Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 21 August 2016

TANGGAPAN – “Politisasi Doa Memang Kebangetan Tenan”


photo_2016-08-20_18-03-34

IslamIndonesia.id – “Politisasi Doa Memang Kebangetan Tenan”

 

Sembari mengutip hadist tentang doa untuk pemimpin yang menyusahkan rakyatnya (HR. Muslim, 9/351), seorang netizen berkata, “Beri tahu Gus Mus doa ini, mungkin beliau lupa.” Demikian satu komentar dari sekian orang yang menanggapi artikel “Soal Politisasi Doa, Gus Mus: Kebangetan Tenan” yang diturunkan IslamIndonesia, 18 Agustus lalu.

Screen Shot 2016-08-21 at 1.53.33 AM

“Allah saja mengajak umat Islam untuk tidak memilih pemimpin yang bukan dari golonganmu, masa doa gitu dibilang ngajak Allah berkampanye. Justru doanya itu untuk meminta pada Allah kok.  Gak ada kata-kata mengajak. Kalau merasa tersindir berarti emang benar pembohong dan arogan,” komentar akun lainnya, Ivan Bojhon, 18/8.

Tanggapan termasuk kritik yang masuk ke redaksi secara umum ialah soal apakah tidak boleh berdoa agar Tuhan melindungi hambaNya dari pemimpin khianat? Apakah setiap doa yang menyinggung pemimpin adalah bentuk politisasi hingga termasuk yang dikatakan Gus Mus sebagai ‘kebangetan tenan’?

Meski artikel soal ‘politisasi doa’ ini turun setelah Muhammad Syafi’i membacakan doanya yang menyindir pemimpin khianat di Gedung Senayan, Jakarta (16/8), tetapi artikel itu tidak memastikan bahwa anggota DPR ini telah melakukan ‘politisasi doa. Karena, politisasi itu, jika memang ada, tersimpan dalam motif pembacaan doa itu, sebagaimana kata Ali Maschan Moesa.

“Politisasi agama berarti menggunakan simbol-simbol agama untuk menggerakkan massa, mengaduk-aduk emosi keagamaan, menjalin kekuatan di parlemen, dan seterusnya, tetapi tujuannya untuk kepentingan politik, bukan kepentingan agama,” kata Ali dalam karyanya ‘Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama’ (2012).

Oleh sebab itu, redaksi – seperti dalam artikel sebelumnya, – menyatakan, “Meskipun sebagai oposisi pemerintah, tidak mudah menilai Syafi’i telah melakukan ‘politisasi doa’. Di sisi lain, melihat kenyataan politik Indonesia, juga tidak mudah membenarkan motif politisi untuk tujuan agama semata.”

Lalu untuk apa lagi membahas anggota komisi III itu dengan doanya yang tidak ada orang bisa memastikan motifnya kecuali dirinya sendiri. Syafi’i juga telah menegaskan bahwa niat doanya untuk perbaikan, bukan untuk kampanye politik, atau intruksi partainya. Selain itu, Syafi’i menggambarkan derasnya pujian yang datang padanya lepas pembacaan doa itu.

“Yang saya terima (pesan singkat) abis doa. Saya sampai harus 3 kali ngecas HP. Sampai hari ini lebih dari 1000-an yang masuk. Isinya 100 persen mengapresiasi. Banyak yang apresiasi, saya bangga sekali,” kata eks kader PPP itu seperti dikutip Merdeka.com Kamis (18/7).

Dengan demikian, artikel sebelumnya “soal politisasi doa”, tidak membahas lebih lanjut apakah Syafi’i melakukan politisasi agama atau tidak. Substansi persoalannya ialah motif prilaku, bukan ‘siapa’ yang melakukan. Yaitu, tentang prilaku yang memang bertujuan mengeksploitasi agama, tak terkecuali pembacaan doa di ruang publik, untuk kepentingan politiknya.

Adapun urgensi memahami perbedaan antara prilaku dan orang yang melakukan, telah ditegaskan kembali oleh KH. Musthafa ‘Gus Mus’ Bisri kemarin.

“Bencilah perilakunya yang tidak baik. Jangan membenci orangnya. Karena orang masih bisa memperbaiki diri dan menjadi baik,” katanya di akun twitter pribadinya, 19/8.

Baca juga: (Fatwa Jum’at Gus Mus: “Bencilah Perilakunya, Jangan Benci Orangnya”)

Siapa pun itu, politisi atau bukan, jika mengeksploitasi agama dengan tujuan kepentingan nafsunya semata termasuk ‘kebangetan tenan’. Politik bukanlah sesuatu yang kotor dalam Islam, karena agama ini pun – lewat para rasul – telah mengajarkan, bahkan memberi contoh bagaimana prilaku politik yang bermartabat itu.

Atas dasar ini, hadist tentang doa Nabi – “Ya Allah, barang siapa yang mengurus urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia…” tidak menafikan adanya ‘politisasi doa’. Masalahnya, apakah Nabi berdoa atas motif pesanan kepentingan politik tertentu atau benar-benar untuk keselamatan umatnya? Jika ada umatnya menjawab yang pertama, berarti orang itu “kebangetan tenan”. Termasuk jika masih ada umatnya yang menjual simbol-simbol agama demi rating popularitas partainya, maka saran Gus Mus untuk mereka mungkin relevan.

“Kalau nggak bisa berpolitik, ya nggak usah berpolitik lah,” kata ulama senior asal Rembang ini seperti dikutip portal resmi NU. []

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *