Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 04 August 2016

TANGGAPAN—Menjawab Keraguan: Berapa Umur Nabi Nuh Sebenarnya?


Menjawab Keraguan Berapa Umur Nabi Nuh Sebenarnya

IslamIndonesia.id—Menjawab Keraguan: Berapa Umur Nabi Nuh Sebenarnya?

 

Tanpa disangka-sangka sebelumnya, ternyata banyak komentar dan tanggapan yang masuk ke redaksi Islam Indonesia terkait beberapa tulisan yang membahas hal-ihwal Nabi Nuh.

Di antara komentar dan tanggapan tersebut, ada sebagian yang bernada apatis—kalau tak dapat disebut melecehkan, menganggap seolah keseluruhan isi tulisan terkait Nabi Nuh—sama sekali, atau tak sedikit pun mengandung kebenaran yang bisa dicerna dengan akal sehat. Dengan kata lain, semua itu tak lebih hanya otak-atik gathuk belaka, hanya rekaan ngawur, khayal tanpa bukti dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak komentar dan tanggapan, ada pula salah satu pertanyaan yang paling banyak dilontarkan pembaca: berapa tahun sih sebenarnya usia Nabi Nuh? Benarkah 950 tahun sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an? Ataukah yang disebutkan dalam Al-Qur’an itu hanya terbatas pada masa dakwahnya saja, dan bukan masa hidup Nabi Nuh secara keseluruhan?

Pertanyaan lain: kenapa Al-Qur’an menggunakan istilah 1000 tahun kurang 50 tahun? Apa pula maksud pembedaan antara “sanah” dan “’aam”, yang merupakan sinonim kata tahun?

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dalam Az Zuhd, 358, dengan sanadnya dari Anas bin Malik, berkata, “Malaikat maut pernah mendatangi Nabi Nuh as dan berkata, ‘Wahai Nabi yang paling panjang umurnya! Bagaimana Anda mendapati dunia dan kenikmatannya?’ Beliau menjawab, ‘Seperti seseorang yang mempunyai sebuah rumah dengan dua pintu, lalu ia berdiri di tengah rumahnya sejenak, kemudian ia keluar dari pintu yang lain’.”

Terdapat banyak pendapat yang bersumber dari para Ulama Salaf, kalangan Sahabat dan Tabi’in, yang tak ditemukan penetapannya, baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah untuk menentukan mana yang benar di antara beberapa pendapat tersebut.

Tanpa bermaksud menganggap sebagai yang paling mewakili kebenaran, akan kami sebutkan beberapa pendapat berikut ini, terkait rentang masa hidup dan masa dakwah Nabi Nuh, baik sebelum maupun pasca peristiwa Banjir Besar, sekadar untuk menambah pengetahuan kita.

Pendapat Pertama: Umur Nabi Nuh adalah 950 tahun.

Ini adalah pendapat Qatadah yang disebutkan dalam Tafsir Qur’an ‘Adzim Ibnu Katsir: 6/268. Qatadah berkata, “Dikatakan bahwa umur Nabi Nuh 1000 tahun dikurangi 50 tahun. Sementara beliau sudah bersama kaumnya sebelum memulai dakwahnya selama 300 tahun. Masa dakwahnya 300 tahun, dan beliau masih bersama kaumnya pasca banjir bandang selama 350 tahun”.

Hal yang sama juga disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya: 18041.

Pendapat Kedua: Umur Nabi Nuh adalah 1050 tahun.

Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abbas.

Dari Ibnu Abbas ra, berkata, “Allah mengutus Nabi Nuh semenjak beliau berumur 40 tahun, dan masa dakwahnya 1000 tahun kurang 50 tahun, dan pasca banjir bandang beliau masih hidup selama 60 tahun sampai populasi manusia bertambah banyak dan menyebar”.

Pendapat ini disebutkan oleh as Suyuthi dalam Ad Durrul Mantsur: 6/455, termasuk Ibnu Abi Syaibah 7/18, Abdun bin Hamid, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Abu Syeikh dan al Hakim 9/251, dan dishahihkan oleh Ibnu Mardawaih.

Pendapat Ketiga: Umur Nabi Nuh adalah 1020 tahun.

Pendapat ini disampaikan oleh Ka’ab al Ahbar.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam At Tafsir: 18043, “Abu Zar’ah meriwayatkan kepada kami dari Shafwan dari al Walid dari Rafi’ Ismail bin Rafi’ dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Ka’ab Al Ahbar mengenai firman Allah: “…Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun…”. (QS. al Ankabut: 14). Bahwa Ka’ab bin Ahbar berkata, “Beliau hidup setelah itu 70 tahun lagi.”

Pendapat Keempat: Umur Nabi Nuh adalah 1400 tahun.

Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga Wahab bin Munabbih dalam Tafsir Al Qurthubi: 13/332.

Pendapat Kelima: Umur Nabi Nuh adalah 1650 tahun.

Ini adalah pendapat ‘Aun bin Abi Syadad.

Dari ‘Aun bin Abi Syadad berkata, “Sesungguhnya Allah –tabaraka wa ta’ala- mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya pada saat usia beliau mencapai 153 tahun. Kemudian masa dakwah beliau 1000 tahun kurang 50 tahun. Setelah masa itu beliau hidup selama 153 tahun.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At Tafsir: 18044, dan At Thabari dalam Jami’ al Bayan: 20/17.

Pendapat Keenam: Umur Nabi Nuh adalah 1700 tahun.

Pendapat ini disampaikan oleh ‘Ikrimah.

Dari ‘Ikrimah ra, berkata, “Bahwa umur Nabi Nuh sebelum diutus kepada kaumnya dan setelah diutusnya adalah 1700 tahun.” (Disebutkan as Suyuthi dalam Ad Durrul Manstur: 6/456, dari Abdun bin Hamid.

Manakah di antara pendapat tersebut yang dianggap paling mendekati kebenaran?

Ibnu Katsir dalam Tafsir Qur’an ‘Adzim: 6/268, setelah menyebutkan semua pendapat di atas menyatakan bahwa pendapat Ibnu Abbas lebih mendekati kebenaran.

Adapun berkenaan dengan pemilihan istilah atau penggunaan kata “sanah” dan “’aam”, para ahli tafsir juga berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Setidaknya ada dua pendapat yang cukup dikenal di kalangan para Ulama Tafsir.

Pendapat Pertama: “Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa hal tersebut hanya perbedaan dari sisi bahasa saja, karena pengulangan kata yang sama akan memberatkan pembacanya, maka yang dipakai adalah kata yang lain namun artinya sama saja; untuk memudahkan pembacanya.”

Pendapat Kedua: Az Zamakhsyari berkata dalam Al Kasysyaf: “Jika saya berkata: Kenapa ‘tamyiz’ (istilah gramatika bahasa Arab) yang pertama dengan kata ‘sanah’ dan yang kedua dengan kata ‘’aam’? Maksudnya adalah: karena pengulangan kata yang sama dalam satu konteks pembicaraan hendaknya dihindari kalau dilihat dari sisi ilmu Balaghah, kecuali apabila pengulangan itu untuk tujuan tertentu yang digunakan oleh pembicara untuk penebalan kata, peringatan atau untuk catatan tertentu atau tujuan yang lain.”

Penjelasan serupa juga terdapat dalam At Tahrir wat Tanwir: 20/146.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari banyaknya pendapat terkait rentang masa hidup Nabi Nuh?

Sebagai Muslim yang bijaksana, alangkah baiknya bila kita lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat maknawiyah dan pandai mengambil pelajaran dari apa yang telah berlaku terhadap Nabi Nuh dan kaumnya. Sehingga dengan sikap yang demikian, akan mendorong kita untuk memiliki tekad yang kuat dalam beramal.

Jadi, tidak selayaknya kita hanya menyibukkan diri dengan rincian sejarah yang pada kenyataannya memang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an, dan belum kita temukan sandaran dalil yang kuat, baik dalam Hadis maupun Riwayat.

Begitulah, masalah umur Nabi Nuh as banyak mengandung hikmah dan pelajaran. Rentang masa hidup yang mencakup beberapa abad yang panjang, yang beliau manfaatkan untuk berdakwah kepada kaumnya, menyeru mereka kepada-Nya. Menjaga mereka dari azab Allah dan mengharapkan bagi mereka rahmat-Nya. Dalam hitungan hampir 1000 tahun, beliau tetap bersabar dalam dakwahnya, tidak putus asa dan menyerah dalam mengemban amanah dari Allah meskipun berulangkali mendapatkan penolakan dari kaumnya. Alih-alih menghentikan tugas sucinya, beliau bahkan tetap berharap agar kaumnya mendapatkan hidayah Allah meskipun membutuhkan waktu yang lama. Tak ada keluhan apalagi penyesalan, meski dalam rentang hampir 1000 tahun dakwahnya, pengikut yang benar-benar percaya pada ajaran kebenaran yang beliau sampaikan, konon tak lebih dari 80 orang, atau jika lebih dari itu, paling maksimal hanya 100 orang saja.

Bukankah keteguhan, kesabaran, ketelatenan dan sikap pantang menyerah yang dilandasi keimanan yang kuat dalam menyampaikan kebenaran itu, sangat layak menjadi pelajaran penting dan tauladan bagi para dai atau juru dakwah di masa kita saat ini?

Di sisi lain, pelajaran penting yang dapat kita petik adalah menyangkut kematian. Bahwa kematian itu akan menghampiri siapapun, tak peduli apakah umur yang bersangkutan sangat panjang, hingga mencapai angka ribuan tahun. Yang terpenting adalah, bagaimana kita mampu memanfaatkan umur tersebut, yang pada hakikatnya tak lebih dari kumpulan hari-hari yang setiap saat akan berlalu dengan bergantinya siang dan malam. Maka alangkah beruntungnya manusia, baik yang berumur pendek maupun panjang, asal saja mereka mampu mengisinya dengan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Sehingga dengan upaya itu, mereka berpeluang mendapatkan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *