Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 11 January 2018

Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 5)


Raja Saud bin Abdul Aziz ketika berkunjung ke Iran tahun1955. Photo: kingsaud.org

islamindonesia.id –  Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 5)

 

 

Tumbangnya Strategi Menara Kembar

Oposisi Timur Tengah terhadap negara-negara Barat sebenarnya jauh lebih besar dan kompleks ketimbang fenomena yang terjadi pada periode tahun 2000-an: Iran, Irak, Osama bin Laden, Taliban, atau pun Palestina. Oposisi ini telah tumbuh secara konsisten sejak awal abad ke-19 sebagai kekuatan oposisi yang efektif, baik terhadap Barat maupun penguasa sekuler setempat. Pada abad ke-20 kekuatan Barat telah dibutakan  terhadap kekuatan oposisi di seluruh Timur Tengah karena Barat disibukkan oleh persaingan kekuatan besar di masa Perang Dunia dan Perang Dingin.[1]

Warga Amerika Serikat (AS) percaya bahwa peristiwa seperti krisis penyanderaan kedubes AS di  Iran pada 1979-81 atau serangan mengerikan di New York dan Washington pada 11 September terjadi semata-mata sebagai akibat dari permusuhan yang belum lama terjadi. Padahal setiap akar konfrontasi modern yang terjadi antara AS dan Timur Tengah telah terjadi lebih dari 150 tahun yang lalu. Semua muncul dari satu sumber: warisan hubungan yang buruk antara kekuatan kolonial Eropa, dengan siapa Amerika Serikat terkait, dan bagaimana mereka berinteraksi di Timur Tengah.[2]

Pemimpin perlawanan Timur Tengah terhadap Barat adalah Jamal ad-Din al-Afghani (1838-1897), yang dijuluki “Bapak Modernisme Islam”. Al-Afghani dididik di Najaf, Iran, dan di kota-kota lain tempat keramat Syiah yang keberadaannya di Irak dan India sampai saat ini masih berdiri. Pada 1865-1866, setelah beberapa tahun tidak mempunyai tempat tinggal yang pasti, dia kembali ke Teheran, kemudian pergi ke Masyhad dan akhirnya menetap di Herat di Afghanistan, tempat memulai karirnya sebagai seorang tokoh politik keagamaan.  Dia kemudian melakukan perjalanan ke seluruh dunia Islam, sambil menyebarkan sebuah gerakan “Reformasi Islam”.[3]

Al-Afghani menggunakan ideologi Islam untuk mengatasi perbedaan etnis di wilayah tersebut, dan selain itu menyebarkan pesan-pesan yang mudah dimengerti sehingga semua orang dapat paham. Dia berusaha untuk memobilisasi negara-negara Muslim untuk melawan imperialisme  Barat dan untuk melancarkan aksinya dia juga mengakuisisi teknologi  militer modern. Al-Afghani mengklaim bahwa Inggris, Perancis, dan Rusia yang beroperasi di wilayah Timur Tengah merampok kekayaan rakyat melalui pengeksploitasian  sumber daya alam dan sumber daya-sumber daya komersial lainnya.[4]

Kegiatan Al-Afghani dan para pengikutnya membuahkan hasil, yakni berkembang pesatnya kelompok Ikhwanul Muslimin di seluruh wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Ikhwanul Muslimin menganut tiga prinsip dalam kegiatan politik dan agama mereka: kesalehan pribadi yang dipadukan dengan penyebaran agama, modernisasi agama, dan perlawanan terhadap rezim sekuler. Menurut mereka, negara-negara Barat telah melakukan kejahatan terhadap dunia muslim.[5]

Setelah Perang Dunia I, masyarakat Timur Tengah diperlakukan buruk oleh negara-negara Eropa yang mempunyai basis militer kuat, mereka dijadikan sebagai hadiah perang dan dibagi-bagi seperti layaknya barang rampasan. Inggris dan Perancis tanpa persetujuan maupun konsultasi dengan masyarakat sekitar—membagi-bagi negara-negara di Laut Mediterania dan Teluk Persia untuk keuntungan mereka sendiri. Perilaku ini kemudian meningkatkan kebencian dari para pengikut fundamentalis terhadap kehadiran Barat dan melakukan perlawanan.[6]

Setelah Perang Dunia II berakhir, Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam Perang Dingin memperebutkan negara-negara di Timur Tengah. Pemerintah negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir, Sudan, Irak, dan Suriah secara konstan ditekan untuk memilih antara Timur dan Barat. Seringkali mereka diiming-imingi oleh “hadiah” berupa kekuatan militer untuk mendapatkan posisi menjadi rezim di negara bersangkutan.[7]

Dengan dukungan berupa uang maupun senjata baik dari Moskow mau pun Washington, para penguasa di Timur Tengah dapat dengan mudah menekan kaum fundamentalis yang menentang mereka. Perilaku pemerintah ini telah membuat para tokoh agama menjadi marah. Pada level ini, karena frustasi dengan tekanan yang menimpa mereka, cara-cara politik formal konvensional mulai ditinggalkan oleh kaum fundamentalis. Mereka memutuskan mengambil cara-cara perang fisik untuk melakukan perlawanan.[8]

Setelah 1972, Amerika Serikat menjadi satu-satunya wakil negara-negara Barat yang eksis di Timur Tengah, yaitu ketika Inggris sudah merasa tidak mampu lagi mempertahankan kekuatan militer penuh. Untuk melindungi kepentingan AS dari Uni Soviet— berupa membagi kebutuhan minyak, Washington menopang pemerintahan dua negara besar di Timur Tengah, yaitu Iran dan Arab Saudi. Strategi ini disebut “Strategi Menara Kembar” (Twin Pillar Policy), yang berakhir ketika terjadi revolusi di Iran pada tahun 1979 yang mengakibatkan kekacauan besar terhadap struktur militer AS di Timur Tengah.

Raja Saud bersama Kaisar Mohammad Reza Pahlavi dan istrinya, Permaisuri Soraya Bkhittar, kunjungan ke Iran tahun 1955. Photo: kingsaud.org

Raja Saud bersama Kaisar Mohammad Reza Pahlavi dan istrinya, Permaisuri Soraya Bkhittar, kunjungan ke Iran tahun 1955. Photo: kingsaud.org

Hubungan AS-Iran sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Sejak kepemimpinan Syah Pahlevi di era 1970-an, AS telah memiliki hubungan dengan Iran. Pada saat itu Iran masih menjadi sekutu kuat AS di Timur Tengah bersama dengan Arab Saudi. Namun, semenjak tahun 1979, ketika terjadi revolusi Iran, hubungan itu berbalik menjadi permusuhan. Perlu diketahui, pengembangan nuklir Iran sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman Syah Pahlevi, namun pada waktu itu AS tidak terlalu mengkhawatirkan nuklir Iran karena Iran masih menjadi sekutu AS.[9]

Setelah rezim sokongan AS di Iran tumbang oleh oposisi yang dipimpin oleh Imam Khomeini, Iran berbalik menjadi musuh AS. Ketika Iran berperang dengan Irak, AS mendukung Saddam Hussein untuk mencegah Iran keluar sebagai pemenang. Juga, karena cemas terhadap kemungkinan Uni Soviet melakukan ekspansi ke Afghanistan, AS kemudian menyokong  Taliban sebagai kekuatan pembendung. Dua kekuatan besar ini—Saddam Husein dan Taliban—tiada lain merupakan monster yang diciptakan AS.[10]

Bersambung ke: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 6)

Sebelumnya: Kajian – Isu Nuklir dalam Dinamika Politik Timur Tengah (Bagian 4)

PH/IslamIndonesia

Catatan Kaki:

[1] William O. Beeman, “The ‘Great Satan’ vs. The ‘Mad Mullahs’ : How The United States And Iran Demonize Each Other” (London : Praeger, 2005), hlm 1-2.

[2] Ibid, hlm 2

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid., hlm 2-3.

[8] Ibid.

[9]  Ibid., hlm 3.

[10] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *