Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 14 January 2018

Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 7)


Revolusi Iran tahun 1979. Photo: AP

islamindonesia.id –  Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 7)

 

Pasang Surut Program Nuklir Iran

Ketertarikan Amerika Serikat (AS) terhadap pengembangan nuklir Iran dapat ditelusuri sejak tahun 1950-an ketika AS menggalakan program nuklir untuk perdamaian. Saat itu AS menandatangani perjanjian kerjasama nuklir dengan Iran. Sebelum jatuhnya Shah pada tahun 1979, sepanjang periode Shah berkuasa  AS menyediakan berbagai jenis pelatihan dan bantuan teknis pengembangan nuklir ke Iran. Presiden Gerald Ford, misalnya, pada tahun 1976 tertarik untuk menyediakan peralatan pengayaan nuklir terhadap Iran. Iran juga mengejar berbagai jenis kerjasama nuklir dengan negara lain, termasuk Afrika Selatan dan Cina.[1]

Kebanyakan dari kerjasama tersebut tidak secara langsung menunjukkan kegiatan proliferasi nuklir, namun transfer teknologi nuklir yang didapatkan oleh Iran pada waktu itu bersifat dualisme, satu sisi benar-benar untuk kepentingan sipil, sisi lain berpotensi untuk dijadikan senjata. Shah memahami dengan jelas realitas ini dan mungkin secara diam-diam telah memiliki rencana tersendiri, berdasarkan sikapnya yang benar-benar kooperatif dengan AS mau pun negara-negara lainnya Shah mungkin memikirkan opsi untuk mengembangkan senjata nuklir.[2]

Setelah Shah digulingkan pada tahun 1979, kecurigaan AS tentang motivasi kepemilikkan senjata nuklir Iran meningkat. Hal tersebut dapat dipahami karena  Ayatullah Khomeini  yang berhasil naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1979. Tidak lama kemudian Iran menciptakan krisis penyanderaan selama 444 hari dari tanggal 4 November 1979 sampai dengan 20 Januari 1981 terhadap orang-orang di Kedubes AS di Iran yang pada akhirnya berakibat putusnya hubungan diplomatik antara kedua negara.[3]

Setelah revolusi, akhirnya  Iran berpaling ke Pakistan untuk meminta bantuan untuk memajukan program nuklirnya yang tertinggal. Bagi pemerintah AS, opsi sementara yang bisa dilakukan melalui jalur diplomasi adalah mengakhiri atau memperlambat program senjata nuklir Iran. Meskipun demikian, di masa jabatan kedua Clinton, pada bulan Maret dan Mei 1995, dia menandatangani Executive Orders yang  melarang perusahaan dari  AS melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan Iran.[4]

Seperti Pakistan dan Korea Utara, Iran telah menempuh jalan panjang untuk dapat mengembangkan teknologi nuklir dan persenjataan nuklir. Bantuan teknis Pakistan pada pertengahan 1980-an terbukti menjadi kontributor utama terhadap kepentingan Iran dalam mengembangkan teknologi nuklir. Setelah meninggalnya pemimpin spiritual tertinggi  Iran, Ayatollah Khomeini, di tahun 1989, penggantinya, Ayatollah Khamenei, bersama Presiden Iran saat itu, Rafsanjani, memperlihatkan ketertarikan terhadap nuklir yang bukannya menurun, namun malah semakin meningkat. Dengan dukungan politik dari pemimpin tertinggi, kegiatan pengadaan alat-alat pendukung program nuklir Iran meningkat secara dramatis, secara gencar mereka mencari perlengkapan-perlengkapan tersebut ke wilayah Eropa.[5]

Di beberapa tempat usaha tersebut berhasil, sementara di tempat lain menemui kegagalan. Iran menyadari bahwa usaha pengadaan tersebut tidak akan berhasil apabila hanya dilakukan oleh pihak mereka sendiri, kemudian Iran menghubungi Abdul Qadeer Kahn[6], seorang ilmuwan senjata nuklir asal Pakistan, untuk meminta bantuan. Khan yang telah berpengalaman tentunya mempunyai jaringan yang jauh lebih kuat dibanding Iran. Pada tahun 1994, kesepakatan bilateral antara Iran dan Pakistan tercapai, Pakistan akan memasok desain sentrifugal P-1 versi lama; dan desain-desain, komponen-komponen, dan gambar rancangan desain sentrifugal yang lebih mutakhir, P-2.[7]

Abdul Qadeer Kahn, ilmuwan senjata nuklir asal Pakistan. Photo: AP

Abdul Qadeer Kahn, ilmuwan senjata nuklir asal Pakistan. Photo: AP

Pada tahun 1995 program Iran mulai bergerak ke arah yang baru. Kegiatan pengayaan nuklir Iran yang tadinya dilakukan secara terang-terangan di bawah Tehran Nuclear Technology Center dialihkan ke sebuah perusahaan listrik, Kalaye Electric Company. Dengan demikian kegiatan nuklir Iran menjadi tersembunyi dan sulit untuk dilihat segala macam perkembangannya.[8]

Pada tahun yang sama Rusia menandatangani kontrak sebesar  800 juta USD untuk membangun dua reaktor air ringan  Iran di Bushehr. AS meyakini bahwa di permukaan, reaktor di Busher hanya memperlihatkan pengolahan air dalam batas aman, sementara pengolahan lainnya, pengolahan untuk memproduksi plutonium yang dapat digunakan untuk membuat bom telah dipindahkan ke tempat lain. Apa yang dikhawatirkan oleh AS adalah kehadiran para teknisi ahli nuklir Rusia di Teheran. Dari waktu ke waktu, ratusan teknisi Rusia bekerja dalam berbagai aspek dalam proyek Busher. Kehadiran mereka dikhawatirkan akan dimanfaatkan untuk kepentingan pembuatan senjata nuklir. [9]

Pada akhir tahun 1995, Iran menghubungi  Rusia kembali untuk meminta bantuan khusus. Iran tampaknya kecewa dengan kualitas bahan-bahan yang dikirimkan oleh AQ Khan di masa lalu. Pemerintah Iran membuat penawaran resmi terhadap pemerintah Rusia untuk membeli seluruh program pembangunan pabrik sentrifugal. Jika hal tersebut terjadi, maka Teheran setidaknya  akan mendapatkan 10.000 peralatan khusus yang lebih dari cukup untuk mempercepat program pengayaan nuklir. Pemerintahan Clinton bergerak cepat dan melakukan diplomasi dengan pihak Rusia untuk menghentikan permintaan Iran terhadap Rusia tersebut. Beruntung, melalui pendekatan yang tepat AS berhasil meyakinkan Rusia untuk membatalkan proses jual beli tersebut.[10]

Bersambung ke: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 8)

Sebelumnya: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 6)

PH/IslamIndonesia

Catatan Kaki:

[1] Jack Caravelli, Nuclear Insecurity: Understanding the Threat from Rogue Nations and Terrorists, (London: Praeger Security International, 2008), hlm 94-95

[2] Ibid.

[3] Ibid., hlm 95

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 96.

[6] “Abdul Qadeer Khan”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Abdul-Qadeer-Khan, diakses 13 Januari 2018.

[7] Jack Caravelli, Loc. Cit.

[8] Thérèse Delpech, “What Transatlantic Strategy On Iran?”, dalam Henry Sokolski dan Patrick Clawson (Eds), ‘‘Getting Ready for a Nuclear Iran,’’ (E-Book by www.strategicstudiesinstitute.mil.army, 2005), hlm 288.

[9] Jack Caravelli Op. Cit., hlm 96-97.

[10] Ibid., hlm 97.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Desktop Version | Switch To Mobile Version