Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 08 September 2016

KHAS—Meresapi Makna Syiir Tanpo Waton Karya Gus Nizam As Shofa (Bagian Kedua)


Meresapi Makna Syiir Tanpo Waton Karya Gus Nizam As Shofa (Bagian Kedua)

IslamIndonesia.id—Meresapi Makna Syiir Tanpo Waton Karya Gus Nizam As Shofa (Bagian Kedua)

 

Setelah kita resapi makna Syiir Tanpo waton pada bait-bait awal dalam tulisan terdahulu, Meresapi Makna Syiir Tanpo Waton Karya Gus Nizam As Shofa (Bagian Pertama), maka pada pada bait-bait selanjutnya, kita diajak untuk selalu mengingat dan tidak lupa bahwa kewajiban mengaji Al-Qur’an dan mengkaji agama, mesti dibarengi dan dilengkapi dengan segenap paranatanya. Hal ini perlu dilakukan agar iman dan tauhid kita semakin meningkat kadarnya, sehingga bisa menjadi bekal yang memadai saat kematian tiba.

Ayo sedulur jo nglaleake
(Ayo saudara jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane
(Wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)
Nggo ngendelake iman tauhide
(Untuk mempertebal iman tauhidnya)
Baguse sangu mulyo matine
(Bagusnya bekal mulia matinya)

Lalu apa saja syarat minimal yang mesti dipenuhi agar kita layak disebut sebagai insan shaleh itu? Insan shaleh tak lain adalah mereka yang baik hatinya, mapan dan lengkap ilmunya. Orang yang shaleh adalah mereka yang tekun dan rajin, disiplin dalam menjalankan laku tarekat dan makrifat sehingga ilmu hakikat meresapi kalbunya.

Kang aran sholeh bagus atine
(Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune
(Karena mapan lengkap ilmunya)
Laku thoriqot lan ma’rifate
(Menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Ugo haqiqot manjing rasane
(Juga hakikat meresap rasanya)

Selain itu, Syiir Tanpo Waton juga mengingatkan kita tentang posisi Al-Qur’an sebagai wahyu mulia yang datang dari Allah SWT. Wahyu yang diibaratkan sebagai perintah tak tertulis namun bisa dibaca (dipahami), yang layak menjadi pedoman hidup bagi kita semua, terlebih karena Al-Qur’an itu merupakan petuah yang ditancapkan langsung oleh Sang Guru Mumpuni ke dalam dada. Hingga menempel di hati dan pikiran, merasuki keseluruhan jiwa dan badan. Itulah Al-Qur’an, mukjizat Rasul sekaligus pedoman dan sarana bagi menghunjamnya iman.

Al Qur’an qodim wahyu minulyo
(Al Qur’an qodim wahyu mulia)
Tanpo tinulis biso diwoco
(Tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito
(Itulah petuah guru mumpuni)
Den tancepake ing jero dodo
(ditancapkan di dalam dada)

Kumantil ati lan pikiran
(Menempel di hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
(Merasuk dalam badan dan seluruh hati)
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
(Mukjizat Rasul (Al-Qur’an) jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman
(Sebagai sarana jalan masuknya iman)

Selanjutnya, Syiir Tanpo Waton juga mengajak kita pada laku ibadah yang berkesinambungan, dengan ibarat terhubung dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT Yang Maha Suci sepanjang waktu, pagi, siang dan malam. Dengan kesungguhan dan keikhlasan, seraya tak lupa berzikir dan menempuh jalan pendekatan atau suluk kepada-Nya tanpa henti.

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
(Kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi
(Harus mendekatkan diri siang dan malam)
Ditirakati diriyadohi
(Diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ikhlas)
Dzikir lan suluk jo nganti lali
(Dzikir dan suluk jangan sampai lupa)

Maka dengan segala daya-upaya yang telah dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh itu diharapkan agar hidup kita terasa aman, sebagaimana pertanda kehidupan mereka yang beriman. Yakni mereka yang senantiasa tetap mampu bersabar dan bersyukur dalam kondisi hidup pas-pasan, karena yakin sepenuhnya bahwa itulah takdir yang telah ditetapkan Tuhan.

Uripe ayem rumongso aman
(Hidupnya tenteram merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman
(Mantapnya rasa tandanya beriman)
Sabar narimo najan pas-pasan
(Sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking Pangeran
(Semua itu adalah takdir dari Tuhan)

Di bait-bait terakhir, Syiir Tanpo Waton kembali mengajak kita agar menjalani kehidupan yang senantiasa rukun tanpa pertengkaran, baik dengan sesama teman, saudara, maupun tetangga. Karena hidup damai dalam prinsip rahmatan lil ‘alamin itu sesungguhnya merupakan Sunnah Rasul mulia, Nabi panutan dan teladan kita dalam berakhlak; akhlak dalam berteman, bersaudara, bertetangga dan bermasyarakat.

Kelawan konco dulur lan tonggo
(Terhadap teman, saudara dan tetangga)
Kang podho rukun ojo dursilo

(Yang rukunlah jangan bertengkar)
Iku sunnahe Rosul kang mulyo
(Itu sunnahnya Rosul yang mulia)
Nabi Muhammad panutan kito
(Nabi Muhammad tauladan kita)

Di bait-bait akhir, Syiir Tanpo Waton menegaskan kepada kita bahwa semua amalan mulia itu sungguh layak dilakukan keseluruhannya tanpa keraguan sedikitpun, dengan keyakinan penuh bahwa dengan semua itulah maka Allah akan berkenan mengangkat derajat kita. Betapapun rendahnya kondisi lahiriah kita dalam pandangan manusia, tapi insya Allah, Dia yang akan meninggikan maqam kita di hadapan-Nya.

Ayo nglakoni sakabehane
(Ayo jalankan semuanya)
Alloh kang bakal ngangkat drajate
(Allah yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan asor toto dhohire
(Walaupun rendah tampilan lahiriahnya)
Ananging mulyo maqom drajate
(Namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)

Akhirnya, ketika akhir hidup kita telah tiba, dan saatnya kita kembali menghadap ke haribaan-Nya, maka insya Allah roh dan sukma kita takkan tersesat, melainkan Allah berkenan menempatkan kita di surga-Nya. Bahkan dalam kondisi utuh jasad dan kain kafan kita, sebagaimana jasad para wali dan kekasih-Nya. Wallahu ‘a’lam…

Lamun palastro ing pungkasane
(Ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)
Ora kesasar roh lan sukmane
(Tidak tersesat roh dan sukmanya)
Den gadang Alloh swargo manggone
(Dirindukan Allah surga tempatnya)
Utuh mayyite ugo ulese
(Utuh jasadnya juga kain kafannya)

Demikianlah kurang-lebihnya, makna-makna mendalam yang terkandung dalam Syiir Tanpo Waton yang dapat kami bagi dengan pembaca.

Menilik keistimewaan kandungannya yang berupa tuntunan luhur bagi kehidupan Muslim dan Mukmin sejati, alangkah baiknya bila Syiir Tanpo Waton tersebut kita jadikan piwulang atau petuah hidup bagi anak-cucu kita. Setidaknya sebagai warisan berharga bagi mereka dalam menjalani hidupnya di dunia.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *