Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 09 May 2017

KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (3- Selesai)


kehidupan-kematian

islamindonesia.id – KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (3 -Selesai)

 

Seperti diketahui, manusia memiliki kehendak bebas dalam beberapa persoalan pribadi atau sosial.

Baca juga : KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (Bagian 1)

Jika dikaji lebih dalam lagi, akan terlihat bahwa hanya bentuk kehidupan yang berkehendak-bebas inilah yang layak untuk mencapai Tuhan dan keabadian. Sebab, pencapaian kepada-Nya akan aktual ketika manusia mengaktifkan segala potensi, kekuatan dan kehendaknya di atas jalan menuju kesempurnaan.

Ketika itulah, manusia dapat mengatakan, “Katakanlah kepada mereka, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, kehidupan dan kematianku adalah milik Allah, Tuhan alam semesta”. (QS. al-Nahl: 162).

Baca juga : KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (Bagian 2)

Dalam konteks ini lah tujuan dan cita-cita yang adiluhung dibahas, yaitu filsafat kehidupan. Orang-orang yang menyadari tujuan manusia ini, baik yang umum maupun spesifik, telah mengemukakan begitu banyak tema yang menarik diperhatikan.

Pada akhirnya, mereka mengemukakan sepuluh persoalan sebagai tujuan dan filsafat kehidupan. Namun, tidak ada satupun yang dapat menjawab pertanyaan ini kecuali dalil Tuhan Bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah: 156).

Alasan nyata bagi klaim ini adalah bahwa jika kebenaran harus dipandang sebagai tujuan puncak kehidupan manusia, maka ia harusnya ditempatkan lebih mendasar, prioritas, daripada keinginan-keinginan lain yang berkaitan dengan eksistensi alamiah manusia. Dan tampaknya, kita pun mengejar tujuan yang lebih tinggi nilainya ini.

Jelas, tidak ada tujuan yang lebih tinggi daripada memasuki gravitasi Cahaya Tuhan. Ini tentu saja melampaui segala keinginan manusia di dunia.

Rumi menyatakan bahwa hal paling fundamental dalam filsafat kehidupan adalah keniscayaan bagi kita untuk membedakan tujuan dari bayangannya, dalam rangka mencari filosofi dan tujuan kehidupan sejati.

Sebab, kesenangan dan keuntungan apapun di dunia bergantung pada struktur spiritual dan alamiah manusia. Maka, baik kesenangan maupun keuntungan duniawi tidak dapat menjadi tujuan tertinggi. Sebab, keduanya adalah bagian dari kehidupan alamiah kita sementara tujuan akhir haruslah jauh melampaui eksistensi manusia di dunia. []

Selesai

 

YS/TJ/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *