Satu Islam Untuk Semua

Friday, 29 April 2016

KISAH NYATA–Ketika Ibu Benar-Benar Pergi


Ketika Ibu Benar-Benar Pergi

Islamindonesia.id–Ketika Ibu Benar-Benar Pergi

IBU, bukan hanya salah satu motivasi dan alasan untuk terus lakukan yang terbaik dalam hidup. Dia bukan sekadar tenaga, tapi lebih dari itu adalah darah penggerak kiprah positif dalam kehidupan setiap anak.

Kepergian seorang ibu dari anaknya adalah pelajaran bagi ibu-ibu dan anak-anak yang lain. Pelajaran hidup tentang penghargaan atas kebersamaan, sesuatu yang sangat layak disyukuri sebagai karunia terbaik. Karunia cinta dan kasih sayang yang mesti dirawat dan dijaga dengan tulus dan sepenuh hati, sebelum pada saatnya semua berakhir karena suratan takdir; Kematian!

**

Tak terhitung dengan tepat, berapa lama Ibu sakit. Kami semua, sejak Ibu tak berdaya, seakan lupa menyadari bergantinya hari-hari. Kucoba sekuat upaya, KEMBALI-kan kondisi Ibu seperti dulu. Tapi ternyata Tuhan memanggilnya KEMBALI. Maka kuyakin pasti inilah yang terbaik bagi kami sekeluarga, terutama buat Ibu. Seperti kata seorang sahabat baik yang meredakan laraku dengan untaian kalimat doa yang terasa sejuknya: “Semoga wafatnya menjadi akhir deritanya di dunia dan awal kesenangannya di akhirat.” Aku sepakat, karena tahu pasti, betapa menderitanya Ibu karena sakit yang tak kunjung sembuh sekian lama. Sementara seorang sahabat yang lain melipurku dengan mengingatkan bahwa aku mesti bersyukur masih bisa atau sempat berjumpa Ibu. Dengannya pun aku setuju.

Sahabatku benar. Tak berjumpa Ibu, terlambat pulang tanpa bisa bertemu lagi dengannya, adalah satu hal yang sejak lama sangat kukhawatirkan. Persis sebagaimana dengan tepat Ibu katakan dalam telepon terakhirnya kepadaku, “Tiap saat, Ibu seakan tak sabar menunggumu pulang. Maka segeralah pulang, Nak. Ibu khawatir bila kau tak cepat-cepat pulang, Ibu tak bakal lagi bisa bertemu denganmu.”

Kepada seorang kawan, suatu saat pernah kusampaikan, betapa takutnya aku pulang. Semakin takut pulang justru setelah telepon terakhir dari Ibu. Betapa sangat kuinginkan kesembuhan Ibu, tanpa aku harus cepat pulang. Karena firasatku mengatakan bahwa kepulanganku yang segera, bakal juga berarti salah satu syarat kesegeraan Ibu “pergi.“ Dan, firasat itupun terbukti. Baru tiga hari aku datang dan berkesempatan menemaninya, ibu pun berpulang.

Itulah masa tersingkat kebersamaan dengan Ibu dalam artian sebenarnya, yang kurasakan paling berharga dalam hidupku. Detik-detik terakhir yang benar-benar memuat ragam emosi penuh warna, dan ibrah pelajaran hidup sarat makna.

Saat datang, aku terperangah saksikan tubuh Ibu yang kian tinggal tulang berbalut kulit kusam. Mata yang biasanya cerah berbinar sambut tiap kedatanganku itu telah amat cekung dan tampak lelah. Kedua kaki Ibu bengkak parah, menopang tubuh ringkih dengan perut membesar bagai hamil sembilan bulan. Ibu menangis, memelukku erat, bahagia aku datang. Dengan suara tercekat, terbata ibu bilang, “Ya. Memang kamu yang Ibu tunggu, Nak. Ibu senang akhirnya kau benar-benar datang!” Saat itulah sepertinya ibu benar-benar bahagia. Sebaliknya pada saat yang sama, aku, benar-benar merasa teramat sangat sedih! Tertunduk lesu, terenyuh, tak kuasa menahan haru. Apalagi saat Ibu kembali berusaha bicara, susah payah mengatur napas beratnya, “Jangan kau tinggalkan Ibu lagi, Nak. Temani Ibu, ya? Jangan pulang, menginaplah disini barang semalam.” Dan benar saja, HANYA SEMALAM!

Tepat di Hari Pahlawan Ibu pergi dan pahlawanku itupun tak mungkin lagi kembali…

***

Tentu saja hatiku dibalut sedih kehilangan sosok panutan dalam hal daya juang, keteguhan berperilaku hidup sahaja namun tetap mampu berhias kedermawanan. Kini, mata yang selalu berbinar bila Allah memberiku kemampuan berbuat baik bagi sesama (“Jadilah manusia baik yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama,” adalah satu hal yang seringkali dan tak bosannya Ibu pesankan kepadaku) telah tertutup untuk selamanya. Tawa bahagianya menyaksikan kedua cucunya seru bercanda, mendadak berubah bisu, sepi.

Hari itu, aku tak kuasa lagi menangis. Maksudku, tentu saja “menangis” dalam pengertian standar; berurai airmata karena kepergian Ibu. Mungkin hanya Tuhan dan Ibu yang tahu persis deritaku selama ini, mengapa aku sampai kehilangan: tak lagi punya airmata yang cukup untuk kuteteskan.

Tentang ini, pun hanya Ibu dan Tuhan yang tahu. Hari itu, 10-11-12, Ibu pamit pergi. “Sungguh, bukannya Ibu tak sabar. Bukan Ibu tak kuat menanggung sakit terlalu lama begini,” bisiknya terbata kepadaku. “Tapi Ibu lebih tak sanggup melihatmu menderita. Karena kesedihan di matamu, mustahil kau sembunyikan dari Ibu, Nak.  Ibu tahu, sejak kecil kau memang pendiam, seperti tak pandai ungkapkan kata cinta dan kasih sayang. Namun hati Ibu, mana mungkin kau tipu? Mungkin sudah takdir hidup Ibu dan takdir hidupmu, bahwa jalan hidup itulah yang sering membawamu jauh dari Ibu. Bila kau tahu, soal hati tak kenal jarak, maka kau akan paham mengapa saat jauh justru Ibu rasa, kaulah yang paling dekat.”

Di dekat pembaringan dengan kain lusuh itu kubersimpuh diam. Untuk terakhir kalinya kusampaikan ucapan perpisahan, “Selamat jalan, Ibu. Selamat berpulang, kembali kepada Pemilik Sejatimu. Semoga engkau ridha dan Allah pun meridhaimu. Semoga  dalam pandangan-Nya, aku tak tergolong sebagai manusia yang gagal menjadi anakmu, betapapun compang-camping dan tak sempurnanya pelayanan, dan tak pernah genapnya baktiku selama ini.”

Kusadari ajal adalah kepastian tak terhindarkan, meski kehadirannya yang tak terduga, selalu menyimpan misteri.

“Ibu, inilah akhir waktu kebersamaan “semu” antara kita. Karena Ibu pasti tahu, baik dulu apalagi sekarang, bahwa jarak tak pernah berpengaruh bagiku dan bagi Ibu. Inilah perpisahan antar dua raga, namun tidak demikian halnya dengan jiwa. Sampai kapanpun, bahkan bila sampai akhir waktuku di dunia, hingga benar-benar tiba masa perjumpaanku dengan Ibu  kelak, “disana.””

Saat ini hanya ada kenangan tersimpan. Kenangan tentang kebaikan, kemuliaan, dan kasih sayang terpatri di hati. Kenangan indah yang kusimpan dan kususun rapi sebagai doa.

Tentu tak mudah menerima perpisahan dengan orang yang kukasihi. Syukurlah kutemukan cara terbaikku ikhlaskan kepergian Ibu, dengan sadar dan yakin penuh bahwa Ibu adalah milik-Nya, bukan milik kami. Itu yang membuatku merasa tak kehilangan apapun, meski saat ini kami tak bersama lagi, dan Ibu mustahil akan kembali menemaniku, menghabiskan sisa hidupku. Karena itu kuputuskan saja untuk tabah mengarungi jalan hidup ini tanpa kehadiran Ibu lagi sebagai penjaga semangat, pengingat arah perilaku, dan pembimbingku dalam bertindak. Kuyakin hanya Ibu, selain Ayah, seorang yang kuyakini ketulusannya dalam mendoakan kebaikan bagiku.

Tentang ketabahan, dari kepergian Ibu aku belajar. Kusadari bahwa ketabahan ternyata bukan cuma soal perkara perasaan. Untuk mencapainya, diperlukan pula kesadaran dan rasionalitas. Karena tabah itu aktif-dinamis, bukan pasif-stagnan. Maka orang yang tabah sudah semestinya bersikap proporsional; tidak menggampangkan perkara sulit, tak menyederhanakan perkara pelik, namun tak juga menganggap sulit perkara mudah. Kusimpulkan bahwa tabah itu manual, bukan otomat. Sebab itu, meraih predikat tabah bukan perkara mudah, karena memang tak ada kendali auto, melainkan perlu tahapan dan ujian yang mesti dilalui langkah demi langkah sejalan datangnya ujian dan penderitaan. Tabah tak punya versi online, tapi offline. Thus, ia mesti dijalani di alam nyata, bukan maya. Pendeknya, untuk mampu tabah, tiap orang memang perlu menghadapi dengan tegar setiap derita, dengan sadar, dengan rasionalitas, dengan tindakan konkrit, bukan dengan kepasrahan pasif dalam artian tak melakukan apapun untuk bangkit dari rasa putus asa dan keterpurukan karena merasa kehilangan segalanya.

Saat ini yang terpikir olehku, adalah kesegeraan upayaku membiasakan diri, melanjutkan hidup tanpa kehadiran Ibu lagi. Mengapa aku harus tak siap? Bukankah jauh-jauh hari Ibu sudah sering berpesan kepadaku, bahwa Ibu, sangat mungkin tak mampu menemaniku, saksikan jatuh-bangunku, bahagia dan deritaku, hingga kedua cucunya beranjak dewasa?

Betapa sering Ibu bercerita soal itu dengan ibarat. “Sepertinya Tuhan memang menuntut Ibu ikhlas jika mesti jauh darimu, Nak. Tak sekali-dua Ibu bermimpi, saksikan bajumu yang berkilau, perlahan diterbangkan angin ke langit tinggi. Kian jauh, kian tinggi, hingga Ibu tak mampu meraihnya lagi. Memaknai itu, Ibu merasa bahagia sekaligus sedih. Ibu bahagia karena yakin bahwa hidupmu akan mencapai sukses suatu saat kelak. Namun Ibu juga sedih bila insyaf, usia Ibu sudah demikian tua, belum lagi sakit Ibu yang seakan tak mau pergi secepatnya. Saat kau raih kebahagiaan dengan kesuksesan yang kau idamkan, sangat mungkin adalah saat yang bakal terwujud masih lama pula. Boleh jadi hingga jatah hidup Ibu di dunia tak lagi cukup untuk menyaksikannya.” Dan, sekali lagi, semua itu memang terbukti.

Setiap kali Ibu bercerita hal yang sama; tentang baju berkilauku yang terbang ke langit tinggi itu. Sedikit berbeda dengan Ibu, aku hanya rasakan sedih. Firasat dan keyakinan Ibu tentang bakal datangnya masa sukses itu, bukanlah hal yang membahagiakan buatku. Karena bagiku, kebersamaan dengan Ibulah kebahagiaan dan kesuksesan dalam arti yang sesungguhnya.

Tak kupungkiri bahwa keinginan untuk meraih sukses sebagaimana harapan Ibu, memang ada. Hidup mapan berkecukupan tanpa bergantung, tapi sebaliknya dapat lebih banyak berbuat baik kepada orang lain. Dengan mobil sendiri, bukan pinjaman, bisa mengajak Ibu jalan-jalan ke banyak tempat yang ingin dikunjunginya, terutama  bersama kedua cucunya dan kami sekeluarga. Punya rumah berhalaman belakang luas, hingga Ibu duduk santai bisa saksikan anak-anakku tertawa riang bermain, bla bla bla. Itulah sukses versi Ibu yang juga sedikit berbeda denganku, kadang kurasa lucu. Sebab faktanya, bagaimana aku mampu meraih semua itu, dengan bekal kebodohan dan banyaknya kekurangan yang kupunya. Namun, tetap saja kuhargai semua cita-cita dan impian Ibu, sebagai harapan dan doa baiknya buatku.

Mengenang Ibu, ibarat membuka ribuan lembar buku bagiku. Membacanya kembali dari lembar pertama hingga terakhirnya, seolah tak pernah membuatku puas hati. Kini, yang ada hanya doa, semoga di sana Ibu temukan taman indah rumahnya sendiri. Biarlah di sini, demi Ibu, coba kubangun semampuku taman indah Ibu, dengan amal kebaikan demi amal kebaikan yang membahagiakan sesamaku, seperti dulu selalu berulang-ulang dipesankan Ibu.

Semoga Ibu pun bahagia dan bangga, tahu bahwa apa yang disampaikannya dulu kepadaku benar adanya; jika aku senantiasa tak lelah berusaha menjadi orang yang baik, maka akan Allah hadirkan di sekitarku orang-orang yang baik pula.

Kini, meski aku terpisah dari saudara kandungku (yang dititipkan Ibu) jauh di kampung sana, syukurlah ternyata masih ada saudara-saudaraku yang lain, di sini. Di Jakarta.

Maka tenang damailah Ibu di alam sana. Semoga aku pun kian mampu tenang dan damai di alam sini. Mampu hidup berguna dan menebar bahagia, di antara para saudara.

(Baca juga: Senyampang Bunda Bersamamu)

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *