Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 10 January 2018

Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 4)


Condoleezza Rice. Photo: AP

islamindonesia.id –  Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 4)

Penolakan Amerika Serikat terhadap Kepemilikkan Nuklir Iran

Titik persoalan yang mendasari permusuhan Amerika Serikat (AS)-Iran adalah kekhawatiran AS terhadap kepemilikkan Iran atas senjata nuklir. Kekhawatiran ini muncul dikarenakan AS memiliki pengalaman buruk dengan teroris. Teroris dalam sudut pandang AS identik dengan Muslim Radikal yang menggunakan kekerasan untuk mewujudkan tujuannnya. Dalam beberapa hal, dalam sudut pandang AS, Iran memiliki kecenderungan untuk berbuat radikal. Munculnya pandangan tersebut minimal dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan Presiden Iran pada waktu itu, Mahmoud Ahmadinejad, yang keras.

Selain persoalan di atas, secara historis, melalui revolusi Iran 1979, AS dan Iran memiliki sejarah masa lalu yang buruk. Di masa sebelum revolusi, Iran dikenal sebagai sekutu AS di Timur Tengah. Namun dikarenakan revolusi tersebut, Iran tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat menjadi memusuhi AS. Tidak hanya AS yang mengecap Iran dengan label buruk, “The Axis of Evil”, Iran pun mengecap AS dengan label “The Great Satan”. Sejarah yang buruk tersebut paling tidak dapat membuat AS sangat khawatir dengan keamanan negerinya. Jadi, baik AS mau pun Iran, satu sama lain saling memandang sebagai musuh.[1] Tentu saja, bagaimanapun kepemilikkan nuklir oleh negara musuh adalah sesuatu yang sangat ditakutkan oleh negara mana pun.

Iran secara terus terang mengumumkan bahwa negaranya sedang mengembangkan nuklir untuk kepentingan energi yang  diklaim demi tujuan damai, bukan permusuhan. Tapi, AS tidak mempercayai begitu saja, AS malahan menuduh Iran sedang mengembangkan nuklir sebagai senjata pemusnah massal. Dalam setiap pernyataan yang disampaikan terkait isu nuklir Iran ini, kedua negara saling menyerang satu sama lain. Uniknya, ketika AS di bawah kepemimpinan George W. Bush, hubungan bilateral di antara kedua negara ini tidak pernah terjadi secara resmi. Hanya berlangsung melalui media-media saja.[2]

AS di bawah kepemimpinan Bush cenderung tidak peduli dengan setiap argumen yang disampaikan Iran bahwa nuklir yang sedang mereka bangun untuk perdamaian. Yang diinginkan AS adalah Iran sama sekali tidak memiliki kemampuan nuklir, dalam hal apa pun. Oleh karena ini melalui berbagai macam cara AS harus bisa menghentikan kegiatan pembangunan nuklir Iran, tidak menutup kemungkinan perang pun dapat dilakukan, seperti apa yang terjadi pada Irak sebelumnya. Simak pidato Bush pada anggota kongres AS di tahun 2002 mengenai penolakan terhadap pemerintah Iran dan aktivitas terorisnya:

“Iran secara agresif mengejar senjata dan mengekspor teror, sementara sebagian kecil yang tidak diinginkan menindas harapan rakyat Iran untuk kebebasan…. Negara-negara seperti ini, dan sekutu teroris mereka, merupakan suatu poros kejahatan (axis of evil), mempersenjatai untuk mengancam perdamaian dunia. Dengan mencari senjata pemusnah massal, rezim  ini menimbulkan ancaman kematian dan bahaya besar yang terus berkembang. Mereka mampu menyediakan senjata untuk teroris, memberikan mereka sarana untuk melampiaskan kebencian mereka. Mereka bisa menyerang sekutu kita atau berusaha untuk memeras Amerika Serikat. Dalam setiap kasus ini, ketidakpedulian akan menjadi bencana …. Perang kita melawan teror telah dimulai, tetapi ini hanyalah permulaan. Kampanye ini tidak akan selesai hanya dengan pengawasan kami, namun harus dan akan diperangi melalui pengawasan kami.”[3]

Kemudian, AS pun berganti kepemimpinan, kali ini yang berhasil naik menjadi Presiden adalah seseorang dari kubu partai oposisi, yakni Demokrat. Adalah Barack Obama yang pada tahun 2008 berhasil naik menjadi President AS. President kulit hitam pertama di AS. Tidak seperti Presiden sebelumnya, Obama menawarkan cara berinteraksi yang baru dengan Iran, yakni dengan cara diplomasi yang lebih halus. Di dalam kampanyenya Obama menawarkan kemungkinan untuk berdiplomasi dengan Iran. Simak pernyataan Obama:

“Untuk memperbarui kepemimpinan Amerika di dunia, saya berniat untuk membangun kembali aliansi, kemitraan, dan institusi yang diperlukan untuk menghadapi ancaman umum dan meningkatkan keamanan bersama. Kebutuhan aliansi dan institusi ini akan reformasi tidak akan datang dengan mengintimidasi negara-negara lain untuk meratifikasi perubahan yang kami rencanakan melalui isolasi. Ini akan datang ketika kita meyakinkan pemerintah dan rakyat lainnya bahwa mereka juga memiliki kepentingan dalam kemitraan yang efektif.”[4]

Di bawah kepemimpinan Obama, pada 6 Desember 2010, AS, Prancis, Rusia, Inggris, China, dan Jerman  mengadakan dialog dan perundingan di Jenewa bersama Iran. Pertemuan ini baru terlaksana setelah diusulkan satu tahun sebelumnya. Pertemuan ini apabila berjalan lancar akan menjadi suatu peristiwa yang langka apabila dibandingkan dengan kepemimpinan Bush sebelumnya yang sama sekali menutup kemungkinan untuk berdialog secara langsung dengan Iran.[5]

Namun, siapapun presidennya,  kepemilikkan nuklir Iran merupakan sesuatu yang tidak bisa luput dari perhatian AS. AS meyakini Iran telah dan sedang mengembangkan senjata nuklir. Walaupun Iran sebagai negara anggota NPT, menurut AS reaktor nuklir yang sedang dibangun Iran dengan bantuan Rusia tersebut sangat potensial untuk bisa dikembangkan ke arah pembangunan reaktor untuk senjata nuklir. Prediksi AS pada waktu itu adalah pada tahun 2015 Iran diyakini akan mampu membuat senjata nuklir.[6]

Selain itu, walaupun Iran tidak dikait-kaitkan dengan kejadian 9/11, tetapi Iran diidentifikasi sebagai negara yang mendukung terorisme. Departemen luar negeri  AS mencatat bahwa Iran dicurigai terkait dengan kejadian pengeboman Menara Khobar di pangkalan militer AS, Saudi Arabia pada Juni 1996.[7] Teheran juga diyakini campur tangan terhadap isu konflik Palestina-Israel dengan mensponsori organisasi teroris seperti Hamas, Hisbullah, dan Islamic Jihad dengan cara membantu secara ekonomi, militer, dan politik.[8]

Iran dianggap membahayakan kepentingan nasional AS, seperti apa yang telah diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika di masa administrasi Bush, Condoleeza Rice: “Perilaku Iran menempatkan tepat di “poros setan” (axis of evil)—apakah itu senjata pemusnah massal atau terorisme atau hal-hal yang berkaitan dengan itu. Ini situasi yang rumit, tapi saya pikir perilaku menunjukkan jati dirinya”.[9]

Selain tuduhan teroris, permusuhan AS terhadap Iran juga dipengaruhi kegiatan Kristen-Zionis di sistem politik AS. Sejak lama Israel melihat bahwa Iran merupakan sebuah ancaman regional. Di mata AS, Israel merupakan sebuah negara yang selalu harus dibela kepentingannya. Israel memiliki sejarah permusuhan yang panjang dengan Iran. AS sebagai pembela Israel tentu saja melihat Iran sebagai musuh juga.[10]

Israel merupakan negara yang memiliki banyak musuh di Timur Tengah. Kemunculan Iran dengan teknologi nuklir merupakan sebuah kemajuan besar, Iran akan dipandang sebagai negara besar. Kebangkitan Iran akan membuat repot AS dikarenakan apabila Iran bangkit akan memacu negara-negara di sekitarnya untuk membangkitkan diri juga.[11]

Bersambung ke: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 5)

Sebelumnya: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 3)

PH/IslamIndonesia

Catatan Kaki:

[1] Paul Rogers, A War Too FarIraq, Iran And The New American Century (London: Pluto Press, 2006), Hlm 220.

[2] William O. Beeman, The ‘Great Satan’ vs. The ‘Mad Mullahs’ : How The United States And Iran Demonize Each Other (London: Praeger, 2005), hlm 5.

[3] Bush State of the Union address, dalam http://edition.cnn.com/2002/ALLPOLITICS/01/29/ bush.speech.txt/,  diakses 9 Januari 2018.

[4] Stanley A. Renshon, National Security In The Obama Administration : Reassessing The Bush Doctrine (New York: Routledge, 2010), hlm 5.

[5] Julian Borger, “Iran nuclear talks under way in Geneva, dari laman https://www.theguardian.com/world/2010/dec/06/iran-nuclear-talks-geneva, diakses 9 Januari 2018.

[6] Dennis C. Blair, Annual Threat Assessment of the Intelligence Community for the Senate Select Committee on Intelligence, (Director of National Intelligence, 12 February 2009), hlm 20.

[7] Robert J. Pauly, Jr., Op. Cit, hlm 79-80

[8] “The Spectre of being Next in Line,” The Economist, dalam  http://www.economist.com/node/1079798, diakses 9 Januari 2018.

[9] Robert J. Pauly, Jr., Loc. Cit.

[10] Paul Rogers, Op. Cit., hlm 219.

[11] Ibid. Hlm 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *