Satu Islam Untuk Semua

Monday, 02 May 2016

BUKU – Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus


8184_10201480811337714_8486326309486864387_n

IslamIndonesia.id – BUKU — Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus

 

Sewaktu kuliah di Al-Azhar,  Mesir, Gus Dur tiba-tiba mengundang banyak temannya untuk pesta makan. Menu  khusus  yang dimasak sendiri oleh Gus Dur adalah Sop Ceker dan Kepala Ayam.  Semua senang dan melahapnya hingga kenyang.

“Gus, bagaimana Sampeyan bisa mendapat ceker dan kepala ayam sebanyak ini?”

“Tadi di pasar saya bilang ke penjual ayam, ‘Minta ceker dan kepalanya buat kucing-kucing saya di rumah!’”

Sejak itu, ceker dan kepala ayam di pasar-pasar Mesir tak lagi gratis.

Sepenggal kisah di atas dituturkan langsung oleh sahabat dekat Gus Dur, KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri kepada K.H. Husein Muhammad. Dengan bahasa tutur yang ringan, ilustrasi tokoh, dan beberapa komik, Kiai Husein mengajak pembaca seolah dibawa langsung bertatap muka dengan sang tokoh.

covNA-113-200x300

“Karena kedekatan Gus Mus dan Kiai Husein dengan Gus Dur, gambaran Gus Dur yang muncul dalam percakapan pun terasa sangat riil sebagai sosok. Kita patut berterima kasih kepada Kiai Husein atas buku ini, karena ‘sejarah pinggiran’ NU yang direkam dalam ingatan Gus Mus akhirnya dapat dituliskan,” kata Alissa Wahid, putri KH. Abdurahman Wahid, Presiden Indonesia ke IV, menyambut buku ‘Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus’ yang diterbitkan Noura Books ini .

Kedekatan Gus Dur dan Gus Mus memang terlihat dari berbagai kisah perjalanan hidup dan interaksi keduanya. “Dari dulu aku selalu memanggilnya “Mas”. Sementara beliau – rahimahullah – dulu memanggilku “Mus”. Setelah berkeluarga, beliau mengganti ‘M’ menjadi ‘G’,” kata Gus Mus setelah mengunggah puisi “Bagaikan Berhala” disertai foto kenangan dirinya dan eks ketua PBNU itu di akun pribadinya pada haul Gus Dur tahun lalu, 30/12.

Sebagaimana Gus Mus dan Gus Dur yang pernah menimba ilmu di Al Azhar Mesir, penulis buku  ini  juga pernah nyantri di universitas Islam tertua itu. Selain mengasuh Ponpes Dar al-Tauhid Cirebon, pria yang disebut Gus Mus sebagai ‘kiai romantis idola kaum hawa’ juga mendirikan sejumlah lembaga swadaya masyarakat untuk isu-isu Hak-hak Perempuan, antara lain Rahima, Puan Amal Hayati, Fahmina Institute dan Alimat.

Akhirnya, buku yang telah diterbitkan sejak November 2015 ini dapat menjadi semacam panduan bagi siapa pun yang ingin tahu sosok Gus Dur yang sesungguhnya. Gus Dur, lebih dari yang diduga banyak orang, masih menyimpan cerita-cerita yang …  ah, silakan baca saja buku setebal 212 halaman ini. []

 

Bagaikan berhala
ia diserbu berjuta orang
yang berebut menyembah atau meludahinya
ia sendiri seperti tidak peduli
seperti chairil anwar dalam sajaknya aku
mau hidup seribu tahun lagi
bagaikan binatang jalang
yang terus meradang menerjang
membawa berlari luka dan bisa
ia malah tak menunggu hilangnya pedih peri
aku pun bertanya apa yang kau rasakan, saudaraku?
ia hanya melambaikan bendera merahputih
dan menunjuk ke atas
lalu tertawa keras-keras
sebelum gerimis kemudian
mengaburkan pandangan.

(Gus Mus, Rembang 1431/2009)

 

Edy/ Islam Indonesia/ berbagai sumber/ Foto: facebook.com/simbah.kakung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *