Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 10 February 2019

Liputan Khusus – PVV, Partai Anti Islam Belanda Pencetak Mualaf (2)


islamindonesia.id – PVV, Partai Anti Islam Belanda Pencetak Mualaf (2)

 

Ketika Arnoud Van Doorn masih di PVV, dia mendapat tugas untuk menjadi promotor film Fitna. “Saya bertanggungjawab untuk, bukan produksi sesungguhnya, tapi distribusi dan promosi film Fitna ke seluruh dunia. Saya malu untuk mengatakannya, tapi waktu itu saya merasa sangat bangga.

“Saya kira saya telah melakukan sesuatu yang baik, saya telah melawan ketidakadilan, dan saya sangat percaya bahwa itulah tujuan hidup saya. Dan saya mengajak orang-orang di sekitar saya, ‘kemari dan bergabung denganku,’ partai ini akan menyelesaikan semua masalah, dan mereka memerangi Islam,” kata Doorn dalam sebuah audiensi di Maladewa pada tahun 2015.

Van Doorn mengisahkan, “Sejujurnya, saya pikir ada perang dari dunia terhadap Islam. Saya pikir saya harus berbuat sesuatu terhadap ini, si agama setan. Itulah ide saya 10 tahun yang lalu. Saya memutuskan saya harus berbuat sesuatu untuk melindungi masyarakat dari setan ini, dari bahaya ini.

“Dan saya bergabung dengan PPV, sebuah partai yang sangat anti Islam, Islamophobia, di Belanda, yang dipimpin oleh Geert Wilders yang terkenal. Pada saat itu saya berpikir dia adalah teladan saya, pahlawan, karena dia berdiri menantang Islam, karena dia berdiri membela kebebasan kita, dan saya berpikir, inilah orang yang harus saya ikuti.”

Baca juga:

Namun suatu waktu van Doorn berpikir, “Bagaimana mungkin begitu banyak orang di dunia yang 1,2 milyarnya adalah muslim, dan mereka terlihat bahagia. Bagaimana itu mungkin? Apakah mereka benar-benar sesat?”

“Saya benar-benar tidak mengerti. Dan saya mulai meragukan apa yang saya baca dan dengar sebelumnya tentang Islam. Dan saya mulai berpikir, ini tidak benar bahwa Islam itu buruk, setan, mungkin Islam berbahaya, mungkin salah, tapi pikiranku mulai bergeser.”

Kemudian beberapa teman van Doorn memberitahu bahwa dia kurang informasi tentang Islam dan menyarankannya untuk mendatangi masjid dan berbicara dengan Imamnya. Waktu itu van Doorn menjawab, “Tidak, tidak, tidak, saya tidak akan pernah pergi ke tempat setan, saya tidak akan pernah berbicara dengan orang-orang mengerikan itu. Mungkin mereka akan membunuh saya.”

Namun bagaimanapun pikiran itu tetap menghampirinya, dia mulai meragukan gerakan anti Islam. Dan itu terus semakin menguat dan menguat lagi, van Doorn sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.

Pada akhirnya van Doorn tetap berangkat ke masjid atas ajakan kawannya yang Muslim yang berjanji akan melindungi dia selama di masjid, “Baiklah saya ikut denganmu, tapi hanya lima menit saja!” ujar Doorn dengan ketakutan.

Tibalah akhirnya van Doorn di masjid yang besar, di sana dia sangat terkejut, karena orang-orang menyambutnya dengan bersahabat. “Imam masjid datang kepadaku, dan memegang tanganku sambil berkata ‘selamat datang’.”

Ketika melihat mata Imam tersebut van Doorn tahu bahwa Imam tersebut tulus. Pada saat itu Doorn merasa bahwa kejadian itu adalah kejadian paling emosional, karena segala sesuatunya bertolak belakang dengan apa yang dia pikirkan selama ini. “Setelah begitu banyak apa yang saya dan partai saya perbuat, bagaimana mungkin mereka bisa begitu bersahabat?” ujarnya kepada diri sendiri.

Nasib berkata lain, Doorn yang tadinya berniat hanya menghabiskan waktu selama 5 menit di masjid, malah menghabiskan waktu selama 2,5 jam bertanya-tanya tentang Islam. Mereka berbicara tentang Nabi Muhammad, Al-Quran, Hadist, Sunnah, dan segala sesuatu tentang Islam.

Pulang dari masjid Doorn tidak langsung ke rumah, dia menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk berjalan kaki seperti orang kebingungan. Kepalanya penuh sekali dengan ide-ide tentang Islam yang terus bersahutan.

Sampai di rumah dia mulai berpikir, “Ini tidak bagus, mereka telah mengerjai saya, mereka telah memanipulasi pikiran saya, saya telah dicuci otak, sudahlah lupakan saja semua ini, saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana,” ujarnya kepada diri sendiri. Hasilnya? Beberapa minggu kemudian van Doorn malah kembali lagi ke masjid.

Bersambung ke bagian 3.

 

PH/IslamIndonesia/Photo: Omroep West

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *