Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 28 July 2016

Syekh Hasan Farhan Al-Maliki: Kemunafikan Bani Umayyah


kemunafikan bani umayyah

IslamIndonesia.id – Syekh Farhan Al-Maliki: Kemunafikan Bani Umayyah

Mereka berkata, “Al-Hasan telah lengser dari kekhalifahan Allah.”
Mereka juga berkata, “Al-Hasan telah lengser dari kekhilafahan karena Mu’awiyah.”

Dengan demikian, bagi mereka Allah sama dengan Mu’awiyah.

Mereka tidak memahami dan tidak pandai mengambil pelajaran! Sungguh turun tahta dari kebenaran karena tidak terpenuhinya persyaratan. Nabi Yunus as meninggalkan dakwah kepada kaumnya, padahal dia seorang Nabi. Namun demikian dia diperintahkan untuk berdakwah – bukan kekuasaan – sementara dakwah memiliki banyak syarat.

Orang-orang Islam yang tergila-gila dengan kekuasaan melihatnya sama saja dengan agama. Bahkan mereka tidak melihat agama melainkan dengan adanya kekuasaan. Inilah bentuk pencampuradukkan Bani Umayyah antara agama dan ego mereka.

Kekuasaan memiliki banyak syarat yang jika tidak terpenuhi maka tertolak. Mayoritas nabi Bani Israil tidak memiliki kekuasaan. Karena itu Allah berfirman, “Mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Mereka tidak dituntut untuk menjadi raja dan tidak penting.

Kekuasaan adalah salah satu bagian dari otoritas penuh. Jika tidak terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak mengurangi apapun.

Para Nabi – yang bukan raja – tidak mengurangi peran mereka. Allah tidak menuntut para Nabi-Nya untuk memiliki otoritas penuh. Nabi-nabi yang menjadi raja hanyalah sedikit. Agama bukanlah kekuasaan. Agama juga merupakan kontrol, pembentukan budaya, pengajaran, peringatan atas kepemilikan. Kebudayaan Bani Umayyah-lah yang menjadikan kekuasaan sebagai bagian terpenting yang diinginkan Allah bagi wali-wali-Nya. Merekalah yang mengaitkan agama dengan kekuasaan. Merekalah yang membisikkan kita bahwa kekuasaan akan menjaga Allah dan agama-Nya. Luar biasa!

Merupakan budaya Bani Umayyah yang berangan-angan kepada Allah dan agama-Nya bahwa penguasa yang zalim telah ditetapkan oleh agama Allah. Dan seandainya penguasa zalim tidak ada, maka tidak akan ada yang mengesakan Allah dan pembawa agama. Oleh karena itu, kita mendapati budaya Bani Umayyah – yang masih eksis pada masa kini – berangan-angan pagi dan petang adanya kekuasaan yang zalim. Seolah-olah Allah membutuhkan orang-orang zalim untuk menegakkan agama-Nya.

Semuanya adalah bagian dari kebudayaan Bani Umayyah yang semu. Mereka tidak bosan berangan-angan kepada Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya. Mengapa?

Karena orang-orang munafik tidak mengerti! Orang-orang munafik tidak mengerti, tidak mengerti Allah, tidak memahami ketentuan-Nya. Mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah para pelaku kerusakan. Mereka tidak merasa bahwa mereka adalah para pendusta. Barang siapa tidak memahami hal ini pada dirinya, ia tidak akan memahami apa-apa pada selainnya.

Orang-orang munafik menyangka Allah lemah! Bahkan, mereka menyangka karena orang-orang zalim-lah yang telah menolong Allah dan agama-Nya sehingga Allah dan agama-Nya tetap koheren! La hawla wala quwwata illa billah.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya, “Orang-orang munafik itu tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 7)

Orang-orang munafik mencintai orang-orang zalim karena Allah! Mereka mencintai orang-orang yang mengajak kepada neraka karena Allah, karena mereka menyangka bahwa merekalah sebab tegaknya agama!

Alangkah benarnya ayat, “Orang-orang munafik itu tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 7)

Andai orang-orang munafik memahami, niscaya mereka tahu bahwa merekalah sebab lenyapnya agama, bukan sebab tegaknya agama. Namun mereka benar-benar tidak memahami sebagaimana disifati Allah secara sempurna.

Ahlul Bait – dalam hal kekuasaan – sebagaimana para Nabi yang menjadi raja sangatlah sedikit. Dalam hal pembentukan budaya, peran Ahlul Bait lebih besar dari kekuasaan. Ahlul Bait tidak mengharap kekuasaan kecuali jika mereka diberikan. Mereka tidak mencari kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri melainkan untuk perbaikan.

 

Tom/Islamindonesia

One response to “Syekh Hasan Farhan Al-Maliki: Kemunafikan Bani Umayyah”

  1. islam nus says:

    smg Allah merahmati Muawiyah, alfatihah.,..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *