Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 09 February 2019

Liputan Khusus – PVV, Partai Anti Islam Belanda Pencetak Mualaf (1)


geert wilders

islamindonesia.id – PVV, Partai Anti Islam Belanda Pencetak Mualaf (1)

 

Belum lama ini media lokal dan internasional ramai-ramai memberitakan tentang mantan politisi PVV, Joram van Klaveren, yang sebelumnya anti Islam malah memutuskan untuk masuk Islam.

Judul artikel ini diilhami oleh kata-kata yang disampaikan oleh Arnoud van Doorn, senior van Klaveren di PVV yang lebih dahulu masuk Islam pada tahun 2013. Setelah mengetahui van Klaveren mengikuti jejaknya untuk masuk Islam, di dalam akun Twitter-nya van Doorn berkata, “Tidak pernah menyangka bahwa #PVV akan menjadi kolam pembiakan untuk konversi (ke Islam-red).”

Sebelum mengulas kedua tokoh di atas, kita akan membahas terlebih dahulu tentang PVV (Partij voor de Vrijheid) – artinya Partai Kebebasan. PVV didirikan di Belanda pada tahun 2006 oleh Geert Wilders, seorang politisi sayap kanan Belanda yang secara terang-terangan menyatakan anti Islam. PVV pernah mengajukan sebuah usulan untuk melarang Alquran dan menutup semua masjid di Belanda.

“Ideologi Islam memiliki tujuan utama penghancuran apa yang paling kita sayangi, yaitu kebebasan kita,” tulis Geert Wilders di De Volkskrant, sebuah media di Belanda.

Pada kesempatan lain, pada tahun 2013, dilansir dari Huffington Post, Wilders juga pernah mengatakan bahwa tidak ada yang namanya “Islam Moderat”, bahkan apabila Nabi Muhammad sekarang masih hidup, dia akan diburu sebagai teroris. Dia juga menentang apa yang dia sebut dengan gerakan “Islamisasi Eropa” dan menyerukan untuk pelarangan Al-Quran di Eropa. Wilders menganggap bahwa Al-Quran sama dengan buku karangan Hitler yang berjudul ‘Mein Kampf’.

Namun dari semuanya, yang paling menyorot perhatian adalah ketika Wilders pada tahun 2008 mempublikasikan sebuah film pendek dengan durasi 17 menit yang berjudul “Fitna”. Film itu dipublikasikan di Internet dan isinya membahas hal-hal buruk tentang Islam.

Fitna menggambarkan Islam sebagai agama yang mempromosikan tentang kekerasan dan terorisme. Beberapa ayat di dalam Al-Quran sengaja dipilih untuk menghubung-hubungkan Islam dengan kekerasan. Pada bagian lain bahkan Nabi Muhammad SAW digambarkan sedang menaruh bom di atas kepalanya.

Film tersebut mengundang reaksi keras dari Muslim dan aktivis anti-rasialisme di berbagai belahan penjuru dunia. Di Belanda sendiri—yang merupakan tempat di mana film itu diproduksi—sekitar seribu orang turun ke jalan untuk memprotes. “Kami tidak bisa lagi diam. Ada iklim kebencian dan ketakutan di Belanda,” kata Rene Danen, juru bicara organisasi anti-rasisme Nederland Bekent Kleur, yang menyelenggarakan demonstrasi tersebut, sebagaimana dilansir dari BBC.

Sementara itu di Paskitan, berdasarkan laporan kepolisian setempat, dilaporkan sekitar 25.000 orang turun ke jalan untuk memprotes. Sementara panitia penyelenggara demonstrasi mengklaim bahwa demonstran yang hadir lebih dari 100.000 orang. Sekitar 5.000 aktivis dari partai agama Jamaat-e-Islami (JI) juga turut ambil bagian.

Di dalam demonstrasi tersebut, pemimpin mereka, Munawar Hasan, memegang Al-Quran di satu tangan dan satu pedang di tangan lainnya, menirukan gambar dalam film tersebut. Dia mengatakan orang-orang yang menghina umat Islam harus dinyatakan sebagai teroris.

“Ini kebebasan untuk memprovokasi, kebebasan untuk menghasut. Kebebasan ini bukan untuk menyakiti orang, bukan untuk menyakiti sentimen,” kata Hasan sebaimana dilaporkan dari Spiegel. Majelis tinggi parlemen Pakistan menyatakan mengecam film tersebut yang dianggap sebagai upaya untuk memfitnah Islam dan mempromosikan kebencian.

Di Indonesia sendiri film tersebut mengundang berbagai gelombang protes yang sporadis di berbagai daerah. Pelaku demonstrasi di antaranya terdiri dari mahasiswa dan berbagai ormas Islam. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Sumatra Utara dilaporkan mendatangi Kantor Konsulat Belanda di Jalan Mongonsidi, Medan, Sumut. Pengunjuk rasa datang dengan membawa poster yang berisi kecaman atas film Fitna yang dinilai telah melecehkan dan menghina Islam. Sementara di Jakarta sekitar 50 orang anggota Front Pembela Islam (FPI) melancarkan aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda.

Meski mendapat kecaman dari berbagai penjuru dunia, Wilders tidak berhenti sampai di sana. Pada tahun 2018, Wilders yang kini hidupnya berada dalam perlindungan sepanjang waktu karena ancaman kematian yang dipicu oleh retorika anti-Islamnya yang keras, hendak menyelenggarakan Kontes Kartun Nabi Muhammad.

Acara tersebut pada akhirnya dibatalkan karena seorang pemuda Afghanistan berusia 19 tahun melakukan aksi penusukan terhadap dua turis asal Amerika Serikat di stasiun pusat Amsterdam, sebagaimana dilansir dari The News.

Kembali kepada kisah Arnoud van Doorn, pada saat film Fitna dipublikasikan, dia adalah orang penting PVV, dan juga salah satu penasihat politik Geert Wilders. Selain itu, dia juga mendapat tugas untuk menjadi promotor film Fitna.

Yang mengejutkan, beberapa tahun setelahnya van Doorn justru menyatakan masuk Islam, ini adalah tamparan keras yang pertama bagi PVV.

Nantikan kelanjutan kisahnya pada bagian ke-2 artikel ini.

Bersambung….

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *