Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 12 July 2016

Ulama Saudi: Bani Umayah yang Budayakan Kekerasan atas Nama Islam, bukan Khawarij


almaliki

Islamindonesia.id–Ulama Saudi: Bani Umayah Budayakan Kekerasan atas Nama Islam, bukan Khawarij

Syaikh Hasan Farhan Al-Maliky barangkali merupakan salah satu ulama Saudi paling lantang menyuarakan pikiran-pikiran revisionis dan kritisnya tentang Islam ala Salafi Wahabi. Dalam banyak kesempatan, dia menunjukkan sejumlah kerancuan berpikir, kesalahan metodologis dan distorsi historis yang menimpa pemikiran Islam selama ini. Salah satu tulisannya yang menuai pro dan kontra pasca #Bom_Madinah dan serangkaian bom di penghujung Ramadhan silam kami terjemahkan di bawah ini.

——————–

Kita dalam tipuan setan yang besar. Kita ditipu oleh kaum munafik yang memakai nama terbaik dengan melakukan aksi terjahat. Allah telah memperingatkan kita tentang kaum munafik. Allah berfirman: “Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka.” (QS. 63: 4).

Namun umat ini tak mengambil peringatan Allah dengan sikap yang serius. Akibatnya mereka lupa menelaah kemunafikan dan mencari nama-nama dan tanda-tanda kaum munafik.

Kita tidak boleh lagi membohongi diri kita sendiri. Terorisme mempunyai sekolah dan simbol-simbolnya sendiri yang berkaitan erat dengan Bani Umayah, bukan Khawarij.

Kaum ekstremis dan fanatik masa kini tidak terkait dengan salah satu dari kelompok Khawarij, seperti Azariqah, Nejed, atau lainnya. Ekstremisme dan terorisme hari ini bukanlah produk pemikiran tokoh-tokoh Khawarij seperti Abdullah bin Wahab, Zaid bin Al-Hushain, Abdullah bin Al-Kawa’, Nafi’ bin Al-Azraq, atau pun lainnya.

Setiap tipu daya yang menempelkan ekstremisme pada Khawarij adalah bentuk manipulasi dan lari dari kenyataan. Mereka yang melakukan pembunuhan, dan pemboman hari ini, bahkan terhadap masjid-masjid yang tidak dilakukan oleh orang-orang Khawarij, mereka ini membid’ahkan dan menistakan Khawarij. Mereka ini berlepas tangan dari Khawarij. Tapi, tanpa sungkan, mereka bangga berafiliasi dengan sekolah dan simbol-simbol yang terkenal itu. Tidak ada guna menyebut nama di sini, karena semua sudah mengenal mereka.

Bekas-bekas Khawarij terdahulu telah sirna. Bekas pengkafiran dan pernyataan mereka pun telah usai. Bahkan Ibadhiyah tidak lagi berasal dari Khawarij. Ibadhiyah – yang saat ini hanya ada di Oman – berasal dari seorang ahli fikih salah satu perawi kitab shahih bernama Jabir bin Zaid Abu Al-Sya’tsa yang wafat pada tahun 94 H. Dia adalah pendukung Abdullah bin Ibadh, seorang yang aliran ini dinisbatkan kepada dirinya lantaran nasihat yang ditulisnya untuk Abdul Malik bin Marwan.

Pengkafiran dan kejahatan model Bani Umayah itulah faktor dan aktor yang sebenarnya di dunia Islam. Dari Manbij hingga Mukalla, dari Indonesia hingga Nigeria, dari Karadah di Irak hingga Qaa di Lebanon, dari Istanbul hingga Brussel, dari masjid di Qatif dan Ahsa’ hingga masjid Nabawi di Madinah, semua aksi kekerasan itu digerakkan oleh pola pikir Bani Umayah.

Perkara ini sangat jelas. Pengujian dan pembedaan antara yang hak dan batil dari Allah terus berjalan tanpa putus untuk menentukan mana yang jujur dan yang dusta.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut [29]: 2-3)

Maka terungkapnya ekstremisme Bani Umayah, simbol-simbol, dan bangunan peninggalannya yang hari ini memerangi ekstremisme, padahal mereka yang justru akan mempersempit ruang gerak dan mengeluarkan kaum ekstremis sejati dari persembunyiannya sehingga mereka tak lagi dapat berdalih membunuh penjahat dengan penjahat. Merekalah pelaku yang menebarkan ekstremisme hari ini.

Semua harus paham bahwa semua segmen mereka, yang berjuang atau yang duduk atau yang berdoa dari mereka, saat mereka meminta untuk menolong kaum Muslim, maka yang dimaksud adalah diri mereka sendiri dan saat meminta kehancuran bagi kaum kafir dan musyrik, maka yang dimaksud adalah siapa saja selain mereka.

Takfirisme Bani Umayah terkenal dalam sejarah. Mereka memulainya dengan mengkafirkan Imam Ali bin Abi Thalib dan melaknatnya di mimbar-mimbar (Jum’at) mereka. Lalu mengkafirkan Hujr bin ‘Adi sahabat yang masyhur. Para ahli fikih dan tokoh kenamaan Kufah pendukung Umawi menganggap bahwa Hujr bin ‘Adi telah kafir. Mereka juga yang mengeluarkan fatwa kafirnya Abu Hanifah dan mazhab-mazhab selain mereka. Setidaknya, mereka menghalalkan darah mereka dengan tuduhan bid’ah yang wajib diminta untuk bertaubat atau dibunuh. Semua ini adalah pemikiran Bani Umayah bukan Khawarij.

Begitu pula dengan Bani Umayah yang menghancurkan masjid-masjid bukanlah karakteristik Khawarij.

Khawarij mempertahankan Ka’bah melawan tentara Yazid bin Mu’awiyah pada tahun 64 H. Dengan demikian Khawarij mengagungkan masjid-masjid terutama Haramain. Menguasai Haramain adalah puncak tujuan Bani Umayah bukan Khawarij. Pasukan Yazid bin Muawiyah menaklukkan Madinah pada 63 H dan membiarkan kuda-kuda mereka menginjak-injak masjid Nabawi. Mereka juga menyerang Ka’bah dua kali: pada tahun 64 H dan 73 H. Sementara yang mempertahankan Ka’bah adalah orang-orang Khawarij di bawah pimpinan Najdah Al-Nahafi. Menjadikan masjid dan Haramain sebagai sasaran kekerasan berasal dari Bani Umayah bukan Khawarij.

Khawarij menentang Utsman, Ali dan seluruh Bani Umayah, sedangkan Bani Umayah menentang Ahlul Bait Nabi, Syiah, keluarga Zubair dan Khawarij. Yang melemparkan tanggungjawab atas kekerasan ini kepada Khawarij sejatinya berhubungan ruhani dengan Bani Umayah.

Yang terpenting adalah kaitan antara ekstremisme hari ini dengan Bani Umayah, simbol-simbol, dan bangunan peninggalan mereka bersifat sejati dan asli. Sementara kaitan antara ekstremisme hari ini dengan Khawarij sama sekali tidak nyata, tidak sejati dan asli. Ini yang terpenting!

Bacalah buku-buku ISIS hari ini, maka niscaya Anda akan mendapatkannya bersambung terus dengan simbol-simbol Bani Umayah, seperti Ibn Taimiyah dan sekolah-sekolahnya, lalu orang-orang ekstrem dari kalangan pengikut Hanbali pada abad 3 dan 4 dan seterusnya hingga sampai kepada Al-Auza’i, Hariz bin Utsman, Khalid bin Mi’dan, Raja’ bin Hayah, As’ad Al-Harrazi dan para peletak dasar mazhab Bani Umayah lainnya.

Para pengikut Hanbali terdahulu yang senang mengkafirkan cukup jelas. Merekalah yang memiliki banyak tulisan tentang keutamaan Muawiyah dan Yazid–dua pemimpin dinasti Bani Umayah terutama.

Bagian pengkafiran dan ekstremisme Bani Umayah ini sengaja disembunyikan. Padahal inilah pelaku sesungguhnya di dalam sejarah Islam dari Timur hingga Barat. Dan Allah Swt tengah menguji kita, apakah kita akan mengubah perilaku membanggakan pembunuhan dan para pelaku kejahatan yang ada di kalangan kita, ataukah kita akan berlepas diri dari mereka. Yang mereka inginkan hanyalah agar kita menganggap bahwa pelaku pembunuhan itu adalah Khawarij, titik, meskipun tidak ada kaitan antara ISIS dengan Khawarij.

Sementara sesungguhnya kaitan di antara Bani Umayah dengan sekolah-sekolah ekstremisme lebih terang benderang daripada matahari dan kaitan antara sekolah-sekolah tersebut dengan Ibnu Taimiyah lebih terang benderang daripada matahari. Lalu kaitan antara Ibnu Taimiyah dengan ekstremisme para pengikut Hanbali terdahulu lebih terang benderang daripada matahari.

Orang-orang moderat seperti Ibnu Al-Jauzi yang mencoba menjernihkan ajaran-ajaran Hanbali dituduh Nashibi. Ibnu Al-Jauzi menulis sebuah kitab tentang bolehnya melaknat Yazid padahal dia seorang bermazhab Hanbali. Namun Ibnu Taimiyah mendukung kelompok Hanbali lainnya seperti Ibnu Abi Ya’la Al-Farra, Abdul Mughits Al-Harbi dan semisalnya yang dalam banyak tulisannya menyinggung keutamaan Yazid dan Muawiyah.

Hubungan antara para pengikut Hanbali yang ekstrem dengan leluhur Bani Umayah yang hidup dalam pangkuan Dinasti Umayah juga sangat jelas. Jika dianggap kurang jelas, maka inilah peran para peneliti dan cendikiawan untuk membuktikannya.

Tugas bagi para peneliti di sini adalah mencari hubungan antara pengikut Hanbali ekstrem dan Bani Umayah, apakah mereka adalah salafi yang moderat yang tidak mengikuti metode Umayah, ataukah salafi ekstrem yang mengikuti Daulah Umayah. Mereka itulah orang-orang yang merengkuh ruh, jiwa, pikiran, aqidah dan fatwa-fatwa berdarah dari Bani Umayah..

Khawarij lebih ringan dari Bani Umayah. Khawarij telah usai. Mereka tidak lagi memiliki jejak peninggalan, murid-murid, sekolah dan apa pun.

Bani Umayah lebih berbahaya dari Khawarij. Bani Umayah adalah orang-orang yang membunuh Ahlu Badr (25 orang). Bani Umayah pula yang membunuh Ahlu Ridhwan dan anak-anak mereka (sekitar 700 orang) pada peristiwa berdarah di Madinah. Merekalah yang melaknat Ali dan orang-orang yang mencintainya di atas mimbar-mimbar. Merekalah yang menyerang Madinah pada 63 H. Mereka pula yang mencaci para wanita Muhajirin dan Anshar selama tiga hari. Mereka yang menyembelih Al-Husein dan keluarganya pada peristiwa Karbala 61 H. Mereka yang menghancurkan pekuburan Bani Abbas. Merekalah yang membunuh Hujr bin Adi dan sahabat-sahabatnya.
Mereka yang membunuh ‘Amr bin Al-Hamq Al-Khuza’i yang pernah ikut perang Badr. Merekalah yang memproduksi sebagian besar hadis dan mengubah-ubahnya. Mereka pula yang melakukan bid’ah dan pengkafiran. Mereka yang menyembelih orang-orang yang menentang mereka dengan dalih murtad dan kafir.
Mereka yang memperbanyak julukan orang-orang yang menentang mereka; rafidhah, jahmiah, murjiah, mu’thilah, dst. Kemudian membagi-bagi kelompok mereka namun menghapus Nashibi (pembenci keluarga Nabi) sebagai sebuah mazhab.

Kita berada dalam tipu daya setan yang besar. Kita ditipu oleh orang-orang munafik yang disebut dengan nama-nama agung padahal melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.

Kita telah diperingati oleh Allah Swt dari orang-orang munafik, “Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4) Namun umat lalai dari peringatan Allah Swt sehingga meremehkan kajian tentang kemunafikan, pembahasan bentuk-bentuk kemunafikan dan tanda-tanda mereka.
Oleh karena itu, mereka berhasil mengecoh dan menciptakan bibit ekstremisme dan mencoreng agama, menyimpangkan Al-Qur’an, membuat hadis-hadis palsu, melencengkan sirah Nabi, mengacaukan ajaran Islam, dan memerangi Islam dengan orang-orang Islam, dst.

Kita telah terlambat jauh. Sulit bagi kita mencari jalan keluar untuk menyingkap kemunafikan, pengaruh dan simbol-simbolnya. Namun cukup bagi kita untuk mengidentifikasi ekstremisme yang dekat dengan kita, yaitu anak-anak ekstremis pada periode akhir abad ke-3 yang lalu, anak-anak ekstrem abad ke-8 hingga sekarang sebagai suntikan pertama pada luka kita.

 

Tom&AJ/Sumber: almaliky.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *