Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 13 December 2018

Opini – Perundingan Damai Yaman: Selama Barat Mendukung Saudi, Konflik tidak akan Berakhir


Yemeni fighters gather in Sanaa to show support for the Huthi Shiite movement against the Saudi-led intervention in the capital Sanaa on September 27, 2018. (Photo by Mohammed HUWAIS / AFP)

islamindonesia.id – Perundingan Damai Yaman: Selama Barat Mendukung Saudi, Konflik tidak akan Berakhir

 

Oleh Abdulaziz Kilani | Editor Media Elektronik Sharq Wa Gharb

 

Sudah hampir empat tahun sejak perang sipil Yaman dimulai, dan perundingan damai akhirnya terjadi di Swedia.

Perundingan itu dilakukan saat Hodeidah, kota terbesar keempat di Yaman, sedang mengalami pertempuran sporadis, meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah sepakat untuk menghentikan penyerangan.

“Masa depan Yaman ada di tangan kita di ruangan ini,” kata utusan khusus PBB Martin Griffiths dalam pidato pembukaannya pekan lalu. “Lembaga-lembaga negara sedang rapuh, pecahnya negara adalah sesuatu yang sangat harus diperhatikan, dan kita harus bertindak sekarang sebelum kita (kehilangan) kendali atas masa depan Yaman.”

 

Penyelesaian Internal

Untuk dapat menyelenggarakan perundingan ini saja sudah merupakan prestasi tersendiri. Utusan khusus memiliki tugas yang sulit dalam usahanya untuk membangun kepercayaan dan konsensus di antara pihak yang bertikai. Tetapi apakah perundingan ini akan menghasilkan resolusi yang dapat mengakhiri konflik?

Muhammad Al-Bakhiti, anggota biro politik Houthi, menyatakan keraguannya, dia mengatakan kepada MEE bahwa pemerintah (Yaman) di pengasingan tidak memiliki kendali terhadap agenda (perundingan): “Mekanisme yang diadopsi oleh PBB salah karena ia memaksa kita bernegosiasi dengan partisan yang tidak memiliki keputusan di tangannya.” Al-Bakhiti menekankan bahwa pemerintahan Presiden Abd Rabbou Mansour Hadi (Presiden Yaman yang didukung oleh Arab Saudi dan sekarang sedang berada di Arab Saudi setelah melarikan diri dari Yaman-pen) memiliki kepentingan dalam keberlangsungan perang.

Baca juga:

Dalam pandangan al-Bakhiti, harus ada dua pendekatan paralel untuk perdamaian di Yaman. Pertama, dengan membangun dialog Yaman-Yaman (sesama orang Yaman) yang tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan tentang pembentukan otoritas transisional yang disepakati semua pihak. Badan ini nantinya akan menjalankan kekuasaannya atas semua gubernur, melindungi semua warga negara, dan mewakili Yaman dalam pertemuan-pertemuan internasional.

Pendekatan kedua adalah memulai pembicaraan dengan “pihak-pihak agresor” – Saudi dan Uni Emirat Arab – untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menghentikan blokade.

Saleh al-Humaidi, wakil menteri informasi di pemerintahan Hadi, mengatakan kepada MEE bahwa dia yakin perundingan itu sedang “menuju ambiguitas dan komplikasi lebih lanjut”. Isu-isu yang telah dibahas dalam perundingan, seperti tahanan, pelabuhan dan bandara, bukanlah hal yang paling penting, katanya, dia menekankan bahwa salah satu persoalan kunci adalah bagaimana membuat Houthi agar mau menyerahkan senjata mereka dan menerapkan resolusi PBB 2216 .

Pesimisme seperti itu menunjukkan bahwa kedua belah pihak mungkin tidak berangkat dengan sukarela ke perundingan ini. Sebaliknya, tampaknya pemain utama lah (Arab Saudi, Iran, dan AS) yang mendorong mereka di balik layar untuk mau hadir.

 

Korban sipil

Salah satu alasan mengapa pertempuran di Yaman terus berlanjut adalah bahwa pihak yang bertikai tidak mengakui legitimasi satu sama lain – namun, pada saat yang bersamaan, koalisi pimpinan Saudi terus meningkatkan konflik.

Sejak perang dimulai, pihak koalisi telah membombardir rumah sakit, pesta pernikahan, pemakaman, dan target non-militer lainnya, mengakibatkan banyaknya korban sipil yang berjatuhan.

Seorang warga Yaman melihat sisa-sisa reruntuhan bekas serangan pasukan koalisi dalam upacara pemakaman di Sanaa pada 16 Februari 2017. Photo: Mohammed Huwais/ AFP

Seorang warga Yaman melihat sisa-sisa reruntuhan bekas serangan pasukan koalisi dalam upacara pemakaman di Sanaa pada 16 Februari 2017. Photo: Mohammed Huwais/ AFP

Baca juga:

Menurut Armed Conflict Location & Event Data Project, lebih dari 57.000 orang – baik warga sipil maupun kombatan – telah terbunuh di Yaman sejak awal tahun 2016. Data dari sembilan bulan pertama perang bahkan jumlah totalnya dapat mencapai hingga 80.000 orang, sebagaimana dikatakan salah seorang peneliti dalam proyek tersebut kepada kantor berita Associated Press. Pada saat yang bersamaan, penyakit seperti kolera telah menyebar ke seluruh negeri.

Di tengah-tengah latar belakang seperti ini, agar perundingan damai dapat tercapai, pertempuran harus dihentikan terlebih dahulu. Resolusi tidak dapat disepakati apabila pertempuran masih berlangsung.

Orang-orang Yaman sudah merasa cukup, dan mereka ingin perang ini berakhir sekali dan untuk selamanya. Hanya ketika konflik yang sedang berlangsung dihentikan, maka pihak-pihak yang bertikai dapat duduk di meja perundingan untuk membahas jalan negara ke depan.

 

Apakah ada kemungkinan berakhir?

Bisa jadi hal ini tidak ada dalam benak pihak yang bertikai. Pemain eksternal utama dalam konflik terus membuat kekacauan di seluruh Yaman; jika mereka tidak mundur selangkah dan menyerahkan keputusannya kepada orang-orang Yaman, maka akan sulit untuk membayangkan bahwa perang dapat berakhir dalam waktu dekat.

Sejarah tidak akan berpihak kepada mereka yang mengejar agenda politik tersendiri dengan mengorbankan mayoritas rakyat Yaman. Jika AS mau menghentikan dukungannya untuk koalisi yang dipimpin Saudi, maka ini akan menjadi langkah signifikan untuk mengakhiri bencana Yaman. Selama koalisi mendapat dukungan sekutu Barat terkuatnya, konflik akan terus meningkat.

Apa yang dipertaruhkan adalah masa depan Yaman dan rakyatnya. Mereka adalah orang-orang yang harus memutuskan jalan mereka sendiri ke depan. Kekuatan mereka terletak pada persatuan di antara mereka sendiri.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: MEE

One response to “Opini – Perundingan Damai Yaman: Selama Barat Mendukung Saudi, Konflik tidak akan Berakhir”

  1. ainun says:

    memang seharusnya gak usah berunding, houthi mau berunding itu kan mulai terpojok di hodeidah, padahal sebelumnya houthi selalu koar2 menolak berunding, . houthi yg sblmnya koar2 menolak brunding, dan skrg mau brunding, itu jls strategi utk menutup malu jika, houthi klah di hodeidah. Sudah saatnya saudi menuntaskan perang Yaman dengan mengusir houthi dari Sanaa. Daerah lain di Yaman jg msh aman, faktanya Habib Rizieq bolak balik ke Yaman,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *