Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 29 June 2016

KAJIAN–Mengapa Tidak Mungkin Lebaran Hari Selasa?


opini-perlukah-rukyah-saat-hilal-di-bawah-ufuk

islamIndonesia.id–Mengapa Tidak Mungkin Lebaran Hari Selasa?

Media nasional menyebutkan bahwa Kemenag menetapkan hari Senin 4 Juli sebagai hari sidang itsbat awal Syawal. Pertanyaannya, mungkinkah Idul Fitri jatuh pada hari Selasa tanggal 5 Juli?

Sebagai pemegang mandat atas sidang isbat Idul Fitri, Kementerian Agama tentu paham bahwa salah satu syarat untuk melakukan ru’yatul hilal adalah terjadinya ijtima’, konjungsi atau peristiwa sejajarnya tiga benda langit; yaitu, bulan berada di antara bumi dan matahari. Para astronom menyebutnya sebagai new moon (bulan baru).

Saat ini kita dapat dengan mudah memperoleh data terjadinya new moon (bulan baru) di dunia maya. Sebagai contoh, moonsighting.com. Situs ini menyajikan data akurat tentang peristiwa new moon di setiap awal bulan penanggalan hijriah. Dari mulai tahun-tahun terdahulu hingga tahun sekarang. Dari mulai bulan-bulan lalu hingga bulan-bulan terakhir tiap tahun hijriah.

Tidak cukup sampai di situ. Situs moonsighting.com juga menyajikan laporan dari berbagai titik di dunia yang menjadi anggota situs ini yang mengirimkan laporan hasil ru’yatul hilal mereka. Termasuk di dalamnya, laporan hasil ru’yah akhir bulan hijriah.

Ingatkah Anda dengan awal Ramadhan tahun ini di Indonesia yang telah diputuskan oleh pemerintah jatuh pada 6 Juni 2016? Situs moonsighting.com melaporkan bahwa hilal di Indonesia sebenarnya ‘not seen‘. Artinya situs ini tidak mengakui terlihatnya hilal di Indonesia yang katanya disaksikan oleh saksi-saksi di Gresik, Bangkalan, Bojonegoro dan Jombang.

Sebagaimana dimaklumi bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara setelah Saudi Arabia yang Rukyatul Hilalnya berdasarkan kesaksian tanpa perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah. Pada mulanya Brunei Darussalam dan Malaysia mengakui Imkanur Rukyat dengan kriteria MABIMS, penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
1. Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) bulan-matahari minimum 3°, atau
2. Pada saat bulan terbenam, usia bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Namun kemudian, Brunei Darussalam kini memilih berpisah dari kriteria MABIMS tersebut. Berbeda dengan Indonesia yang Rukyatul Hilalnya berdasarkan kesaksian tanpa perlu dilakukan pengkajian ulang secara ilmiah, kini Brunei Darussalam tidak hanya berdasarkan kesaksian semata namun melakukan verifikasi ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah.

Kembali lagi ke situs moonsighting.com. Situs ini menunjukkan kepada kita bahwa Ramadhan lalu Brunei awal puasanya berbeda dengan Indonesia. Indonesia dimulai pada tanggal 6 Juni, maka Brunei dimulai pada tanggal 7 Juni. Apa pasal? Rupanya Brunei sudah melek mata. Mereka sadar bahwa kriteria hilal setinggi 2 derajat sudah usang dan hilal pada ketinggian tersebut tidak akan bisa terlihat dengan teleskop canggih sekali pun apalagi dengan mata telanjang.

Brunei Darussalam mengacu kepada laporan sains modern yang menunjukkan bahwa pada 5 Juni lalu, negara-negara di Asia Tenggara pada umumnya, masuk ke dalam horison (ufuk) yang mustahil dapat melihat hilal meskipun dengan ketinggian 4 derajat lebih. (perhatikan gambar visibilitas hilal 5 Juni 2016 dari moonsighting.com)

Indonesia termasuk salah satu kawasan yang berwarna hitam. Hilal mustahil dilihat dengan alat canggih apalagi mata telanjang.

Indonesia termasuk salah satu kawasan yang berwarna hitam. Hilal mustahil dilihat dengan alat canggih apalagi mata telanjang.

Dengan kata lain, seandainya ada yang mengaku melihat hilal, maka sudah pasti tertolak secara ilmiah. Tambahan lagi, seandainya ada yang menyaksikan dengan mata telanjang di Indonesia, maka sudah sepantasnya peristiwa ini memasukkan Indonesia ke dalam rekor baru dunia.

Oleh karena itu, laporan moonsighting.com terkait rukyatul hilal di negara tetangga Brunei menunjukkan bahwa hilal tidak terlihat pada tanggal 5 Juni 2016, sehingga awal Ramadhan di Brunei jatuh pada 7 Juni 2016 berbeda dengan Indonesia yang jatuh pada 6 Juni.

Bagaimanakah dengan Syawal 1437 hijriah?

Lagi-lagi data hisab moonsighting.com menunjukkan bahwa new moon pada 4 Juli 2016 terjadi pada 11:00 UT atau sekitar pukul 18:02 WIB. Artinya, ijtimak baru terjadi saat memasuki tanggal 30 Ramadhan.

hilal-syawal-1437

Pertanyaan sederhana, bukankah ijtimak pada umumnya terjadi pada tanggal 29 tiap bulan? Lantas mengapa ijtimak justru terjadi pada tanggal 30 Ramadhan (malam adalah dimulainya hari dalam penanggalan hijriah)?

Setelah semua data di atas, apa perlunya melakukan Rukyatul Hilal di saat data menunjukkan bahwa ijtimak terjadi setelah magrib? Bukankah melakukan rukyatul hilal sebelum terjadinya ijtimak sama halnya dengan melaksanakan shalat sebelum waktu azan tiba? Bukankah hal itu sama seperti menggantang asap atau menanak batu? Tidakkah lebih baik pemerintah menghemat anggaran dengan meniadakan rukyatul hilal di seluruh daerah dalam penetapan Syawal tahun ini? Bukankah hasilnya sudah pasti Ramadhan genap menjadi 30 hari alias istikmal?

 

Tom/IslamIndonesia

2 responses to “KAJIAN–Mengapa Tidak Mungkin Lebaran Hari Selasa?”

  1. mita says:

    Biasa dana ru’yatul hilal nasional biar bisa di buat bancaan …..

  2. mahendra says:

    dari 15 hari yang lalu sudah ketahuan bulan purnama, tinggal hitung maju saja 15 hari kemudian maka ketemulah tanggal 1 Syawal menurut saya cara ini lebih hemat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *