Satu Islam Untuk Semua

Monday, 12 November 2018

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 3)


Pernikahan Ali dan Fatimah 3

islamindonesia.id – Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 3)

 

Setelah lamaran Ali diterima oleh Rasulullah dan disetujui Fatimah, diriwayatkan, Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumpulkan orang-orang Muhajirin dan Anshar di masjid. Setelah mereka semua berkumpul Rasulullah naik ke atas mimbar dan berkata, “Kaum Muslim, sesungguhnya malaikat Jibril telah datang kepadaku tadi. Dia memberitahuku bahwa Tuhanku Azza wa Jalla telah mengumpulkan semua malaikat-Nya di Baitul Ma’mur dan menyatakan kepada mereka bahwa Dia telah menikahkan hamba-Nya Fatimah binti Rasulullah dengan hamba-Nya Ali bin Abi Thalib dan menyuruhku agar menikahkannya di bumi. Aku menyatakan hal itu kepada kalian.”

Kaum Muslim pun bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menikahkan dia?”

“Ya. Mudah-mudahan Allah memberkahi mereka dan menyatukan mereka,” jawab Rasulullah.

Setelah itu, Rasulullah pergi ke tempat istri-istrinya dan menyuruh mereka memukul rebana untuk Fatimah. Pernikahan Fatimah dengan Ali teIjadi pada dua atau tiga tahun setelah kedatangan Nabi di Madinah, pada tanggal 1 Zulhijah. Ada juga yang mengatakan bahwa pernikahan itu terjadi pada tanggal 6 Zulhijah.

 

Satu Bulan tidak Bertemu

Hari-hari telah berlalu semenjak dinikahkannya mereka. Ali tidak lagi tenang mengingat Fatimah. Ali membayangkan kejernihannya, jiwanya yang bersih, matanya yang bercahaya, dan langkahnya yang pasti dan tenang. Ingatan itu membuat Ali tersiksa.

Ali bercerita, “Setelah itu, selama sebulan aku tidak bertanya lagi kepada Rasulullah tentang Fatimah karena malu kepada beliau. Hanya saja, jika aku sedang berdua dengan beliau, beliau mengatakan kepadaku, ‘Wahai Ali, alangkah bagusnya dan cantiknya istrimu! Gembiralah, wahai Ali, karena aku telah menikahkanmu dengan pemimpin wanita di seluruh alam’.

“Setelah sebulan, datanglah saudaraku Aqil ke tempatku. Dia mengatakan, ‘Saudaraku, aku belum pernah gembira seperti kegembiraanku ketika engkau menikahi Fatimah binti Muhammad SAW. Mengapa engkau tidak bertanya kepada Rasulullah kapan beliau menyerahkannya kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, Saudaraku, aku benar-benar menginginkan hal itu. Tidak ada yang menghalangiku untuk bertanya kepadanya selain perasaan malu kepadanya.’ ‘Ayo, berangkat bersamaku,’ katanya.”

Dalam riwayat versi lainnya, dikatakan bahwa yang mengantar Ali bukan Aqil, tetapi pamannya sendiri, yaitu Hamzah.

Ali melanjutkan ceritanya, “Berangkatlah kami ke tempat Rasulullah. Di perjalanan, kami berjumpa dengan Ummu Aiman, sahaya Rasulullah SAW. Kami mengutarakan maksud kami kepadanya. Dia lalu mengatakan, ‘Jangan kamu lakukan. Biar kami yang mengatakannya kepada beliau, karena perkataan wanita tentang hal ini akan lebih baik dan lebih menyentuh hati pria.’.”

Kemudian Ummu Aiman berbelok pulang. Dia masuk ke tempat Ummu Salamah, dan memberitahukan hal itu kepadanya dan kepada istri-istri Nabi yang lain. Mereka kemudian berkumpul di tempat Rasulullah SAW. Sambil mengelilinginya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami berkumpul karena suatu urusan yang seandainya Khadijah masih hidup tentu dia akan senang melihatnya.”

Demikian Ummu Salamah mengatakan itu. Ketika dia menyebut nama Khadijah, Rasulullah SAW menangis, lalu berkata, “Khadijah, di mana orang yang seperti Khadijah? Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia membantuku dalam urusan agama Allah, menolongku dengan hartanya. Sesungguhnya Allah SWT menyuruhku untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah di surga dari zamrud, yang di dalamnya tidak ada hiruk-pikuk dan kelelahan.”

Ummu Salamah kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah, jika Khadijah masih hidup, matanya akan berbinar-binar atas pernikahan Fatimah. Ali pun rindu akan kekasihnya, maka terangilah mata Fatimah dengan cahaya suaminya dan berikanlah kedekatan di antara keduanya. Dengan begitu, engkau pun juga telah menerangi mata kami.”

Rasulullah bertanya, “Mengapa Ali tidak memintanya langsung kepadaku?”

“Wahai Rasulullah, malulah yang menghalangi diri Ali,” jawab Ummu Aiman.

Ummu Aiman berdiri dan menanti hingga Rasul berbicara sesuatu. “Pergilah engkau ke tempat Ali dan bawalah dia kepadaku.” Ummu Aiman dengan bergegas menuju tempat pemuda yang resah itu dalam penantian.

Setelah Ummu Aiman tiba di sana. Ali berkata, “Wahai Ummu Aiman, apa yang kaucari?”

“Seluruh kebaikan dan rahmat! Rasulullah memanggilmu,” kata Ummu Aiman.

Tiba di rumah Rasul, Ali bercerita, “Aku pun masuk ke tempat beliau dengan menunduk karena malu. Istri-istrinya bangkit, lalu duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kau ingin istrimu masuk ke tempatmu?’.”

“Ya,” jawab Ali sambil menunduk.

Kemudian beliau berkata, “Baiklah, Ali. Aku akan memasukkannya ke tempatmu pada malam ini atau besok, insya Allah.”

Ali bercerita, “Maka berangkatlah aku dengan perasaan senang dan gembira. Nabi menyuruh istri-istrinya untuk menghiasi Fatimah dan memberinya wangi-wangian …. ”

Sang pemuda pun bangkit dari tempatnya. Sayap kegembiraan terbentang di dalam jiwanya. Masa perjumpaan akan tiba. Pertemuan dua hati yang suci, perjumpaan dua ruh yang murni.

Bersambung ke: Bagian 4

Sebelumnya: Bagian 2

 

PH/IslamIndonesia/Sumber Buku: Ibrahim Amini, Fatimah: Wanita Teladan Sepanjang Masa dan Kamal al-Sayyid, Kisah Kehidupan Fatimah Az-Zahra: Surga Merah/Sumber Photo: ahmad28486, Deviant Art

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *