Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 22 January 2017

KOLOM—Syekh Hasan Farhan Almaliki: Ekstremis Salafi paling Merusak Islam


maxresdefault

islamindonesia.id — KOLOM -Ekstremis Salafi paling Merusak Islam

 

Oleh: Syekh Hasan Farhan Almaliki *

 

Salafisme itu ada dua tipe: ekstemis dan moderat. Kedua tipe ini pun bertingkat-tingkat. Saya menekankan kita beradu argumen dengan kelompok Salafy ekstremis secara khusus, karena mereka ini rahasia setan yang belum sepenuhnya terbongkar. Mereka adalah kelompok paling haus darah atas nama Allah!

Kita tidak akan paham agama dan tidak akan beres urusan dunia kita jika kita tidak membongkar rahasia pamungkas iblis ini. Itulah kelompok ideal setan karena mereka paling rahasia, paling bodoh dan paling berani.

[Baca juga: Di Rusia, ‘Islam Tradisional’ Dipandang Moderat]

Kaum Salafy ekstremis adalah paling beraninya manusia dalam menentang maqashid asy-syariah, tujuan-tujuan dasar Islam yang terbesar, yakni menjaga agama, akal, kehormatan dan harta benda. Mereka adalah kelompok paling keras menentang tujuan-tujuan utama Islam ini.

Saya menantang Dr. Muhammad Al-Barrak untuk mendebat pendapat saya ini. Dan jika saya gagal membuktikan kepadanya bahwa ekstremisme Salafy adalah kelompok penduduk bumi paling sering merusak tujuan-tujuan dasar Islam, maka saya adalah pembohong besar!

Saya ulangi lagi tanpa bermaksud bangga diri bahwa saya tidak mengetahui orang di dunia yang hidup saat ini yang lebih mengenal bahaya ekstemisme Salafy dan mengenali penyimpangan-penyimpangan latennya dan sumber-sumber teks primer pemikirannya lebih daripada yang saya ketahui.

Ekstremisme Salafy berbahaya atas seluruh pemerintah dan oposisi, Muslim dan kafir, di dalam dan di luar negeri. Bahkan mereka berbahaya terhadap diri mereka sendiri, terhadap agama, akal dan kebanyakan orang awam.

[Baca juga- Peneliti: Syiar Salafi-Wahabi Efektif dengan Jaringan Radio]

Juga saya mengajak  Khalid Al-Washaby debat terbuka. Setelah itu kalian semua akan melihat ukuran orang ini yang sebenarnya dalam perdebatan. Dengan satu syarat: debat terbuka ini harus di televisi yang netral. Dan kami telah mengajaknya di sebuah forum kalangan remaja. Tapi dia menolak, yang membuktikan bahwa dia tidak berani kecuali dalam bersekongkol.

Kita akan hadapi mereka dengan Al-Qur’an yang mereka tinggalkan, dengan hadis mutawatir yang mereka benci dan dengan akal yang sama sekali tidak mereka ketahui. Dan sesungguhnya cukuplah Al-Qur’an sebagai pegangan menghadapi mereka.

Anehnya, kelompok ini nyaris tidak berani berkata jujur meski hanya dalam empat baris. Mereka harus berdusta bahkan dalam menukil berita kecil. Seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengharamkan dusta dan melaknat orang-orang yang berdusta.

Terbukti misalnya dalam salah satu acara debat, Al-Barrak menyatakan fulan bermazhab Syiah adalah representasi Hasan Al-Maliki. Dia mengesankan kepada orang-orang bodoh bahwa demikianlah kenyataannya. Saudara Musa yang menjadi moderator mengajak saya dan Al-Barrak dalam acara debat terbuka dan saya telah menyetujuinya. Tapi yang terjadi malah acara abal-abal dengan mendatangkan orang yang katanya mewakili saya.

Saya ulangi lagi ajakan saya berpolemik dengan Khalid Al-Washaby di televisi yang netral. Saya juga tidak keberatan berdebat dengan dua atau tiga orang dari mereka sekaligus. Karena Al-Qur’an yang kita rujuk sama.

Persoalan mereka adalah dengan Al-Qur’an, bukan dengan saya. Pembelaan mereka terhadap Al-Qur’an secara lahiriah bertentangan dengan permusuhan mereka terhadap orang-orang yang sejatinya mengikuti Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai hakim mereka secara hakiki.

Musuh utama mereka adalah Al-Qur’an. Mereka menghancurkan ayat-ayat muhkamatnya, menjunjung dan merayakan ayat-ayat mutasyabihatnya, menundukkannya terhadap riwayat-riwayat hadis dan sama sekali tidak pernah berpegang kepadanya untuk menghasilkan pengetahuan.

Cinta kepada Allah meniscayakan ketaatan kepada-Nya atas apa yang Dia perintah dan Dia larang. Boleh jadi iblis mencintai Allah dan menyembah-Nya tapi dia menolak taat kepada-Nya dalam bersujud kepada Adam.

[Baca juga- Syekh Hasan Farhan Almaliki: Mengapa Umat Islam tidak Jadi Tenang dengan Mengingat Allah?]

Tsunami kebohongan, kekejian, iman yang keras, kebodohan dan kebanggaan dengan kebodohan, kesombongan atas sesuatu yang tidak ada, dan dakwah kepada pertumpahan darah, semua ini adalah produk asli dari ekstremisme mazhab Salafy. Maka camkanlah![]

*Penulis merupakan ulama Ahlusunnah wal jama’ah yang tinggal di Saudi dan dikenal sebagai salah satu penyeru persatuan umat Islam. Atas sejumlah karya dan ceramahnya yang kritis atas kebijakan kerajaan Saudi dan wahabisme, penulis kerap dipenjarakan oleh pemerintah setempat.

[Baca juga: Saudi Kembali Menahan Ulama Berpengaruh]

 

AJ/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *