Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 20 January 2018

Perang Sipil Yaman: Apa dan Siapa?


SANAA, YEMEN - MAY 11: Fire and smoke rise after Saudi-led warplanes bombed weapon storage sites held by Shiite Houthi militant group in Yemeni capital Sanaa on May 11, 2015. (Photo by Mohammed Hamoud/Anadolu Agency/Getty Images)

islamindonesia.id – Perang Sipil Yaman: Apa dan Siapa?

 

Lebih dari 8.600 orang terbunuh dan 49.000 orang terluka semenjak pecahnya perang di Yaman pada Maret tahun 2015. Dilansir dari bbc.com, kebanyakan dari mereka terbunuh atau pun terluka karena serangan udara dari pasukan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Konflik dan blokade yang dilakukan oleh pasukan koalisi terhadap Yaman juga menyebabkan krisis pangan terbesar di dunia yang mengakibatkan sebanyak 20 juta warga Yaman terancam kematian. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan, bahwa dengan hancurnya infrastruktur sipil, blokade makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, Yaman telah jatuh ke dalam situasi bencana kemanusiaan.

Korban kelaparan di Yaman. PBB mengklasifikasikan kelaparan di Yaman sebagai bencana kemanusiaan terbesar. Photo: AFP

Korban kelaparan di Yaman. PBB mengklasifikasikan kelaparan di Yaman sebagai bencana kemanusiaan terbesar. Photo: AFP

Bagi sebagian orang, apa yang terjadi di Yaman cukup membingungkan, terlebih berita-berita di dalam negeri muncul dengan banyak versi yang dibumbui dengan keberpihakkan tertentu. Artikel ini mencoba untuk menjabarkan runutan peristiwa yang terjadi di Yaman beserta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dengan harapan khalayak dapat memahami apa yang terjadi secara lebih menyeluruh.

 

Awal Mula Konflik

Konflik di Yaman terjadi karena gagalnya proses transisi politik dari Presiden Ali Abdullah Saleh ke Abdrabbuh Mansour Hadi pada November 2011. Saleh sebelumnya dilaporkan sebagai seorang Presiden yang autokratis dan telah memimpin Yaman dari sejak tahun 1978. Sementara, Hadi sebelumnya adalah deputi dari Presiden Saleh sendiri.

Presiden Ali Abdullah Saleh bersama Raja Abdullah bin Abd al-Aziz berjabat tangan sebelum dimulainya KTT Arab di Riyadh tahun 2007. Photo: Amr Nabil/Associated Press

Presiden Ali Abdullah Saleh bersama Raja Abdullah bin Abd al-Aziz berjabat tangan sebelum dimulainya KTT Arab di Riyadh tahun 2007. Photo: Amr Nabil/Associated Press

Beriringan dengan peristiwa Arab Spring di beberapa negara Arab, Hadi berhasil mengambil kesempatan mengambil alih kepemimpinan dan menggeser posisi Saleh. Namun transisi ini tidak berjalan mulus seperti yang dikira. Setelah naik ke tampuk kekuasaan Hadi mesti berhadapan dengan persoalan-persoalan dalam negeri seperti serangan Al-Qaeda, bangkitnya gerakan separatis Sunni di Yaman Selatan, terbagi duanya loyalitas di kubu militer, korupsi, kesulitan pangan, dan pengangguran.

Abdrabbuh Mansour Hadi. Photo: AFP

Abdrabbuh Mansour Hadi. Photo: AFP

Dalam situasi seperti itu, gerakan Houthi yang digawangi oleh minoritas muslim Syiah di Yaman mengambil alih bagian utara Provinsi Saada dan daerah-daerah di sekitarnya. Sementara itu, sebagian warga Yaman lainnya yang kecewa dengan pemerintahan Hadi—termasuk Sunni—mendukung dan bergabung dengan gerakan Houthi.

Kombatan Houthi. Photo: Reuters

Kombatan Houthi. Photo: Reuters

Dilaporkan oleh The Sun, di masa 10 tahun terakhir pemerintahan Saleh, Houthi tercatat beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap Saleh. Tetapi walaupun demikian, setelah Saleh digulingkan, Saleh diduga menjalin komunikasi dengan Houthi, dan kemudian pada akhirnya, pada Juni 2015, seperti dilaporkan oleh Al-Jazeera, secara terang-terangan Saleh mengakui bahwa dirinya membangun aliansi dengan Houthi.

Pada tahun 2014, Houthi yang dipimpin oleh Abdul-Malik Badreddin al-Houthi mulai memasuki kota Sanaa, kota terbesar dan pusat pemerintahan Yaman. Di sana mereka memblokade jalanan dan mendirikan kamp-kamp. Dan pada Januari 2015, Houthi mengambil alih sepenuhnya Sanaa dan mengepung rumah kepresidenan dan tempat-tempat kunci pemerintahan. Dengan situasi seperti itu, otomatis Hadi dan jajaran kabinetnya menjadi tahanan rumah.

Pada bulan Februari 2015, Hadi berhasil melarikan diri ke kota pelabuhan selatan Aden. Bulan selanjutnya, Maret 2015, Houthi bersama kubu militer yang loyal terhadap Saleh berusaha untuk mengambil alih seluruh Yaman. Dengan situasi seperti itu, Hadi tidak mempunyai pilihan lain selain melarikan diri. Kali ini Hadi melarikan diri ke luar negeri, dengan menggunakan kapal laut Hadi tiba di Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi. Bersamaan dengan itu, Saudi memulai serangan besar-besaran dengan bom ke Yaman dalam rangka mendukung  pemerintahan Hadi.

April 2015, pasukan Saudi bersiap menembakkan roket dari Jizan ke arah Yaman. Jarak tempuh roket tersebut mencapai 30 km. Photo: Carolyn Cole/Los Angeles Times/Polaris

April 2015, pasukan Saudi bersiap menembakkan roket dari Jizan ke arah Yaman. Jarak tempuh roket tersebut mencapai 30 km. Photo: Carolyn Cole/Los Angeles Times/Polaris

 

Perkembangan Perang

Pada September 2015, dengan didukung oleh pasukan Arab Saudi dan koalisi, Hadi kembali ke Aden dan mengambil alih kembali kota tersebut. Pasukan koalisi mendapat dukungan logistik dan intelijen dari negara-negara besar, yaitu Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Inggris. Sampai dengan sekarang, peperangan di Yaman masih terus berlanjut dan terus memakan korban yang sangat banyak dari pihak rakyat sipil.

Juli 2015, Sanaa, warga setempat beserta anggota gerakan Houthi membersihkan puing-puing bangunan bersejarah di kota tua yang hancur akibat misil dari pesawat tempur Saudi. Salah seorang Houthi memperlihatkan photo sebelum bangunan tersebut hancur. Photo: Sebastiano Tomada/Getty Reportage

Juli 2015, Sanaa, warga setempat beserta anggota gerakan Houthi membersihkan puing-puing bangunan bersejarah di kota tua yang hancur akibat misil dari pesawat tempur Saudi. Salah seorang Houthi memperlihatkan photo sebelum bangunan tersebut hancur. Photo: Sebastiano Tomada/Getty Reportage

Pihak-pihak yang pro dengan pemerintahan Hadi—yang  terdiri dari loyalis kubu militer Hadi dan pasukan Sunni dari Selatan Yaman yang sebelumnya adalah gerakan separatis—berhasil mengambil alih kembali Aden dengan bayaran yang sangat mahal, dalam waktu 4 bulan saja, ribuan rakyat sipil mati terbunuh.

Pihak Hadi secara terang-terangan didukung oleh Arab Saudi dan koalisi yang juga didukung oleh negara-negara barat. Sementara di pihak Houthi, banyak pihak menilai bahwa mereka didukung oleh Iran. Dilaporkan oleh Huffingtonpost, gerakan Houthi diduga merupakan bentuk proxy war  dari Iran terhadap Saudi.

Iran sendiri menyangkal tuduhan tersebut, dan bahkan mereka menyatakan tidak membenarkan tindakan Houthi yang mengambil alih Sanaa. Pihak intelijen AS juga menyatakan bahwa Iran tidak terlibat dalam perang Yaman. Juru bicara National Security Council AS, Bernadette Meehan, mengatakan, “Ini tetap menjadi penilaian kami, bahwa Iran tidak memberikan perintah dan kontrol atas Houthi di Yaman.”

Selama 2,5 tahun sejak serangan Saudi dan koalisi ke Yaman, PBB sudah sebanyak tiga kali mengupayakan perjanjian damai di antara pihak-pihak terkait, dan ketiga-tiganya berakhir dengan kegagalan, dan perang masih tetap berlanjut sampai hari ini.

Keadaan bertambah buruk bagi masyarakat sipil dengan hadirnya pasukan jihadis Al-Qaeda dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang memanfaatkan kekacauan yang terjadi di sana. Mereka melancarkan serangan-serangan mematikan terhadap pemerintahan Hadi dan mengambil alih beberapa daerah di bagian selatan Yaman. AS sendiri berkepentingan terhadap dua organisasi teroris di atas, dilaporkan oleh Newsline, pada Maret 2017, AS melakukan serangan udara terhadap basis-basis teroris di Yaman.

Peta kekuatan di Yaman. Infograpik: Al-Jazeera

Peta kekuatan di Yaman. Infograpik: Al-Jazeera

Kemudian berita mengejutkan datang ketika Saleh dilaporkan tewas terbunuh pada 10 Desember 2017. Al-Jazeera memberitakan bahwa dua hari sebelum Saleh terbunuh, dia membuat pernyataan di televisi bahwa aliansinya dengan Houthi telah berakhir dan dia siap membuka komunikasi dengan Saudi.

Sementara di pihak Houthi, melalui jaringan televisi Houthi, mengatakan bahwa apa yang terjadi terhadap Saleh dikarenakan pengkhianatan yang dilakukan olehnya, “ini (terjadi) setelah dia dan orang-orangnya memblokade jalan dan membunuh warga sipil dalam sebuah kolaborasi yang jelas dengan musuh dari negara-negara koalisi (Saudi dan sekutu).”

Saleh, bagaimanapun sebelumnya adalah orang yang sangat berkuasa di Yaman, bahkan setelah dia digulingkan dari kursi kepresidenan pendukung fanatiknya masih cukup banyak. Dengan tewasnya Saleh, otomatis peta pertarungan di Yaman akan berubah drastis. Bagi pihak Houthi, tewasnya Saleh berarti berakhirnya dualisme kepemimpinan di kubu mereka. Aliansi Saleh dan Houthi sebelumnya dinilai rapuh karena mereka memiliki agenda kepentingan yang berbeda.

Perang Yaman tampaknya masih jauh dari berakhir, sementara masyarakat sipil non-kombatan meregang nyawa akibat perang dan kesulitan pangan serta obat-obatan.

 

PH/Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *