Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 13 November 2018

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 4)


Pernikahan Ali dan Fatimah 4

islamindonesia.id – Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 4)

 

Pesta Perkawinan

Rasulullah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, untuk perkawinan, harus ada walimah.” Maka berkatalah Sa’ad, “Aku mempunyai seekor domba.” Lalu sekelompok orang Anshar mengumpulkan beberapa sha’ bumbu untuknya.

Ali bercerita, “Rasulullah mengambil sepuluh dirham dari uang yang telah diserahkannya kepada Ummu Salamah. Beliau menyerahkannya kepadaku seraya mengatakan, ‘Belilah minyak samin, kurma, dan keju.’ Aku pun membelinya dan membawanya ke tempat beliau. Lalu beliau menyingsingkan tangannya dan meminta tempat makanan dari kulit. Beliau memotong kurma dan minyak samin dan mencampurnya dengan keju sampai menjadi hais (jenis makanan). Kemudian beliau mengatakan, ‘Wahai Ali, undanglah orang-orang yang engkau sukai.’

“Aku pun berangkat ke masjid. Sahabat-sahabat Rasulullah banyak di sana. Aku berkata, ‘Pergilah ke tempat Rasulullah.’ Mereka semua berangkat ke tempat Rasulullah. Aku berkata kepada Rasulullah bahwa orang yang datang banyak. Beliau lalu menutupi tempat makanan dengan sapu tangan dan berkata kepadaku, ‘Masukkan mereka ke sini sepuluh orang-sepuluh orang.’ Aku melakukannya. Mereka pun makan lalu keluar, dan makanan tidak kurang.”

Nabi sendiri yang menuangkan makanan, sedangkan Abbas, Hamzah, Ali, dan Aqil menyambut orang-orang yang datang. Kemudian Rasulullah meminta piring-piring, lalu mengisinya dengan makanan untuk orang-orang miskin di Madinah yang tidak menghadiri walimah. Kemudian beliau mengambil sebuah piring dan mengatakan, “lni untuk Fatimah dan suaminya.”

 

Perkawinan

Nabi SAW menyuruh istri-istrinya untuk menghias Fatimah dan memberinya wewangian. Selanjutnya, beliau memanggil Fatimah dan Ali. Beliau memegang Ali dengan tangan kanannya dan Fatimah dengan tangan kirinya, dan menyatukan keduanya di dadanya. Setelah itu, beliau mencium di antara mata keduanya, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di tangan Ali seraya mengatakan, “Semoga Allah memberkahimu, wahai Ali, bersama putri Rasulullah. Sebaik-baik istri adalah Fatimah. Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah Ali.”

Kemudian, Rasulullah SAW menyuruh putri-putri Abdul Muthalib dan wanita-wanita Muhajirin maupun Anshar untuk menemani Fatimah. Mereka disuruh bergembira, melagukan syair-syair, bertakbir, bertahmid, dan tidak berkata-kata melainkan sesuatu yang diridai oleh Allah. Wanita-wanita itu pun bertakbir lalu masuk ke dalam rumah.

Selanjutnya, Rasulullah meminta sebuah bejana yang berisi air. Setelah ada, beliau memanggil Fatimah. Beliau mengambiI air tersebut dan menyiramkannya di atas kepala Fatimah, kemudian mengambilnya lagi dan memercikkannya di kulitnya. Beliau meminta lagi bejana yang lain untuk Ali, dan melakukan terhadapnya sebagaimana yang dilakukannya terhadap Fatimah.

Setelah itu, beliau menyuruh mereka berdua berwudu dan beliau pun hendak pergi. Hati Fatimah merasa terkait kepada ayahnya. Dia pun menangis. Maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Aku telah menikahkanmu dengan orang yang paling murah hati dan paling banyak ilmunya.” Rasulullah kemudian pergi dari tempat mereka berdua. Dan, sambiI berpegang pada sisi pintu, beliau berkata, “Semoga Allah menyucikan kalian berdua dan menyucikan keturunan kalian. Aku akan menghormati orang yang menghormati kalian berdua dan akan memerangi orang yang memerangi kalian. Aku titipkan kalian berdua kepada Allah.” Setelah berkata demikian, beliau menutup pintu dan menyuruh para wanita untuk keluar. Mereka pun keluar.

Ketika hendak keluar, Rasulullah melihat seorang wanita. “Siapa engkau?” tanya Rasulullah.

“Asma’,” jawab wanita itu.

“Bukankah aku telah memintamu untuk keluar?”

“Ya, Rasulullah. Aku tidak bermaksud menentangmu, tetapi aku telah berjanji kepada Khadijah. Menjelang wafatnya, dia menangis. Aku bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau pemimpin wanita di seluruh alam, istri Nabi, dan melalui lisannya engkau telah diberi kabar gembira akan masuk surga?’ Dia menjawab, ‘Bukan karena itu aku menangis. Namun, seorang wanita pada malam perkawinannya membutuhkan wanita lain yang akan memberitahukannya dan membantunya untuk keperluan-keperluannya. Fatimah masih anak-anak. Aku takut jika saatnya tiba nanti tidak ada yang mengurus urusannya.’ Aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai Nyonya. Aku berjanji kepadamu, jika aku masih ada saat itu, aku akan menggantikan kedudukanmu dalam urusan ini.’.”

Mendengar cerita itu, Rasulullah menangis. “Karena inikah engkau tetap berada di sini?” tanya beliau.

”Ya, demi Allah,” jawabnya.

Rasulullah pun mendoakannya.

 

Hari Pertama

Rumah yang kecil itu, kini menjadi saksi kasih sayang seperti dalamnya lautan. Sebuah kasih sayang yang suci seperti tetesan-tetesan embun. Kasih sayang yang meluap seperi mata air yang tumpah ruah.

Di rumah itu, Fatimah tidak memiliki bantal yang empuk dan kelezatan yang bisa dirasa. Namun, dia memperoleh hati yang hangat di sisinya. Hati yang selalu berdetak penuh kasih sayang dan kecintaan.

Di rumah yang baru itu, Fatimah sama sekali tidak memiliki intan dan permata yang bertaburan. Namun, dia mendapatkan seorang manusia yang memiliki nilai-nilai langit yang bercahaya dan rahmat yang berkilauan.

Fatimah mendapatkan sesuatu. Tepat saat seorang wanita mencarinya di kedalaman relung hatinya. Semuanya dia dapatkan dari sosok Ali.

Ali pun menyaksikan cahaya kasih sayang ibu dalam figur Fatimah karena Az-Zahra adalah keseluruhan kasih sayang dan kelembutan. Ali merasakan Fatimah sebagai teman perjalanan yang baik karena Fatimah penuh dengan kecintaan dan kasih sayang. Ali mendapatkan kesuburan dan kehidupan dalam diri Fatimah karena Fatimah adalah kautsar-nya Muhammad.

Ali menyentuh tangan Fatimah. Fatimah menundukkan kepalanya. Terdiam dengan wajah merona merah menyambut tangan Ali. Para malaikat Allah mengucapkan selamat atas pertemuan dua sejoli ini. Kini keduanya—yang memiliki sifat-sifat Hawa dan Adam—telah membangun keberadaan yang baru.

Bersambung ke: Bagian 5

Sebelumnya: Bagian 3

 

PH/IslamIndonesia/Sumber Buku: Ibrahim Amini, Fatimah: Wanita Teladan Sepanjang Masa dan Kamal al-Sayyid, Kisah Kehidupan Fatimah Az-Zahra: Surga Merah/Sumber Photo: Tina1256, Deviant Art

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *