Satu Islam Untuk Semua

Friday, 05 April 2019

TASAWUF – Bersuluk Tanpa Mursyid, Bolehkah?


Islamindonesia.id – TASAWUF – Bersuluk Tanpa Mursyid, Bolehkah?

Secara umum, mursyid dipercaya sebagai sosok wali Allah yang tidak selalu nampak sebagai wali. Hal ini karena banyak di antara wali Allah yang mastur alias tersembunyi.

Dalam sejarah tasawuf, sosok yang memimpin tarikat atau organisasi kesufian disebut mursyid. Organisasi ini memiliki praktik suluk yang khas sehingga setiap tarikat memiliki praktik suluk yang berbeda satu dengan lainnya.

“Mursyid membimbing agar para anggota tarikat menjalankan suluk dengan benar,” kata Penulis Epistemologi Tasawuf, Haidar Bagir, dalam kajian di Pesantren Tasawuf Virtual Nur Al-Wala, 28 Maret. “Hal ini disebabkan sang mursyid dipercaya telah menyelesaikan perjalanan suluknya.”

[Baca juga: TASAWUF – Suluk Menurut Imam Al-Ghazali ]

Karena itu, di mata Haidar, orang yang menjalani suluk sebaiknya memiliki mursyid. Hanya saja, mencari mursyid bukan pekerjaan mudah.

Ada orang yang mengklaim dirinya mursyid namun pada hakikatnya belum memenuhi persyaratan. “Tapi kalau kita menemukan mursyid yang memenuhi persyaratan tentu itu lebih baik bagi kita memiliki mursyid,” ujarnya.

Salah satu cara mencari mursyid, menurut sebagian sufi, ialah dengan membuka hati. Dengan hati yang terbuka, Allah akan memberikan petunjuk untuk menemukan mursyid di bumi yang dijanjikan oleh Allah tidak pernah kosong dari wali-wali Allah.

Lalu bagaimana jika seorang telah berupaya mecari mursyid namun tidak menemukannya? Apakah ia tidak boleh melakukan suluk?

Menurut Haidar, jawabannya beragam. Ada yang berpendapat secara ketat, orang yang menjalani suluk harus memiliki mursyid. Namun ada juga yang berpandangan, pesuluk minimal memiliki pembimbing andai tidak menemukan mursyid. “Pembimbing ini paling tidak memiliki ilmu Tasawuf,” katanya.

Sebagian lagi berpendapat, seorang boleh saja menjalani suluk dengan mengikuti kitab metode suluk yang telah ditulis oleh para sufi besar. Salah satu contohnya, kitab Manazilu Sairiin karya Khwaja Abdullah Ansari. “Tentu kitab ini sebaiknya dibaca dengan bimbingan seorang guru karena kitab ini bukan karya yang terlalu mudah untuk dipahami,” katanya.

Pandangan lainnya bersandar pada keyakinan bahwa manusia-manusia pilihan Allah seperti nabi, wali Allah dan para syuhada senantiasa hidup meskipun raganya telah mati. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 169 disebutkan, mereka sesungguhnya tidak mati. Karena itu, menurut golongan ini, sesungguhnya seseorang masih dapat menerima bimbingan dari manusia-manusia pilihan itu meskipun fisik mereka telah tiada.

[Baca juga: Zuhud, Salah Satu Rukun Suluk ]

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *