Satu Islam Untuk Semua

Friday, 01 April 2016

KAJIAN – Kematian adalah Kesempurnaan


haidar-bagir-baru

Oleh Haidar Bagir

Menurut Lisaanul ‘Arab, kata “maut” berarti diam, padam, tenang, tak bergerak. Sebagaimana kehidupan bermula ketika ruh ditiupkan ke jasad, maka kematian terjadi ketika ruh terpisah dari badan. Maut juga berarti bergantinya cara berada, dan berpindahnya (sesuatu) dari satu tempat ke tempat lain. Sehingga menjadi jelaslah makna ucapan Rasulullah saaw. ketika ia mengatakan:

“Kalian diciptakan untuk keabadian, bukan untuk mengalami kemusnahan. Kematian sesungguhnya adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah lain. ” Yakni dari rumah dunia ke rumah akhirat.

Kematian, ungkap Syaikh Abbas al-Qummi, adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam. Atau, bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam atau gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.

Tapi, selain maut, al-Qur’an juga menggunakan istilah wafat untuk menunjuk makna mati. Istilah tawaffa – yang darinya kata “wafat” terbentuk– berarti mengambil sesuatu dan menerimanya secara sempurna. Contohnya, jika Anda mendapatkan kembali seluruh piutang Anda, dan bukan hanya sebagiannya, maka itu disebut sebagai tawaffa atau istifa. Al-Qur’an senantiasa mengaitkan kematian dengan “menerima secara sempurna.”

“Allah menerima (dengan sepenuhnya) jiwa-jiwa pada saat kematiannya.”

Di dalam surat al-Sajdah ayat 10 dan 11 Allah berfirman:

“Dan mereka berkata, ‘Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, kami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru?’ Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya * Katakanlah: Malaikat Maut yang ditugasi untuk mewafatkanmu dan kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Maka, mati berarti dipindahkannya, atau diserahkannya (ruh) si mayit dari satu alam ke alam lain. Malaikat-malaikat pesuruh Allah datang untuk menerimanya dan membawanya. Pada saat itu (ruh) manusia diterima dalam keadaan utuh, sempurna. Tak ada yang musnah, atau berkurang. Kemusnahan hanya bisa dilekatkan kepada dimensi wadag belaka.

Tapi, apa yang pindah? Apa yang kembali? Ke mana? Lalu apa yang terjadi dengan manusia di tempat-tinggal-barunya itu?

Kesempurnaan Setelah Kematian

Ketika mati, jasad kita pelan-pelan meluruh. Menuju kemusnahan. Tinggal jiwa kita, ruh kita.

“Jiwa adalah tempat bertemunya dua samudra,” demikian kata Mulla Sadra, “(pertemuan antara) yang jasadi dan yang ruhani …. Jika Anda lihat keadaannya sebagai penghuni dunia, Anda akan mendapatinya sebagai sumber segenap daya tubuh (daya makan, daya tumbuh, daya persepsi/mengindera, daya psikologis, daya berpikir) … Tapi jika Anda lihat keadaannya sebagai makhluk ruhani, maka Anda akan mendapati bahwa – dalam fitrahnya – ia melampaui semua bentuk, ruang, dan waktu…

Kematian terjadi segera setelah jiwa mengaktualisasikan seluruh potensinya. Karena tak lagi membutuhkan tubuh-jasmaniah, jiwa mencampakkannya demi terus maju ke tahapan berikut eksistensinya.

“Penjelasan bagi kematian fisik adalah bahwa jiwa mencapai kesempurnaan dan kebebasan, sehingga tiba saatnya ia beralih menuju dunia yang lain. Dengan kata lain, ia memutuskan hubungannya (dengan tubuh) dengan memperkuat hubungannya dengan tubuh yang lain (barzakhi), yang diperolehnya sesuai dengan kualitas-kualitas moral dan kesiapan-kesiapan kejiwaannya.”

Kata Mulla Shadra lagi: “Keterikatan jiwa dengan tubuh telah menghijabnya dari mempersepsi/merasakan hakikat-hakikat segala sesuatu. Pada gilirannya, kematian menyibak hijab itu:

‘Sesungguhnya kamu berada dalam kelalaian akan (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu teramat tajam.’ (QS 50 :22). Apa yang selama ini tersembunyi ketika manusia di dunia menjadi terungkap secara nyata.

Jadi, sebaliknya dari mengalami akhir kehidupan, manusia melanjutkan kehidupannya setelah kematian (fisik) ini. Bahkan lebih hidup lagi. Bahkan lebih lestari. Kehidupan setelah mati itulah kehidupan sejati. Bagaikan seseorang yang bangun dari tidur dengan mimpi yang panjang, kematian (fisik) telah menandai keterjagaannya. Persis kata Nabi:

“Sesungguhnya dalam kehidupan dunia ini manusia itu tertidur. Baru ketika mati ia terjaga.”

Mencapai derajat yang lebih tinggi adalah suatu keadaan yang dialami oleh (semua manusia) mukmin atau kafir …[i]

Siksaan adalah “Ciptaan” kita sendiri

Dalam kematian, simpul al-Ghazali, manusia tak menemukan apa-apa, kecuali atribut-atributnya sendiri, sifat dan wataknya sendiri, yang tak lagi terhijab oleh tubuh-jasmaniah, melainkan mengungkapkan diri mereka dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan tempat-tinggal barunya..

“(Pada hari itu) tiap-tiap manusia itu akan Kami kalungi di leher-leher mereka (segenap amal mereka),” firman Sang Pencipta dalam surah Al-Isra’ ayat 13.

Al-Qur’an menyebut Hari Kiamat – ketika amal-amal seluruh manusia diperhitungkan – sebagai saat-saat “apa yang ada di dalam dada diungkapkan” (Q.S. 100 : 10) dan “rahasia-rahasia dibongkar” (QS. 86 : 9).

Al-Qunawi menyatakan bahwa, setelah kematian, di alam barzakh, manusia akan mengambil bentuk jasmaniah sesuai dengan perilaku yang dominan pada dirinya ketika dia hidup di dunia (tajassum al-a’mal atau tajassud al-a’mal). Jadi, jika syahwat yang berkuasa, dia akan tampil sebagai babi, dan jika amarah yang angkara, dia akan tampil sebagai anjing. Demikian juga pandangan al-Farabi dan Mulla Sadra. Dalam penampilan dan cara seperti itulah kita harus mengarungi kehidupan yang jauh lebih panjang itu.

(Itulah) hari yang segenap jiwa akan mendapati semua amal-amal baiknya terhampar di depannya, demikian pula amal-amal buruknya. (Jiwa-jiwa) itu akan berharap akan adanya masa yang panjang di antaranya dan hari itu (QS. 3 : 30).

Semua atribut yang menguasai manusia di dunia ini akan mengungkapkan-diri kepadanya di alam barzakh dalam bentuk (forma) yang sesuai … Inilah makna sabda Nabi: ‘Manusia akan dikelompok-kelompokkan pada Hari Kebangkitan sejalan dengan niat-niatnya.’” []

[i] Tak ada kontradiksi antara kesempurnaan ini dan prospek penderitaan akibat siksaan api neraka bagi orang-orang yang bermoral buruk, di sisi lain. Malah sebaliknya, menurut Mulla Shadra, “…hal-hal ini hanya memperkuat kesimpulan kami. Kenyataan bahwa eksistensi manusia yang makin kuat berkat dia telah lepas dari selubung dan hijab material (justru) mengakibatkan dia akan merasakan intensitas yang makin tinggi dalam mengalami rasa sakit.”

 

AJ/Islam Indonesia

One response to “KAJIAN – Kematian adalah Kesempurnaan”

  1. Mulyata says:

    Jiwa yang tidak berkematian sudah dikaji sejak zaman Socrates dan Plato.
    Setiap aktivitas manusia selagi hidup mulai dari: (kata–> perbuatan–> kebiasaan–> karakter–> nasib ).

    Manusia dimisalkan hidup didalam balon yang sangat besar takterhingga, apa saja tindakan yang berujung kepada karakter akan memancar kealam raya dan akan memantul kembali kepada yang bersangkutan dalam bentuk nasib.
    Jika perbuatannya selama hidup selalu didasari iman dan amal saleh, maka nasibnya sesuai dengan apa yang sudah ia usahakan.
    Sebaliknya jika perbuatannya bertentangan dengan iman dan amal saleh, maka nasibnya akan sesuai dengan apa yang sudah diusahan tersebut.

    Segala perbuatan nanusia pada akhirnya akan dikembalikan kepadanya masing-masing tanpa ada yang dirugikan sedikitpun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *