Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 06 August 2016

KHAS–Kang Said: ‘Hingga Kini, Gus Dur Belum Ditanya Malaikat’


GUS DUR

IslamIndonesia.id – KHAS– Kang Said: Hingga Kini, Gus Dur Belum Ditanya Malaikat

 

Hastag #HarlahGusDur turut meramaikan jagad media sosial ketika berbagai lapis masyarakat mengenang milad KH. Abdurahman Wahid kemarin, 4 Agustus. Mulai kerabat terdekat, sahabat, penggemar hingga pembaca karya-karyanya berbagi file tentang presiden Indonesia ke-4 itu.

“Gus Dur ajarkan berpolitik tidak harus selalu kaku dan tegang. Berpolitik serius bisa dengan asa yang rileks humoris. Nasihatnya saya jalankan,” kata Walikota Bandung Ridwan Kamil via akun pribadinya diakhiri dengan #HarlahGusDur, 4/8.

Kata-kata sederhana, jenaka dan sarat makna hingga foto-foto kenangan pribadi bersama sosok kiai yang wafat 6 tahun lalu itu dipublikasikan berbagai akun media sosial. Adalah wajar, di dunia nyata pun, kompleks makam pria yang pernah menjadi nahkoda ormas Nahdatul Ulama ini tak pernah sepi dari peziarah. Jika jumlah peziarah di hari biasa hingga 5000 kepala per hari, menjelang Ramadhan jumlahnya bisa dua kali lipat, kata Pengurus Ponpes Tebuireng, Lukman Hakim, pada Mei silam.

Karena itu, KH. Said Aqil Sirajd sempat berkata di acara Halal bi Halal NU, bahwa hingga kini, Malaikat Munkar dan Nakir belum bisa bertanya ke Gus Dur. Mendengar itu, suasana Halal bi Halal di Puro Pakualaman Yogyakarta itu menjadi hening seketika. Ketua Umum PBNU ini lalu melanjutkan dengan sebuah hadist yang mengatakan bahwa, setelah orang wafat dimakamkan, para pengiringnya pulang sejauh tujuh langkah, kuburan sepi, barulah Mungkar dan Nakir datang untuk menjalankan tugasnya.

“Lah, Gus Dur tidak pernah sepi kuburannya, sejak beliau dikubur hingga sekarang,” katanya disambut tawa hadirin. Dengan nada canda Kang Said menambahkan, “Mungkar, Nakir masih nunggu hingga sekarang. Ngantri. (Sembari bertanya-tanya) kapan kuburan Gus Dur sepi?”

Cucu pendiri Nahdatul Ulama KH. Hasyim As’ary itu lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah, 1940 . Berbagai jenjang pendidikan dalam dan luar negeri, formal maupun non-formal ditempuh oleh Abdurahman Wahid semasa hidupnya. Ditambah dengan kecintaanya membaca buku sejak kecil menjadikan kecerdasan Gus Dur, kata KH. Sahal Mahfudh, di atas kebanyakan orang.

Karena itu, gagasan dan sikapnya pun tidak jarang dianggap kontroversial. Meski demikian, tidak sedikit kontribusinya sebagai intelektual, agamawan, aktivis sosial,  hingga menjadi orang nomor satu di negeri ini dapat dirasakan hingga kini. Bahkan, mengingat personalitinya yang khas, Gus Dur kian dikenang oleh orang-orang yang mengenal rekam jejaknya.

“Met ultah Gus. Saya mau ngadu: sebagian (masyarakat) bangsamu masih melihat keanekaragamannya sebagai beban, karena kurang humor dan kurang gaul sepertimu,” kicau @budimansudjatmiko. []

 

YS/IslamIndonesia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *