Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 17 July 2016

TASAWUF—Zuhud, Salah Satu Rukun Suluk


Zuhud Salah Satu Rukun Suluk

IslamIndonesia.id—Zuhud, Salah Satu Rukun Suluk

haidar-bagir-baru

Oleh: Haidar Bagir

Ada empat rukun suluk. Pertama, Zuhud (mencegah diri dari berlebihan mengonsumsi yang halal). Kedua, membatasi bicara pada hal-hal yang perlu dan baik (al-shamth). Ketiga, mengurangi tidur (al-sahr). Dan yang keempat, membatasi pergaulan dengan orang banyak (khalwat atau ‘uzlah).

Di bawah ini ajaran Nabi dan para sufi tentang yang pertama dari keempat rukun tersebut.

Zuhud, Dunia, dan Keduniaan

Rasulullah saw menyatakan: “Dunia adalah ladang bagi akhirat.” Amir Al-Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib, khalifah yang biasa digelari Penghulu Orang-Orang Miskin (Imam Al-Masakin), yang kepadanya hampir semua silsilah tarekat tasawuf bersumber berkata: “Sesungguhnya dunia ini adalah rumah kebenaran bagi orang-orang yang menelitinya secara cermat dan mendalam, suatu tempat tinggal yang penuh kedamaian dan kerehatan bagi orang-orang yang memahaminya, dan yang terbaik sebagai lahan bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal bagi kehidupan akhirat. Inilah tempat untuk mencari ilmu dan hikmah bagi orang-orang yang ingin meraihnya, tempat beribadah bagi sahabat-sahabat Allah dan bagi para malaikat. Inilah tempat yang di dalamnya para nabi menerima wahyu dari Sang Rabb. Inilah pula tempat bagi para wali Allah untuk menyelenggarakan amal-amal baik dan untuk meraih imbalan yang setimpal; hanya di dunia ini mereka bisa berdagang untuk memperoleh rahmat Allah, dan hanya ketika hidup di sini mereka bisa menukar amal-amal baik mereka dengan surga. Nah, setelah ini semua, masihkah ada yang akan bicara tentang keburukan dunia ini?”

Menurut Ibn Arabi, dunia ini adalah tempat kita diberi pelajaran dan harus menjalani ujian. Ambillah yang kurang daripada yang lebih di dalamnya (demi memastikan kita tak melanggar batas). Puaslah dengan apa yang kamu miliki, betapapun yang kamu miliki itu kurang daripada yang lain. Tapi dunia itu tidak buruk. Sebaliknya, ia ladang bagi hari akhirat. Apa yang kamu tanam di dunia ini, akan kamu panen di akhirat nanti. Dunia adalah jalan menuju kebahagiaan puncak, dan karena itu baik, layak untuk dipuji dan dielu-elukan untuk kehidupan akhirat.

Yang buruk, lanjut Ibn Arabi, adalah jika apa yang kamu perbuat untuk duniamu itu mennyebabkan kamu buta terhadap kebenaran—oleh nafsumu dan ambisi terhadap dunia. Nabi Muhammad saw suatu kali ditanya, “Apa arti keduniawian itu?” Beliau menjawab, “Segala sesuatu yang menyebabkan engkau mengabaikan dan melupakan Tuhanmu.”

Imam Ghazali mengatakan, jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haji harus merawat untanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktunya untuk merawat unta itu, memberi makan dan menghiasinya, maka kafilah (rombongan) akan meninggalkannya. Dan ia akan mati di gurun pasir. Artinya, kita bukan tidak boleh merawat kebutuhan fisik kita, tapi yang tidak boleh adalah kita tenggelam di dalamnya.

Imam Al-Ghazali pun pernah bertanya, “Apakah harta itu membuatmu gelisah? Orang yang hatinya terganggu oleh harta belumlah menjadi seorang sufi”.

Seorang sufi lain, Hâtim Al-Asham diriwayatkan pernah pula mengucap: “Barang siapa mengakui tiga hal tanpa tiga hal maka ia adalah pendusta. Barang siapa mengaku mencintai Allah tanpa bersikap hati-hati (wara‘) terhadap apa-apa yang diharamkan-Nya, maka ia berdusta. Barang siapa mengaku mencintai surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia berdusta. Dan barang siapa mengaku mencintai Nabi saw tanpa mencintai kaum papa (fakir), maka ia berdusta.”

Ketika menceritakan ciri-ciri seorang faqir atau sufi, dalam buku klasiknya ‘Awârîf Al-Ma‘ârif, Abu Najib Suhrawardi mengungkapkan secara tepat keharusan memelihara keseimbangan yang subtil antara zuhud dan penerimaan terhadap kesenangan-kesenangan duniawi yang proporsional: “(Seorang faqir atau sufi) mesti meninggalkan gagasan tentang kepemilikan duniawi, hidup dalam penuh keserasian dengan saudara-saudaranya .… Dermawan, ramah dan santun, berwatak pertengahan …; selalu menampilkan wajah yang penuh senyum; menerapkan keadilan yang setinggi-tingginya terhadap saudara-saudaranya …; memelihara keseimbangan yang pas antara zuhud ekstrem dan hidup terlalu enak.”

 

AJ&EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *