Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 09 July 2016

Ledakan Bom Saat Idul Fitri di Irak dan Paham Salafi-Takfiri


xx

IslamIndonesai.id – Ledakan Bom Saat Idul Fitri di Irak dan Paham Salafy-Takfiri

 

BENARKAH SALAFY-TAKFIRI MENDUKUNG SERANGAN ISIS?

Hanya beberapa hari pasca-serangan bom di kota Baghdad yang menelan ratusan nyawa di malam Idul Fitri, Irak kembali berkabung setelah kawasan makam di utara Baghdad, kamis kemarin (7/6), dibombardir kelompok militan ISIS.  Sedikitnya 35 penduduk sipil tewas dan 60 lainnya terluka akibat serangan mematikan di kawasan padat peziarah itu.

Tidak hanya itu, sejumlah orang yang diidentifikasi dari kelompok ISIS menyerang masuk dari salah satu sisi makam dan menembak para peziarah lepas ledakan terjadi. Seperti dikutip Reuters, pelaku lainnya meledakkan bom di tengah kerumunan peziarah yang masih merayakan hari raya Idul fitri itu.

Total korban tewas dari bom Baghdad hingga kemarin mencapai sedikitnya 292 jiwa. Banyaknya jumlah korban jiwa di pusat keramaian kota Baghdad itu juga disebabkan meledaknya truk berisi bahan plastik yang disengaja pelaku bom bunuh diri. Sedikitnya empat bangunan hancur bahkan sebagian di antaranya rubuh.

Tragedi ‘Black Idul Fitri’ ini, oleh sebagaian analis, disebut sebagai serangan paling mematikan di Irak sejak 2007. Lalu, apa sebenarnya motif di balik serangan keji yang melenyapkan ratusan nyawa orang yang tak berdosa ini? Bagaimana mungkin seorang yang mengaku memiliki hati nurani melakukan tindakan bak binatang buas yang memangsa kerumunan orang yang sedang merayakan Idul Fitri bersama keluarganya?

Meminjam kata-kata KH. Mustafa ‘Gus Mus’ Bisri, bagaimana kita menyebut Muslim orang yang melecehkan kesucian Islam?  Bagaimana kita menyebut manusia orang yang tidak menghargai manusia?

Cukup sulit memang, apalagi dipandang dari sisi Islam yang membawa rahmat bagi seluruh semesta. Atau sejarah dakwah damai para wali di Nusantara ini. Namun, juga tidak bisa dipungkiri, di berbagai mazhab atau agama ada saja orang-orang yang berpandangan garis keras. Tidak terkecuali dalam umat Islam dengan berbagai mazhab di dalamnya. Sikap tertutup, menolak perbedaan, gemar mengkafirkan, mensesatkan, di antara ciri-ciri kaum ekstrimis. Tidak hanya itu, mereka juga tidak segan melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain atas nama agama.

Tengoklah dua anak kembar di Hamra, Saudi, yang telah menikam ayah dan adiknya bahkan membunuh ibunya karena dilarang berjihad ke Suriah. Keduanya, sebagaimana diberitakan sebelumnya, diduga simpatisan kelompok militan ISIS.  Jika benar mereka juga Muslim, pertanyaan selanjutnya, kacamata apa yang digunakan sehingga begitu gemar melakukan pembunuhan seperti di Irak? Ulama Saudi yang juga Eks Imam Besar Masjidil Haram Syekh ‘Adil  Al-Kalbani menyatakan secara terang-terangan bahwa ISIS lahir dari paham Salafisme. (Baca juga: ANALISIS–Mantan Imam Besar Masjidil Haram Akui ISIS sebagai Produk Salafi)

Berbeda dengan orang-orang yang berpendapat bahwa ISIS bukan Islam, Al-Kalbani menyatakan bahwa ulama Saudi dan dunia Islam “harus menghadapinya dengan jujur dan transparan.” Memang jika ditelusuri, sejumlah kitab klasik di dunia Islam, seperti Ibnu Taymiyah, menjadi sandaran atau inspirasi bagi prilaku ekstrimis dalam tubuh Islam hingga kini.

Sebut misalnya dalam kitab Kumpulan Fatwa Ibnu Taimiyah yang menyatakan orang balig dan meninggalkan shalat wajib atau rukun-rukunnya harus diminta bertobat. Jika tidak mau, boleh dibunuh. (Baca juga: Media Arab Saudi: Pemikiran Ibnu Taimiyah Memicu Pembunuhan Anak atas Keluarganya)

Tak heran jika, seperti disebutkan media setempat, aparat kepolisian Saudi menemukan sejumlah buku-buku Ibnu Taimiyah dalam kamar dua anak kembar yang telah membunuh ibunya dan menikam ayah serta adiknya itu.

Tidak cukup dengan ulama klasik, mungkin ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al-Qardhawi juga bisa menjadi contoh dinamika dalam Islam. Pasca tragedi ledakan di Turki, Madinah, dan Irak, Qardhawi justru berbicara tentang absahnya bom bunuh diri. Baginya, aksi meledakkan diri sendiri dengan pertimbangan berjamaah adalah absah. Sontak, pernyataan Qardhawi menuai kecaman, khususnya di media sosial. (Lihat juga: VIDEO–Pembenaran Syekh Al-Qardhawi atas Bom Bunuh Diri)

Ulama atau kitab-kitab seperti ini yang dinilai bagian dari energi idiologis kaum ekstrimis dimana sebagian mereka bersembunyi dibalik label Salafy. Doktrin yang mengajarkan pemurnian agama atau kembali kepada salaf.  Seperti makna literalnya, Salaf – yang artinya ‘berlalu’- diatributkan bagi para tabi’in, ulama terdahulu (salaf), atau para pendiri mazhab. Sayangnya, salaf yang begitu luas maknanya tereduksi hingga sesempit ulama terdahulu versi mereka.

Jika sebagian pesantren Nahdiyin – yang cukup tua – di Indonesia adalah pesantren salafy, mengapa ziarah kubur, tawassul, maulid senantiasa dikafirkan oleh mereka yang juga mengklaim sebagai pengikut salaf? Bahkan di Yogyakarta, salah satu makam padat peziarah berhasil dirusak oleh mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya keragaman warna dalam Islam Salafy. Karena itulah, untuk membedakan dari salaf yang lain, salafy yang gemar mengkafirkan disebut sebagai Salafy-Takfiri.

‘Beruntung’, mereka belum membunuh sekeji memborbadir para peziarah makam di Irak. Namun jika kebhinekaan sebagai jiwa bangsa ini semakin rapuh, tidak mustahil sel-sel Salafy-Takfiri berkembang begitu masif di tubuh umat Muslimin Indonesia. Lagi-lagi, bom bunuh diri yang menyerang Mapolres Surakarta menjelang Idul Fitri kemarin menjadi alarm keras bagi masa depan Islam Indonesia.[]

 

YS/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *