Satu Islam Untuk Semua

Monday, 08 May 2017

KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (Bagian 2)


12-oversized-words-weltanschauung-967@1x

islamindonesia.id – KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (Bagian 2)

 

“Seandainya bergerak di jalan kesempurnaan yang benar, maka jiwa akan abadi dan selalu kekal seperti Tuhan. Namun, jika dia terlibat dalam hal-hal nista dan rendah, sudah pasti hubungannya dengan kerajaan Tuhan akan terputus dan akan terpapar oleh kerusakan abadi. Jiwa merupakan intisari terbaik dari kehidupan. Dia memiliki talenta-talenta beragam dan besar. Tiada (kata) akhir yang bisa kita bayangkan tentang jiwa.”

Baca juga: KAJIAN – Kehidupan dan Kematian dalam Dunia Tasawuf (Bagian 1)

Demikianlah pandangan para ahli hikmah tentang kehidupan yang merupakan manifestasi jiwa manusia di alam wujud. Bagi mereka, kebahagiaan sejati dicapai oleh orang-orang yang berusaha keras menggunakan talenta-talenta mereka. Sementara itu, mereka yang sejatinya mati ialah orang-orang yang tidak menggunakannya dengan benar.

Sebagaimana dikaji pada artikel sebelumnya, cahaya kehidupan selalu menyala. Jadi, kematian hanyalah sebuah tradisi dari satu rumah ke rumah lainnya. Maka dalam menjawab pertanyaan “Apa itu kematian?” hanya ada satu jawaban. Jawabannya tidak lain adalah sebuah pertanyaan: “Apa itu kehidupan?”

Bagaimana Anda mendefinisikan kehidupan? Selanjutnya, kita dapat mendefinisikan kematian.

Salah satu riset terbaik yang pernah dilakukan tentang ketakutan dan kesedihan akan kematian dibuat oleh Ibn Sina. Dalam tesisnya tentang bagaimana menghilangkan kesedihan akan kematian, Ibn Sina menyatakan,  alasan utama takut terhadap kematian adalah seseorang tidak mengetahui ke mana dia pergi setelah kematian dan apa nasibnya setelah kematian.

Karenanya, orang-orang seperti ini takut terhadap ketidaktahuan mereka sendiri dan bukan terhadap apa yang ada di balik kematian tersebut. Walaupun Ibn Sina menunjukan beberapa alasan lain tentang takut terhadap kematian, semuanya – kecuali satu alasan yang disebutkan di atas – tidaklah berdasar.

Karenanya, seorang sufi – yang memercayai keniscayaan perjumpaannya dengan Tuhan – menegaskan dan menjustifikasi kehidupannya dengan merenungkan ayat suci. Sedemikian, takut terhadap kematianpun menjadi tidak berarti baginya. Salah satu ayat itu ialah:

“Katakanlah kepada mereka, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah milik Allah, Tuhan alam semesta” (QS. al-An’am: 162).

Dalam tesis ini, Ibn Sina menyampaikan satu hal yang penting sekaligus bernilai untuk dibahas;

“Para ahli hikmah sesungguhnya menyatakan, ada dua jenis kematian dan kehidupan, yakni pertama, kematian disengaja dan kematian alamiah serta kedua, kehidupan disengaja (secara sukarela) dan alamiah.”

Dalam konteks ini Ibn Sina menjelaskan, “Kematian secara sukarela bermakna mengekang hawa nafsu hewani dan egoisme. Tidak memisahkan jiwa dari tubuh.”

Kehidupan alamiah menunjukkan jenis kehidupan di mana manusia berusaha untuk mendapatkan tempat tinggal dan pakaian yang baik, serta menghindari bencana bagi keberlangsungan kehidupan itu sendiri.

Adapun kehidupan disengaja (sukarela) adalah ketekunan jiwa melalui ilmu. Sedangkan kematian alamiah bermakna berpisahnya jiwa dari tubuh dan inilah akhir kehidupan yang penting bagi kesempurnaan kehidupan.

Menggunakan istilah “kematian alamiah” untuk menunjukkan berpindahnya jiwa dari tubuh memang hal yang benar. Namun, menggunakan istilah “kematian sukarela” – dengan ciri keabadian dan hanya berkaitan dengan jiwa atau diri, – lalu mengaitkannya dengan eksistensi kehidupan alamiah manusia tidaklah dapat segera dipahami. Harus dijelaskan, bahwa kehidupan alamiah dari jiwa atau diri dengan tujuan mencapai kesempurnaan sudah pasti benar.

Namun jika “kehidupan alamiah” yang dimaksud menunjuk kepada kehidupan alamiah hewani yang dikelola oleh “diri” alamiah, maka kehidupan seperti itu merupakan “tempat bermain” yang tidak abadi, sebagaimana Al-Qur’an menyebutnya. Tak ada indikasi kehendak sukarela menuju jalan Tuhan di dalamnya.[]

 

Bersambung

 

YS/TJ/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *