Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 21 January 2017

Di Rusia, ‘Islam Tradisional’ Dipandang Moderat


images_1484977622047

islamindonesia.id – Di Rusia, ‘Islam Tradisional’ Dipandang Moderat

 

Di tengah maraknya aksi teror atas nama Islam yang berdampak Islamophobia khususnya di Barat, Rusia telah dapat memandang umat Islam lebih objektif. Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin misalnya, umat Islam tidak bisa dipandang  “satu warna” sedemikian sehingga generalisasi bahwa setiap Muslim membenarkan terorisme tidak benar.

“Islam tradisional merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual Rusia,” kata Putin pada pembukaan Masjid Agung Moskow beberapa waktu lalu.

[Baca juga: Masjid Katedral Rusia, Rumah Ibadah Terbesar di Eropa]

Putin menekankan bahwa selama berada-abad lamanya, ‘tradisi Islam telah berkembang di Rusia’ dan pemerintah akan terus membantu pengembangan teologi Islam. Ucapan Putin tersebut secara tidak langsung mencerminkan posisi resmi pemerintah Rusia yang menilai bahwa Islam merupakan agama yang cinta damai dan bersahabat yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemahaman sesat kelompok radikal atau teroris.

Bahkan, pada konferensi pers yang berlangsung 23 Desember lalu, Putin mengatakan bahwa ia menentang penggunaan kata ‘Islam’ dan ‘teror’ secara bersamaan. Namun menariknya, kategori Islam yang disebut Putin ialah “Islam tradisional”.

Istilah ini sebenarnya telah digunakan sejak tahun 1990-an yang mengacu pada bentuk Islam yang tertulis dalam sejarah Rusia. ‘Islam tradisional’ dinilai memiliki pandangan keislaman yang moderat, bersahabat dan serta setia konstitusi negara setempat.

“Istilah ini digunakan secara luas, tetapi sulit untuk mengartikannya karena memiliki sejumlah konotasi,” kata website resmi Rusia, rbth.com, menjelaskan “Islam Tradiosional”

Baik otoritas sekuler maupun perwakilan para ulama muslim Rusia, mereka menentang perkembangan ‘Islam radikal’ yang berpotensi membahayakan dan memprovokasi umat Islam untuk melakukan aksi terorisme. Selain menjunjung tinggi toleransi, ‘Islam tradisional’ tak hanya berpedoman pada Al-Qur’an, tetapi juga pada tradisi Muslim yang hidup rukun secara berdampingan antarumat beragama.

‘Islam tradisional’ tak hanya berpedoman kepada Alquran, tetapi juga pada tradisi muslim yang hidup rukun secara berdampingan antarumat beragama.

“Pemahaman mengenai ‘Islam tradisional’ di setiap daerah di Rusia berbeda-beda,” kata Igor Zagarin, teolog sekaligus profesor di Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS).

Menurutnya, setiap daerah atau republik muslim di Rusia, seperti Tatarstan, Bashkiria, Kaukasus, atau daerah lainnya, memiliki tradisinya masing-masing.

Berbeda dengan Gereja Ortodoks Rusia, komunitas muslim di Rusia tidak mempunyai suatu kepemimpinan spiritual yang terpusat. Jadi, di setiap daerah terdapat lembaga dan pemimpin atau pemuka agamanya sendiri, yang mungkin saja tidak diakui di luar daerah itu.

“Di Rusia terdapat puluhan struktur dan pusat spiritual muslim yang bersaing satu sama lain,” kata sang ahli kepada rbth.

Mayoritas muslim Rusia menganut Islam Sunni yang berpedoman pada Al-Qur’an. Di sisi lain, di Rusia sesungguhnya berlaku nilai-nilai umum Islam tradisional yang mengakar, kata Zagarin.

Ini adalah pengertian tentang Islam yang lebih lunak jika dibandingan dengan prinsip-prinsip yang konservatif yang lebih mendominasi, misalnya, seperti di Arab Saudi. Pesaing ‘Islam tradisional’, menurut Zagarin, adalah Salafiyah.

Ia menjelaskan, Salafiyah adalah metode yang menekankan penerapan syariat Islam secara murni dan mengajak umat untuk kembali ke norma-norma yang dipraktikkan pada era Nabi Muhammad SAW serta menjalani hidup yang sesuai dengan hukum Islam.

Islam Salafiyah ‘tidak terlalu diterima’ di Rusia. Konferensi Islam yang berlangsung di Grozny menetapkan Salafiyah, Wahabisme, dan kelompok radikal lainnya sebagai ‘sekte’ dan unsur yang tidak diterima di wilayah Rusia.

Islam Salafiyah ‘tidak terlalu diterima’ di Rusia, kata Zagarin. Secara khusus, Konferensi Islam yang berlangsung di Grozny, Chechnya, pada Agustus lalu mengeluarkan fatwa bahwa Salafiyah, Wahabisme, dan kelompok radikal lainnya sebagai ‘sekte’ dan unsur yangtidak diterima di wilayah Rusia.

[Baca juga- PBNU: Semua Teroris di RI Wahabi]

Di sisi lain, kelompok Salafiyah secara resmi tidak dilarang keberadaannya dan tetap eksis di Kaukasus Utara. Dalam laporan hak asasi manusia oleh organisasi ‘Memorial’ mengenai situasi di Kaukasus Utara pada 2015 – 2016, sebagian masyarakat yang mengikuti aliran Salafiyah justru sangat setia kepada aturan negara dan menentang kekerasan

Namun, berdasarkan laporan tersebut pemerintah sering kali memberikan tekanan kepada kelompok Salafiyah dan kerap berupaya menutup masjid Salafiyah.

“Pihak berwenang menduga kelompok Salafiyah sebagai masyarakat yang tidak loyal, atau dianggap berpotensi menjadi pemberontak pada suatu waktu,” kata Direktur Ilmiah dari Pusat Studi Islam Yayasan Marjani Ilshat Saetov

Berbeda dengan Salafiyah, sejumlah aktivitas organisasi Islam lainnya benar-benar dilarang di wilayah Rusia karena masuk dalam daftar organisasi teroris dan ekstrimis. Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin masuk dalam daftar organisasi teroris di Rusia sejak 2003.

Selain ISIS atau al-Qaeda, daftar ini juga memuat gerakan-gerakan yang tidak menunjukkan agresi secara terang-terangan terhadap Rusia, seperti Hizbut Tahrir danIkhwanul Muslimin — keduanya masuk dalam daftar organisasi teroris di Rusia sejak 2003.

Pelarangan aktivitas organisasi atau gerakan tersebut berkaitan dengan tanggapan negatif dari pihak berwenang terhadap campur tangan agama dalam politik, kata Ilshat Saetov (mendirikan partai atas dasar agama dilarang di Rusia).

Ideologi Hizbut Tahrir menjunjung pendirian kekhalifahan, sedangkan Ikhwanul Muslimin mencoba untuk memadukan demokrasi dengan syariat, kata Saetov menjelaskan. Karena itu, kedua organisasi tersebut dianggap menentang ketentuan negara.

“Di mana pun, negara akan bermusuhan dengan agama yang mempertanyakan legitimasi pemerintah, misalnya dari sudut pandangan syariat, bukan konstitusi,” kata Saetov.

Sang pakar mengatakan, di tengah keragaman Islam di Rusia, negara tidak keberatan dengan manifestasi yang hanya berada dalam lingkup sosial dan budaya, selama tidak menyinggung isu-isu politik.[]

[Baca juga: Hormati Muslim, Atlet Rusia Kenakan Kerudung pada Pertandingan di Iran]

YS/ islam indonesia/ sumber: rbth.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *