Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 18 August 2016

KHAS–Soal Politisasi Doa, Gus Mus: Kebangetan Tenan


Syair-KH-Ali-bin-Maksum-oleh-Gus-Mus-480x350

IslamIndonesia.id – Soal Politisasi Doa, Gus Mus: Kebangetan Tenan

 

Doa yang disampaikan anggota DPR Muhammad Syafi’i (16/8 ) di Senayan, Jakarta, menuai beragam komentar. Di depan hadirin sidang paripurna soal APBN 2017, anggota DPR dari Fraksi Gerindra ini membacakan doa diikuti sindiran yang dinilai ditujukan pada pemerintahan Jokowi.

Syafi’i membantah jika pembacaan doanya yang menyindir kinerja pemerintahan hingga menyebut insiden bentrokan di Medan baru-baru ini bertujuan politis. “Itu spontanitas saja,” katanya saat ditanya wartawan.

Meskipun sebagai oposisi pemerintah, tidak mudah menilai Syafi’i telah melakukan ‘politisasi doa’. Di sisi lain, melihat kenyataan politik Indonesia, juga tidak mudah membenarkan motif politisi untuk tujuan agama semata.  Jika berangkat dari defenisi Ali Maschan Moesa, politisasi agama memang tidak jarang tercium khususnya untuk menggalang suara di pilkada atau dalam rangka menjatuhkan lawan politik.

Moesa dalam bukunya ‘Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama’ (2007) mengatakan, politisasi agama berarti menggunakan simbol-simbol agama untuk menggerakkan massa, mengaduk-aduk emosi keagamaan, menjalin kekuatan di parlemen, dan seterusnya, tetapi tujuannya untuk kepentingan politik, bukan kepentingan agama.

Maraknya politisasi simbol-simbol agama ini juga tercermin dari keprihatinan sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim. KH. Ahmad Mustofa Bisri misalnya, sempat menyatakan prihatin dengan sejumlah kelompok yang kerap memanfaatkan agama demi kepuasan nafsu politiknya. Selain mencoreng citra agama, kata Gus Mus, sikap ini merupakan cermin ketidakmampuan mengenali Tuhannya. Mengikutsertakan agama untuk kepentingan tertentu, seperti kampanye politik, adalah tindakan berlebihan.

“Gusti Allah diajak kampanye. Kebangetan tenan, kurang ajare nemen banget. Gusti Allah kok diajak kampanye. Kalau nggak bisa berpolitik, ya nggak usah berpolitik lah,” katanya sebagaimana dikutip dalam portal resmi Nahdatul Ulama beberapa waktu silam.

Menurut jebolan Al Azhar Mesir ini, perilaku keberagamaan harus ditunjukkan secara sederhana dan bijaksana. Tak cukup mengandalkan semangat mencintai Allah, tanpa disertai pengenalan secara mendalam tentang Allah.

Intelektual Nahdatul Ulama, Abdul Waid menambahkan, jika politik diperjuangkan untuk kepentingan agama, barangkali tidak akan menjadi masalah. Namun, katanya di Harian Kompas, jika agama dieksploitasi untuk kepentingan politik seperti penggunaan simbol-simbol agama dan ajaran agama hanya demi tujuan mencapai kemenangan politik, di sinilah mulai terjadi pelecehan agama.

Apalagi jika ulama yang mengeksploitasi agama demi kepentingan dunia. Mengutip Imam Al Ghazali, Waid memasukkan ulama itu dalam kategori ‘ulama al-syuk’, yaitu ulama yang menjual ayat dengan murah, mencari legitimasi murahan yang bersumber dari ajaran agama untuk mencapai hasrat keduniaannya. []

 

YS/IslamIndonesia

3 responses to “KHAS–Soal Politisasi Doa, Gus Mus: Kebangetan Tenan”

  1. Setuju Gus, ybs mungkin tau adab berdoa tapi tidak menfamalkannya

    • ivan bojhon says:

      Allah aja mengajak umat muslim utk tidak memilih pemimpin yg bukan dari golongan mu… masa doa gitu dibilang ngajak Allah berkampanye.. justru doanya itu utk meminta Pada Allah kok.. gak ada kata2 mengajak… kalau merasa tersindir berarti emang benar pembohong dan arogan

      • CogitoErgoSum says:

        Van, mikir pake otak yg di kepala, jangan yg di dengkul. Kamu diajari siapa kalo Allah ngajak umat muslim milih pemimpin yg bukan golonganmu? Itu dogma dan doktrin konyol, guoblog, pekok tenan! Ngapain Allah ciptakan orang2 non muslim kalau beliau gak suka?? Belajar agama itu yg bener su, biar gak keracunan.. Agama yg benar itu gak ngajar orang membeda2kan, semua sama di mata Allah. Di sini yg salah bukan agamamu, tapi kamu gak cerdas dan mau diperbudak ajaran dungu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *