Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 September 2016

Peneliti: Syiar Salafi-Wahabi Efektif dengan Jaringan Radio


radio

IslamIndonesia.id – Peneliti: Syiar Salafi-Wahabi Efektif dengan Jaringan Radio

 

Stasiun Radio, Hang FM, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah otoritas Singapura menilai radio yang berbasis di Batam itu menyebarkan ajaran Islam garis keras. Penilaian itu muncul pasca-tertangkapnya dua warga Singapura yang ditangkap oleh aparat keamanan setempat karena terkait dengan kelompok terorisme ISIS.

Kementerian Dalam Negeri setempat menyatakan bahwa keduanya – Rosli Hamzah (50) dan Mohammad Omar Mahadi (33) -, mulai mendengarkan Hang FM sejak 2009/2010 atau setelah keduanya tertarik dengan kelompok ISIS.

Stasiun Radio Hang FM telah membantah tudingan yang menyatakan siarannya menyebarkan ajaran garis keras dan terorisme. Komisi Penyiaran Indonesia juga telah meluruskan tudingan itu bahwa pesan-pesan religius yang disampaikan Hang FM telah mengalami perubahan setelah tahun 2014.

Peristiwa ini mengingatkan publik pada perkembangan jumlah stasiun radio religius yang berafliasi dengan gerakan Salafi. Seperti diketahui, gerakan ini telah lama beraktivitas secara luas di ruang publik. Termasuk Hang FM yang telah lama dinilai menyebarkan Salafisme, meski pemilikinya Zein Alatas telah menolak tudingan itu dan mengatakan ia hanya bekerja dalam rangka dakwah.

Salafisme merupakan gerakan ultra-konservatif  dalam Islam yang disokong secara umum oleh sejumlah negara seperti Saudi. Sementara mayoritas pendukung gerakan ini dilaporkan merupakan kelompok garis keras bahkan teroris. Sebagian di antara mereka mengakui sebagai Salafi, termasuk orang-orang yang tergabung dalam Al-Qaida dan ISIS yang sejauh ini menganjurkan kekerasan.

Majalah The Atlantic sempat merilis sejumlah point pembahasan dari pertemuan Presiden Amerika Barack Obama dan PM Autralia Malcom Turnbull di Manila November lalu. Obama menyatakan bahwa Saudi turut berperan dalam menguatnya ekstremisme di Indonesia. Riyadh, kata Obama, telah menggelontorkan banyak dana ke Indonesia baik untuk membangun madrasah, masjid atau beasiswa, dengan tujuan untuk mengekspor ajaran Wahabi. Tak heran, kata pria yang pernah sekolah di Jakarta ini, karakter Islam Indonesia yang dulu lebih santai dan sinkretik menjadi lebih fundamentalis dan kaku.

Hal serupa pernah dikemukakan oleh Senator Amerika Serikat Chris Murphy, ketika menyoroti persoalan ekstremisme di Pakistan. “Ada sekitar 24,000 madrasah di Pakistan, dan ribuan diantaranya dibiayai dengan dana yang berasal dari Arab Saudi. Mereka mengajarkan model keislaman yang sarat sentimen anti-Syiah dan anti-Barat. Madrasah-madrasah di Pakistan tak ubahnya liga kecil buat ISIS dan Al-Qaeda,” kata Murphy.

Murphy mengingatkan Kongres Amerika agar mengevaluasi atau bahkan menghentikan dukungan terhadap operasi militer Saudi di Yaman hingga persoalan ekspor ajaran Wahabi yang memfasilitasi tumbuhnya ekstremisme dan radikalisme dibahas dan dicapai kemajuan bagi kepentingan Amerika.

Di Indonesia sendiri, ormas Islam terbesar Nahdatul Ulama, telah mendeklarasikan ajaran Islam Nusantara sebagai bentuk perlawanan atas gerakan ajaran garis keras Salafisme yang dianggap merusak jiwa-bangsa Indonesia yang bhineka itu.

Peneliti gerakan Salafisme asal UIN Syarif Hidayatullah, Ayang Utriza Yakin mengatakan, Salafisme di Indonesia lebih mengandalkan pada radio daripada ‘door to door’ untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak. Dan strategi ini, kata Ayang, efektif.

“Banyak orang yang menjadi pengikut Salafi-Wahabi. Pegawai bank meninggalkan pekerjaan mereka, guru perempuan berhenti dari kerjaannya, sebagaimana sejumlah artis yang selama ini meninggalkan panggung mereka. Jika KPI tidak mengambil tindakan untuk menahan perkembangannya, maka usaha mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Salafi akan berhasil. Dan bagi saya, itu adalah ancaman bagi keberagaman,” katanya pada The Jakarta Post, Selasa kemarin.

Meski tidak jelas berapa jumlah stasiun radio Salafi yang pasti beroprasi di Indonesia, namun, diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari  seratus. Situs forumsalafy.net misalnya, memberikan daftar 25 stasiun radio tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang bisa diakses via online streaming. Di antaranya ialah; Radio Rasyid, Radio Salafy Siar, Radio Salafy Bandung dan Radio Salafy Makassar.

Ayang menyebut bahwa dari semua stasiun radio salafy itu, Radio Rodja yang memliki jaringan terluas. Rodja paling canggih dan didukung oleh teknologi berkualitas. Sedemikian hingga memiliki 6 kantor cabang dan 65 stasiun radio yang beroprasi di bawah jaringannya di seluruh Indonesia, baik dengan frekuensi AM maupun FM. Tidak hanya itu, Rodja saat ini telah memiliki TV kabel yang menyajikan berbagai program untuk pengikutnya yang terbesebar di berbagai wilayah.

Ayang menjelaskan bahwa selama Rodja siaran udara 6 bulan tahun ini, ia mendapatkan pendakwahnya menganjurkan intoleransi dan mendolak sikap moderat.  “Rodja menggunakan frekuensi publik. Karena itu seharusnya mendapat perhatian dari Kementerian Komunikasi dan Informasi serta KPI dari sisi penggunaan ruang publik,” katanya

Direktur operasional Rodja, Abu Abdurrahman Fawwaz, telah membantah pandangan Ayang. Fawwaz mengatakan siaran radionya hanya berkaitan dengan pengajaran Islam yang bersandar pada Al-Qur’an dan hadist.

“Bagaimanapun (dakwah) kita, dianggap ekstrimis atau tidak, itu bergantung pada dari sudut pandang apa Anda melihatnya,” kata Fawwaz . []

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *