Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 November 2016

KOLOM — Syekh Farhan Al Maliki: Siapa yang Sesungguhnya Menista Islam?


maxresdefault

islamindonesia.id — Syekh Hasan Farhan Al Maliki: Siapa yang Sesungguhnya Menista Islam?

Saya tidak akan katakan pada Anda: Jangan berbeda pendapat dengan saya! Tiap orang berhak punya pendapatnya sendiri-sendiri. Tapi mohon berbedalah pendapat dengan mulia. Jangan dustakan saya. Jangan distorsi kata-kata saya. Jangan plintir. Jangan otak-atik. Perbedaan pendapat dengan jujur adalah suatu keutamaan bagi saya dan Anda.

Pembunuhan atas jurnalis Yordania Nahed Hatar beberapa waktu lalu dan Fareg Fawda beberapa tahun sebelum ini telah menimbulkan banyak pembicaraan tanpa ulasan dari kalimat: penistaan dan penodaan agama. Pertanyaannya, kapan seseorang dapat disebut menista dan menodai agama dan Allah? Apakah saat dia—audzubillah—mencaci Allah? Ataukah saat dia mengaitkan perbuatan buruknya kepada Allah? Atau ketika dia berbohong kepada Allah? Atau semua itu dan yang lain?

Menurut saya, penistaan dan penodaan Allah itu mencakup semua yang di atas dan yang lain. Tetapi, penistaan dan penodaan itu relatif, sehingga seorang layak bertanya: Apakah penistaan dan penodaan yang paling besar? Apakah kita dapat mengetahuinya.

 

KOLOM–Syekh Almaliki: Mengapa Umat tidak Tenang dengan Mengingat Allah?

 

Penistaan dan penodaan kepada Allah diungkapkan dalam Al-Qur’an dengan berbagai istilah dan kalimat. Maksud saya, tidak ada istilah dan kalimat penistaan dan penodaan itu sendiri. Yang termaktub adalah makian dan dusta kepada Allah.

Kita kembali bertanya: Apakah penistaan dan penodaan kepada Allah yang paling jelas dalam Al-Qur’an? Jawabnya: penistaan dan penodaan kepada Allah dalam Al-Qur’an terdapat dalam ayat-ayat yang menggunakan kalimat “ومن أظلم” (Siapakah yang lebih zalim, aniaya). Ayat-ayat yang memakai kalimat ini mengabarkan kepada kita puncak tertinggi kezaliman. Misalnya “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung (berjaya)?” (QS 6: 21).

Pendusta Allah tentu saja menistakan dan menodai Dia. Adapun perilaku dan perangai yang masuk dalam ayat-ayat yang memakai kalimat  “ومن أظلم” (Siapakah yang lebih zalim, aniaya) itu ada tujuh. Dan ironisnya kebanyakan Muslim yang saya saksikan punya perilaku dan perangai ini. Mayoritas Muslim yang selamat dari salah satu perilaku terjebak dalam perilaku lainnya.

 

Syekh Hasan Farhan Al-Maliki: Kemunafikan Bani Umayyah

 

Kelompok “yang paling zalim” di dalam Al-Qur’an, di antaranya, adalah pendusta Allah; orang yang membohongkan kebenaran dan kejujuran; yang menutup kesaksikan; melarang rumah ibadah yang di dalamnya manusia mengingat Allah dan sebagainya. Saya akan kemukakan beberapa ayat yang menggunakan kalimat  “ومن أظلم” (Siapakah yang lebih zalim, aniaya) lalu saya akan uraikan sisi penodaan dan penistaannya sehingga Allah jadikan ia sebagai puncak kezaliman. Lalu kita lihat siapakah golongan yang mempraktikkannya.

Misalnya, dalam surah Al-An’am Allah berfirman: ““Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung (berjaya)?” (QS 6: 21).

 

Ulama Saudi: Bani Umayah yang Budayakan Kekerasan atas Nama Islam, bukan Khawarij

 

Ayat ini menegaskan dua perangai golongan “yang paling zalim”: 1. Membuat-buat kedustaan terhadap Allah; dan 2. mendustakan ayat-ayatNya. Lalu apa arti keduanya? Mengapa membuat-buat kedustaan terhadap Allah disebut sebagai perangai penistaan atas Allah? Karena Allah bertanya “siapakah yang paling zalim” dan Allah juga yang menjawabnya, karena Dialah yang paling mengerti derajat-derajat kezaliman manusia.

Lalu apakah makna ‘Membuat-buat kedustaan terhadap Allah’ ini? Dan apa contoh-contohnya? Di antara contohnya dalam Al-Qur’an adalah menghalalkan apa yang Allah haramkan, seperti Allah mengharamkan pembunuhan dan pertumpahan darah lalu dia menjadikannya sebagai jihad. Allah jelas-jelas mengharamkan membunuh jiwa tanpa hak dan hudud. Tapi nyatanya perilaku ini marak di tengah Muslimin.

Di sini timbul pertanyaan: Siapakah yang menistakan Allah? Siapakah yang paling zalim menurut Allah? Jawabnya jelas. Penista yang paling zalim terhadap Allah adalah orang yang menganggap pelanggarannya atas apa yang Allah haramkan sebagai keridhaan dan syariat Allah.

 

Ulama Saudi: Siapa yang Bertanggungjawab Menggelapkan Sayidina Ali dari Sejarah Islam?

Pertanyaan bercabang yang mesti pula kita tanyakan kepada diri kita: Bagaimana aku  menjamin bahwa aku tidak mendustakan Allah? Bagaimana aku yakin bahwa bukan golongan “yang paling zalim terhadap Allah”? Apakah kamu pernah mendengar Muslim bertanya seperti ini kepada dirinya? Sudahkah kita mendengar orang yang menilai dirinya sendiri sebelum hari perhitungan kelak? Ataukah semua sudah yakin hingga tak pernah mempertanyakan atau menilai diri mereka sendiri?

Sekiranya pertanyaan di atas hadir dalam benak Muslim, maka mereka tidak akan menjadikan penghilangan nyawa orang yang diharamkan Allah kecuali dengan hak sebagai perintah Allah serta kewajiban dan ketaatan terbesar?

Nah, kini lingkaran “para penista agama” membesar di depan mata kita. Tidak cukup hanya dengan melukis suatu gambaran atau mengarang suatu kitab. Satu perangai ini saja telah tampak jauh lebih besar daripada yang kita perkirakan sebelumnya. Nah, bagaimana bila kita beberkan pendustaan terhadap ayat-ayat Allah itu satu demi satu; baik secara langsung maupun tidak; tidakkah lingkaran para pendusta itu akan melebar? Bukankah golongan paling zalim terhadap Allah itu jauh banyak?

Nah, jika kita tambahkan dengan fakta bahwa ayat-ayat Allah itu tidak terkait dengan ayat-ayat (tanda-tanda) wahyu saja, melainkan juga mencakup ayat-ayat di ufuk dan di dalam diri manusia, maka bisa kita bayangkan betapa luas lingkaran para pendusta dan puak paling zalim terhadap Allah itu.

Jika lingkaran kaum paling zalim terhadap Allah ini telah meluas, maka demikian pula lingkaran kaum penista Allah akan meluas. Yang ini mendustakan Allah dan mengatribusikan kejahatan-kejahatannya kepada Allah, dan yang itu mendustakan tanda-tanda Allah.

 

Ulama Saudi: Houtsi akan Menjadi Gerakan Islam Terbesar di Jazirah Arab

 

Dan kalian semua akan terkejut bukan alang kepalang ketika mengetahui bahwa ini baru satu dari 15 ayat yang berbicara ihwal golongan yang paling zalim terhadap Allah. Jika kita beberkan semuanya mungkin tidak tersisa satu Muslim pun di muka bumi ini yang masih merasa pongah dan petantang petenteng. Jadi, agama Allah ini memang bukan main-main.

 

AJ / Islam Indonesia

 

0 responses to “KOLOM — Syekh Farhan Al Maliki: Siapa yang Sesungguhnya Menista Islam?”

  1. asma says:

    “Jika kita beberkan semuanya mungkin tidak tersisa satu Muslim pun di muka bumi ini yang masih merasa pongah dan petantang petenteng. Jadi, agama Allah ini memang bukan main-main.”
    Sedih betul membaca ini karena rasanya tidak mungkin satupun manusia muslim bebas dari dosa ini. kits sadari ataupun tidak kita telah nista. orang non muslim tidak punya pengetahuan akan ini kita yang tahu justru akan diminta pertanggungjawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *