Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 December 2016

Sekjen Ikatan Alumni Suriah Indonesia Angkat Bicara Soal Aleppo


najih

islamindonesia.id – Sekjen Ikatan Alumni Suriah Indonesia Angkat Bicara Soal Aleppo

 

Menurut pengamatan Sekjen Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia, Najih Ramadhan, sebagian masyarakat Indonesia kembali ingin tahu apa yang terjadi di Suriah, khususnya Aleppo, pasca-direbutnya kendali kota itu oleh Pemerintah Suriah belum lama ini. Sejumlah hal yang ditanyakan seperti latarbelakang konflik, siapa Presiden Bashar al-Assad, peran Rusia dan Iran, siapa yang disebut pemberontak, dan lain sebagainya.

“Berat dan susah sebenarnya menceritakan konflik Suriah. Yang namanya konflik, di mana pun dan kapan pun, dengan alasan apa pun, selalu meninggalkan cerita pahit,” katanya di akun facebooknya, Najih Ramadhan, (18/12)

“Pahit bagi korban terutama, dan pahit bagi pelaku, pahit pula bagi orang seperti saya yang pernah mengalami hari-hari yang indah di negeri berjuluk Tanah Syam ini,” tambahnya.

Cerita pahit ini bertambah, lanjut advisor ‘Center for Research and Islamic Studies’ ini, manakala melihat perang informasi di media. Pasalnya, masih ada kelompok yang menganggap bahwa memproduksi dan menyebarkan berita hoax adalah bagian dari “jihad”!.

>> Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia

>> Prof. Al-Bouthi: Apa yang Terjadi di Timur Tengah adalah Fitnah

Sedemikian sehingga semua punya berita, semua punya foto-video, dan semua punya cara pandang, sesuai kepentingan masing-masing. “Siapa yang dikorbankan? Tentu saja rakyat Suriah dan masyarakat awam yang mudah terprovokasi,” tagasnya.

Terkait pertanyaan apa yang terjadi di Aleppo, Najih menjawab, “Beberapa kawan penduduk lokal di Aleppo merayakan pembebasan kota mereka dari tangan pemberontak dan kelompok-kelompok separatis. Pemberontak dan sekutu mereka panik, karena garis depan zona pertahanan mereka hancur di Aleppo.”

Daerah yang direbut oleh pemerintah, menurut Najih, merupakan basis pertahanan mereka dan jalur penghubung dari Palmira (Tadmor) ke Latakia dan Idlieb, sehingga jaringan mereka terputus. Untuk mengurangi tekanan, mereka memakai media, termasuk dengan metode fabrikasi, untuk menyerang pihak lawan (pemerintah).

“Karena itu (agar) selalu teliti dengan berita tentang Aleppo,” katanya

>>  Media Israel Terang-terangan Dukung Pemberontak Aleppo

Najih menjelaskan, Aleppo adalah kota kedua terbesar di Suriah, dengan menguasai kota itu pemberontak bisa menampilkan diri sebagai alternatif yang kredibel dibanding pemerintahan di Damaskus. Posisi Aleppo juga amat strategis dilihat dari berbagai segi.

Dalam kesempatan berbeda, di sebuah program TV swasta (21/12), alumnus Kulliyah Dakwah Damaskus Suriah ini membeberkan sejumlah data terkait krisis yang menimpa tanah Syam sejak konflik meletus lima tahun lalu.

“Data dari Syrian Center for Policy Research (SCPR) menunjukkan bahwa korban tewas sejak lima tahun konflik adalah 470 ribu!.”

Sejak permulaan konflik, kata Najih, jutaan rakyat Suriah menjadi pengungsi. PBB memperkirakan pada akhir Agustus 2014, pengungsi mencapai 6.5 juta orang di dalam negeri Suriah. Menurut UNHCR, ini merupakan jumlah pengungsi dari Suriah terbesar setelah perang dunia kedua.

“Data terakhir dari sumber yang sama, 7 November 2016, 8.7 juta pengungsi di dalam negeri, 4.83 juta di negara lain,” katanya.

>> Eropa Buka Perbatasan, Tampung Pengungsi Suriah

Adapun bantuan yang mendesak sekarang untuk rakyat Suriah, menurut Najih, adalah pangan, air dan obat-obatan. Selain itu, membutuhkan bantuan rekonstruksi sebagai bantuan yang strategis, seperti memperbaiki fasilitas publik yang rusak akibat perang, agar masyarakat bisa menjalani hidup dengan normal kembali.

Jika berbicara soal krisis kemanusiaan seutuhnya, di mata Najih, tentu bukan sebatas yang ia telah sebutkan sebelumnya. “Tapi juga termasuk menghormati kedaulatan sebuah negara, biarkan rakyat Suriah memilih masa depannya sendiri, tidak perlu intervensi dengan sistem “anu” atau “itu”,” katanya.

>> ANALISIS – Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?

Karena itu, pria jebolan UIN Sunan Ampel ini berharap untuk mengakhiri perdebatan ideologi dan politik yang baginya tak berujung. “Saya bisa saja bercerita panjang tentang sumur minyak maha besar di Suriah yang membuat negara mana pun ngiler, tentang kepentingan kekuasaan dan keamanan pembakar konflik itu,” katanya.

Tapi, lanjut Najih, itu tidak sepenting membuka mata lebar-lebar dan mulai mengayuh langkah untuk kemanusiaan. Mengutip sabda Nabi, Najih menyebut,  “Robohnya ka’bah (dalam riwayat lain, hancurnya dunia) lebih ringan bagi Allah, daripada hilangnya satu jiwa manusia (Muslim).”

Najih pun mengajak berdoa untuk kebaikan kemanusiaan, baik di Suriah, Palestina, Rohingya. “Dan tentu saja di negeri kita ini tercinta,” katanya.

Ia berharap, krisis Suriah selama beberapa tahun terakhir ini mampu memberikan pelajaran bagi masyarakat Indonesia, yang hidup di negeri Dar al-Salam yang aman nan tenteram ini. Agar tidak bermain-main dengan api perpecahan dan mau mendengar nasehat para ulama dan cendekiawan.

“Suriah mengalami apa yang mereka alami karena tidak sepenuhnya mendengar pesan ulama seperti “al-syahid” Syaikh Said Ramadhan al-Buthi untuk tidak “turun ke jalan”,” katanya.

>> Prof. Al-Bouthi: Penggalangan ‘Dana Suriah’ Hanya Sampai ke Kantong Pencari Sumbangan

Bagi Najih, kita tentu tidak ingin Indonesia bernasib demikian. Ketika suatu bencana sosial akan terjadi, kata Najih mengutip ungkapan berbahasa Arab, para ulama cepat mengetahui itu sehingga melakukan langkah hati-hati.

“Sedangkan orang awam karena kecerobohan dan emosinya yang cepat tersulut, baru tersadar saat bencana telah terjadi,” katanya. []

>> Singgung Soal Aleppo, Gus Mus: Bacalah Surat Terbuka Ini dengan Pikiran Jernih

 

YS / islam indonesia / foto: facebook.com/najihramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *