Satu Islam Untuk Semua

Friday, 30 December 2016

KAJIAN – Gagasan Gus Dur dalam Membangun “Islam Kita”


Belajar Ihsan Kepada Gus Dur

islamindonesia.id – KAJIAN – Gagasan Gus Dur dalam Membangun “Islam Kita”

 

Sebagaimana yang telah berlangsung selama 7 tahun terakhir ini, peringatan wafatnya KH. Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid digelar di berbagai tempat dan daerah khususnya tiap 30 Desember. Tidak hanya warga Nahdliyin, peringatan yang dikenal haul Gus Dur ini juga senantiasa dihadiri oleh berbagai lapis masyarakat termasuk lintas agama dan mazhab.

Hal ini karena, sebagai santri, pemikir, aktivis sosial, hingga tokoh agama, almarhum dinilai telah meninggalkan warisan yang adiluhung. Baik itu berupa gagasan intelektual, keteladanan hingga kenangan yang sarat makna dan tak terlupakan bagi yang mengenalnya.

>> Ikrar Ciganjur Hidupkan Kembali Spirit Perjuangan Gus Dur

Pada momentum haul kali ini, redaksi Islam Indonesia menurunkan rubrik kajian soal pemikiran Gus Dur “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” yang ditulis oleh intelektual Nahdlatul Ulama, Irwan Masduqi (Mizan, 2011). Berikut uraiannya:

                            *****

Seperti William James dalam “Varieties of Religious Experience”, Gus Dur menyadari bahwa pengembaraan intelektualnya merupakan pengalaman pribadi yang unik dan tidak akan pernah dirasakan atau dialami orang lain. Orang lain pasti memiliki pengalaman yang berbeda sesuai pengembaraannya.

Apakah pengembaraan Gus Dur berakhir pada eklektisisme yang berwatak kosmopolitan, sedangkan pengembaraan orang lain membawa hasil yang berbeda, hal itu bukanlah persoalan bagi Gus Dur. Pengalaman pribadi orang tidak akan pernah sama dengan pengalaman orang lain.

Dengan demikian, Gus Dur merasa harus menghormati keberagamaan pengalaman itu dan toleran terhadap pemikiran orang lain. Pengalaman Gus Dur tinggal di Mesir, Bagdad, Belanda, Jerman dan Prancis, diakui atau tidak, telah ikut memperkaya wawasannya tentang modernitas Barat.

>> KHAS – Gus Dur, Gus Mus dan Keilmuan dalam Islam

Pengalaman tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan pemikiran Gus Dur yang tradisionalis sekaligus modernis. Sinergi beragam wawasan dari pelbagai sumber dan peradaban tersebut menjadikan Gus Dur sebagai sosok ideal yang mengapresiasi tradisi kuno yang baik sekaligus sudi mengadopsi nilai-nilai modern yang lebih baik [al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi jadid al-aslah].

Gus Dur akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa Islam yang dipikirkan dan dialaminya dalam proses pencarian intelektual adalah sesuatu yang khas, yang dia sebut dengan “Islamku”, hingga wataknya patut dipahami sebagai pengalaman pribadi dan dihargai orang lain tanpa memiliki kekuatan pemaksa.

Gus Dur tidak ingin memaksakan Islam versinya, sebab jika dipaksakan akan mengakibatkan dislokasi pada diri orang lain. Jika ada “Islamku” versi Gus Dur yang merupakan hasil pencarian dan pengembaraan, maka di pihak lain ada “Islam Anda” yang kadang berdiri di atas pengalaman atau keyakinan tentang kebenaran yang tak terbantahkah.

Bagi Gus Dur, kebenaran yang diperoleh semata-mata karena keyakinan adalah bukan sebuah pengalaman. Nah, dalam perbedaan antara “Islamku” dan Islam Anda”, orang-orang sering memaksakan  kehendaknya sendiri dan menganggap pandangan yang dikemukakannya sebagai satu-satunya kebenaran.

Cara seperti ini dinilai oleh Gus Dur tidaklah rasional dan intoleran. Toleransi memang mengizinkan seseorang menawarkan pandangannya kepada orang lain, tetapi dengan syarat tanpa ada paksaan untuk menerimanya.

Di tengah-tengah perbedaan, kaum Muslimin harus memikirkan masa depan Islam dan kepentingan bersama. Dari sanalah akan terumuskan “Islam Kita” yang mencakup “Islamku” dan “Islam Anda”. Namun, untuk merumuskan “Islam Kita” dinilai sulit oleh Gus Dur, sebab pengalaman yang membentuk “Islamku” dan “Islam Anda” sangat berbeda.

Di sinilah muncul kecenderungan “Islam Kita” yang hendak dipaksakan oleh sekelompok orang berideologi Islam. Bagi Gus Dur, pemaksaan kehendak dalam bentuk pemaksaan penafsiran merupakan tindakan yang bertentangan dengan demokrasi.

Kelompok Islam terus-menerus memaksakan ideologi Islam politik mereka sebagai ideologi negara Indonesia yang majemuk ini.  Gus Dur menghimbau agar Muslimin di Indonesia memprioritaskan hal-hal yang menjadi keprihatinan bersama untuk membangun “Islam Kita” dengan sukarela tanpa ada pemaksaan pandangan dan primordialisme doktrin agama.

Inilah gagaran toleransi yang diperjuangkan Gus Dur, sebuah prinsip yang mendorongnya menentang semua bentuk intoleransi dan kekerasan atas nama agama.[]

>> KHAS– Kang Said: Hingga Kini, Gus Dur Belum Ditanya Malaikat

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *