Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 November 2018

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 2)


Pernikahan Ali dan Fatimah 2

islamindonesia.id – Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 2)

 

Di Rumah Rasulullah

Rasul duduk di kamar Ummu Salamah. Aroma wahyu berthawaf di ruangan kamar. Terdengar beberapa ketukan di pintu, Ummu Salamah bertanya, “Siapakah yang mengetuk pintu?”

Rasul yang sebelumnya telah mengetahui berkata, “Bukalah pintu. Dia adalah pria yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.”

Ummu Salamah membuka pintu. Sang tamu diam beberapa saat hingga istri Rasul itu masuk ke dalam kamarnya.

“Salam, ya Rasulullah!”

“Salam bagimu, wahai Ali!”

Didikan Rasul ini, dengan rasa malu dan diam, duduk di sudut rumah. Butiran-butiran keringat tampak di dahinya seperti permata-permata yang gemerlapan. Kalimat-kalimat bergelora di dalam relung hatinya. Namun, perasaan tidak enak dan malu telah membendung jalannya, seperti batu besar yang membendung aliran sungai.

Rasul mengetahui perasaan yang bergelora di lubuk hati Ali. Dengan senyum yang menyelimuti seluruh wajahnya, beliau berkata, “Wahai Ali! Mungkin engkau datang dengan sebuah hajat; katakanlah hajatmu dan keinginanmu.”

Sebuah jendela harapan telah terbuka di hadapan pemuda ini. “Wahai Rasulullah! Denganmu dan lewat tanganmu, Allah telah memberikan aku hidayah. Kini aku berkeinginan memiliki sebuah rumah dan istri yang membuat aku tenang. Oleh karena itu, kedatanganku ini untuk meminang putri engkau, Fatimah.”

Dalam riwayat versi lainnya, Ali berkata, “Engkau mengetahui bahwa engkau mengambilku dari pamanmu Abu Thalib dan dari Fatimah binti Asad ketika aku masih kecil. Engkau memberiku makan dengan makananmu dan mendidikku dengan didikanmu. Bagiku, engkau lebih utama daripada Abu Thalib dan Fatimah binti Asad dalam hal kebaikan dan kasih sayang. Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepadaku melalui engkau dan di tangan engkau. Demi Allah, engkau adalah kekayaanku dan modalku di dunia dan akhirat. Wahai Rasulullah, di samping menjadi penolongmu seperti yang telah Allah kuatkan, aku ingin mempunyai rumah tangga dan mempunyai istri agar aku menjadi tenang dengannya. Aku datang kepadamu untuk melamar dengan sungguh-sungguh putrimu Fatimah. Maukah engkau menikahkanku, wahai Rasulullah?”

Ummu Salamah memperhatikan wajah Rasul. Dia melihat bahwa senyum menguasai wajah Rasul. “Wahai Ali! Beberapa pria sebelum engkau telah menginginkan Fatimah sebagai istri mereka, dan aku telah memberitahukan hal tersebut kepada Fatimah. Namun, dia selalu menunjukkan ketidaksukaan di wajahnya. Kini berilah aku waktu beberapa saat untuk berbicara dengannya.”

Rasul bangkit dari tempat duduknya. Ali dengan penuh rasa hormat bangkit pula dari tempatnya.

“Fatimah!”

“Iya, wahai Rasulullah!”

“Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang telah engkau ketahui keistimewaannya dalam hubungan kekeluargaan denganku dan juga keutamaan keislamannya. Aku meminta kepada Allah agar Dia memberikan engkau seorang suami yang terbaik dan makhluk ciptaan-Nya yang paling tercinta. Kini Ali telah datang meminangmu. Apa pendapatmu?”

Fatimah menundukkan kepala. Kegembiraan dengan jelas terpancar dari raut mukanya. Rasa malu singgah di wajahnya sehingga tampak kemerahan; seperti mentari yang tersenyum di waktu subuh.

Rasul dengan kegembiraan menyeru, “Allah Mahabesar! Diamnya adalah tanda atas kerelaannya.”

Mata air kegembiraan muncul di rumah Ummu Salamah. Kabar menggembirakan ini, bak burung yang berputar-putar di seluruh rumah yang ada di Madinah dan singgah di seluruh sudut. Harapan-harapan manis terhampar di bumi Madinah dan memuncak di cakrawala Arab.

Rasul mengamati wajah calon menantunya dan berkata, “Adakah sesuatu yang engkau miliki sehingga dengannya engkau bisa mengatur pernikahanmu ?”

Pemuda itu menyebutkan apa yang dia miliki, “Pedangku, baju besiku, dan unta pengambil air saja yang aku miliki.”

“Pedangmu, Islam membutuhkannya. Unta pengambil airmu, dengannya engkau menyirami pepohonan kurma dan engkau meletakkan barang bawaanmu di atasnya. Adapun baju besimu, aku rela dengannya.”

Ali pun berkeliling agar dapat menjual baju besinya. Dengan cepat baju besi tersebut terjual. Pembelinya adalah Utsman. Namun, setelah membelinya, Ustman menghadiahkan kembali baju besi itu untuk Ali. Pemuda tersebut bergegas kembali ke rumah Rasul dan memberikan empat ratus dirham hasil penjualan baju besinya.

Bercerita Ali, “Maka aku pergi dan menjual baju besi itu dengan harga 400 dirham. Kemudian aku menghadap Rasulullah dan meletakkan uang itu di hadapannya. Rasulullah memberikan segenggam darinya kepada Ummu Aiman untuk membeli perlengkapan rumah, segenggam kepada Asma’ untuk membeli wangi-wangian, dan segenggam lagi kepada Ummu Salamah untuk makanan. Kemudian sisanya beliau berikan kepada ‘Ammar, Abubakar, dan Bilal untuk membeli perlengkapan yang pantas untuk Fatimah.”

Setelah itu, Ali pergi untuk menyiapkan rumah barunya. Bayangan wajah Fatimah yang berusia lima belas tahun itu, hadir di hadapan Ali. Bayangan itu mengalirkan mata air yang sejuk dalam hatinya.

Ali menaburkan sejumlah kerikil halus di atas tanah kamarnya. Dengan kedua tangannya, kerikil itu dia ratakan sehingga jadilah sebuah tempat tidur yang halus. Lalu, di salah satu sudut kamar, sebuah kayu dipasangnya di antara dua dinding untuk tempat menggantungkan pakaian-pakaian.

Di atas bagian ranjang kerikil, dibentangkannya kulit domba dan sebuah bantal dari anyaman pelepah kurma sebagai pelengkap. Dengan begitu, rumah Fatimah, putri Muhammad, terbangun.

Ali mengamati keempat sudut kamar. Dia sadar sama sekali tidak ada sesuatu pun yang memikat seorang wanita. Tidak kain sutra dan tidak pula ranjang yang empuk.

Namun, dia mengenal baik Fatimah dan mengetahui bagaimana watak putri Rasul tersebut. Ali tahu Fatimah memiliki jiwa agung yang murni – yang ridha atas kehidupan sederhana dan jauh dari kenikmatan fana duniawi.

Bersambung ke: Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 3)

Sebelumnya: Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah (Bagian 1)

 

 

PH/IslamIndonesia/Sumber Buku: Ibrahim Amini, Fatimah: Wanita Teladan Sepanjang Masa dan Kamal al-Sayyid, Kisah Kehidupan Fatimah Az-Zahra: Surga Merah/Sumber Photo: ahmedmakky, Deviant Art

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *