Satu Islam Untuk Semua

Friday, 06 January 2017

KAJIAN – Kematian: Ketiadaan atau Perpindahan?


South Africa --- A heart monitor screen with a question mark --- Image by © VStock LLC/Klaus Tiedge/Tetra Images/Corbis

islamindonesia.id – KAJIAN – Kematian: Ketiadaan atau Perpindahan?

 

Di antara pikiran yang selalu menyiksa manusia adalah kematian dan berakhirnya kehidupan. Setiap manusia akan bertanya kepada dirinya: “Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Dan mengapa aku harus meninggalkannya? Apa yang menjadi tujuan dibangun dan dimusnahkannya semua ini? Bukankah perbuatan itu merupakan kesia-siaan yang sama sekali tidak berfaedah?”

Makna Kematian

Kembali ke sisi Allah SWT dan keluar dari kehidupan dunia menuju kehidupan lain digambarkan oleh Allah Swt dalam Kitab-Nya dengan istilah maut (kematian). Kematian ini bukan yang biasa kita pahami dan kita lihat sehari-hari sebagai hilang­nya fungsi indra, punahnya kemampuan beraktivitas dan lenyapnya kehidupan (fisik).

Allah berfirman: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (bil-Haqq). Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qaf: 19)

Dari ayat itu kita dapat memahami haki­kat kematian yang digam­barkan oleh Allah dengan ungkapan bil-Haqq, sehingga kema­tian bukanlah ketiadaan, kesirnaan atau kehilangan.

Allah berfiman: “Sekali-kali tidak! Apabila nyawa (napas) seseorang telah sampai (terhenti) di kerongkongan, dan (ketika itu) dikata­kan: ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’ dan dia telah menduga bahwa sesung­guhnya itulah waktu perpisahan, dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu (tempat dan masa) penggiringan.” (QS 75: 26-31).

Jadi, saat kematian adalah saat semua manusia kembali kepada Allah SWT sekaligus saat penggiringan setiap makhluk ke sisi-Nya.

[Baca juga: KAJIAN – Kematian adalah Kesempurnaan]

Relativitas Kematian

Keberatan yang muncul dari kematian bermula dari konsepsi yang memahaminya sebagai ketiadaan. Padahal, kematian bukan ketiadaan, melainkan perkembangan dan perpindahan; musnah dari satu tingkat untuk memulai hidup di tingkat lain.

Dengan kata lain, kematian adalah ketiadaan (non-eksistensi) relatif, yakni non-eksistensi dari satu tahap demi eksistensi di tahap lain. Manusia tidak akan mengalami kematian mutlak, tetapi hanya akan kehilangan kondisi tertentu dan berlahir ke kondisi lain.

Di sini, kesirnaan itu bersifat relatif. Misalnya, tanah yang berubah menjadi tumbuhan, tidak mengalami kematian mutlak. Tanah itu hanya mengalami kematian relatif, karena forma dan ciri khas tanah sebelumnya sebagai benda mati telah lenyap.

Namun, ia mati dari satu kondisi dan keadaan untuk beroleh kehidupan dalam kondisi lain. Penyair sufistik, Jalaluddin Rumi mengungkapkan:

Aku mati dari (keadaan sebagai) benda mati, dan berubah menjadi tetumbuhan

Aku mati dari (keadaan sebagai) tetumbuhan, dan berubah menjadi binatang.

Aku mati sebagai binatang, dan kini berubah menjadi manusia.

Kalau begitu, mengapa aku mesti takut menjadi kurang akibat kematian?

Di tahap akhir, aku akan mati dari (keadaan sebagai) manusia untuk bisa berubah mejadi salah satu sayap malaikat.

Setelah jadi malaikat, aku akan terus mencari ufuk lain.

Karena “segala sesuatu akan binasa, kecuali Wajah-Nya”

Dunia adalah Rahim Ruh

Perpindahan dari alam ini menuju alam lain menyerupai kelahiran bayi dari rahim ibunya. Penyerupaan ini memang, dari satu sisi, tidaklah sempurna. Tapi, dari sisi yang lain, ia sudah cukup sempurna.

Ketidaksempurnaannya ada pada sisi perbedaan antara dunia dan akhirat yang jauh lebih mencolok dan substansial ketimbang perbedaan antara kehidupan di dalam dan di luar rahim. Kehidupan di dalam dan di luar rahim sama-sama bagian dari alam fisik dan duniawi.

Sedangkan, dunia dan akhirat adalah dua tahapan kehidupan yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Tetapi, penyerupaan itu disebut sempurna dari segi bahwa ia menjelaskan adanya perbedaan beragam kondisi.

Seorang bayi, ketika berada dalam rahim, menerima makanan melalui ari-ari dan tali pusar. Tapi begitu lahir ke dunia, ari-ari dan tali pusar itu tersumbat, dan bayi mulai makan dengan mulut dan saluran pencernaannya.

Saat di dalam rahim, kedua paru-paru bayi itu sudah terbentuk, tapi belum berfungsi. Begitu bayi keluar dari rahim, kedua paru-paru itu langsung berfungsi.

Sungguh mengagumkan dan menakjubkan bagaimana selama janin menempel dengan rahim, tidak sekali pun ia menggunakan paru-paru dan saluran pernapasannya. Sekiranya alat pernapasan sudah berfungsi saat janin di dalam kandungan, niscaya ia akan mendadak mati.

Keadaan seperti ini berlangsung sampai masa akhir kehidupan janin itu di dalam rahim. Tapi, begitu kaki janin ini keluar dari rahim, saluran pernapasannya langsung berfungsi. Sekiranya untuk sesaat saja saluran pernapasan itu tidak berfungsi, niscaya bayi tersebut segera menemui ajalnya.

[Baca juga –Kisah Bijak Para Sufi: Orang yang Menyadari Kematian]

Begitulah sistem kehidupan bayi sebelum dan sesudah kelahiran. Sistem kehidupan sebelum kelahiran berubah menjadi sistem kehidupan setelah kelahiran.

Sebelum kelahiran, calon bayi yang masih berubah itu hidup dengan sistem tertentu: dan sesudah dilahirkan, ia hidup dengan sistem lain yang berbeda.

Pada dasarnya, sekalipun saluran pernapasan itu dibuat secara bertahap selama janin berada di dalam rahim, ia tidak dirancang untuk berfungsi di dalam rahim. Pembuatan saluran atau alat tersebut berpijak pada persiapan masa mendatang.

Ia dipersiapkan dan disediakan untuk periode kehidupan berikutnya. Demikian pula sistem pendengaran, penglihatan, perabaan, dan penciuman dengan segala keluasan dan kompleksitasnya, tidak satu pun yang dirancang untuk berfungsi pada fase kehidupan janin di dalam rahim.

Sebaliknya, semua sistem itu diciptakan dan dirancang untuk berfungsi pada fase kehidupan berikutnya. Dunia ini dalam hubungannya dengan kehidupan akhirat serupa dengan rahim yang di dalamnya rancangan dan kesiapan sistem-sistem psikis dan spritual manusia disempurnakan, demi kehidupannya di alam berikutnya.

Segenap kesiapan psikis manusia – sifat tak terkomposisi dan imaterialnya, ketakterbagian dan kekonstanan relatif, “ego”-nya, harapan-harapannya yang tak berujung, pikiran-pikirannya yang terus merentang dan tak berhingga – semuanya ini diciptakan untuk kehidupan yang lebih luas, lebih panjang, lebih besar, bahkan abadi dan kekal.

Semua itu pula yang sejatinya membuat manusia “terasing” dan “tidak sejenis” lagi dengan alam fana ini. Semua itu pula yang menyebabkan manusia mirip “buluh perindu” (nay) yang terpisah dari “rumpunnya”, “sehingga bunyinya membuat pria dan wanita merintih sedih”, dan selalu mencari “hati yang patah akibat perpisahan” untuk mengulang kembali “penjabaran tentang duka kerinduan”.

Semua itu pula yang menyebabkan manusia melukiskan dirinya “melalui pandangan agung Raja yang duduk di Sidrat Muntaha, dan melukiskan dunia dalam hubungannya dengan dirinya sebagai “surau ujian manusia”, atau melukiskan dirinya sebagai “burung Taman Kudus” dan dunia sebagai “perangkap peristiwa-peristiwa”.

Allah Swt berifman, “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun (23): 115)

Maksudnya, apakah kalian mengira bahwa segala sistem telah diberikan kepada kalian ini diciptakan dengan sia-sia, dan bahwasanya seluruh perlengkapan ini tidak mempunyai fungsi tertentu, sekalipun fungsi itu baru ada setelah kalian kembali kepada Kami?

Seandainya segala perlengkapan dan sistem rumit milik manusia ini tidak berfungsi untuk kembali menuju Allah dan medan luas yang sejalan dengan kekayaan ini, pengandaian itu serupa dengan kehidupan di dalam rahim yang tidak berlanjut dengan kehidupan di dunia.

Dan seandainya semua janin akan binasa setelah berakhirnya babak kehidupannya di dalam rahim, sia-sialah penciptaan dan pembentukan sistem pendengaran, penglihatan, penciuman, saraf, otak dan perut besar, yang tidak sesuai dan tidak berfungsi di dalam rahim pada tubuh janin.

Ujung-ujungnya, semua persiapan dan pembentukan janin untuk menjadi bayi sehat di luar rahim itu sia-sia belaka, karena tidak pernah berfungsi dan tak memberi manfaat apa pun bagi si janin.

Sungguh, kematian adalah akhir periode kehidupan (duniawi) manusia sekaligus awal kehidupan yang baru. Kematian, dalam kaitannya dengan dunia, adalah sebuah kematian; tapi, dalam kaitannya dengan akhirat, kematian adalah sebuah kelahiran. Mirip dengan kelahiran bayi; dalam kaitannya dengan dunia, kelahiran bayi itu adalah suatu kelahiran; tapi dalam kaitannya dengan rahim, kelahiran itu adalah kematian.[]

[Baca juga: BUKU — Psikologi Kematian: Ketika Ketakutan Jadi Optimisme]

 

 

MM/ MK/ YS/ islam indoensia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *