Hati merupakan ornamen metafisik yang pada dasarnya cenderung pada Tuhan Yang Mahasuci. Apabila manusia cenderung pada selain Tuhan, – tentunya bertentangan dengan sifat dasar dan fitrahnya, – berarti menyimpang. Sebagaimana jika digali dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, telinga hatinya menjadi tuli dan kehilangan kemampuan untuk mendengar hakikat mulia Tuhan.

Dalam kondisi ini, mengingat (dzikir) kepada Allah mampu mengembalikan pendengaran hati pelakunya. Demikian pula dengan mata hati yang pantas menyaksikan cahaya Ilahi, ketika manusia keluar dari alam cahaya kemudian terjebak dalam kegelapan, kebodohan, dan dosa maka dia kan kehilangan cahaya dan kecemerlangan mata hatinya. Maka, dengan dzikir, seseorang dapat mengobati segala bentuk penyakit  itu, sedemikian sehingga dapat mengembalikan cahaya penglihatan mata hati. Karena itu, alih-alih membiarkan hati rusak dengan kedengkian, kesembongan, keserakahan – seperti pesan Gus Mus – mari kita gunakan karunia Allah yang tak ternilai ini dengan senantiasa mengingat kepada-Nya. []

(Baca juga: Gus Mus: Belajarlah Agama dari Guru yang Jelas)

 

YS/IslamIndonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *