Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 August 2015

SEJARAH – Mengenal Kakek, Ayah & Ibunda Rasulullah Muhammad saw (9)


nurmuh1

Nama Abdullah bin Abdulmuttholib seketika jadi buah bibir di seantero Haram dan Hill (sebutan untuk daerah baitullah, Makkah dan sekitarnya). Orang-orang tua bersyukur bahagia, sementara dikalangan pemudi, Abdullah jadi impian. Yang awalnya hanya mengenal nama, kini ingin melihat wajahnya. Yang dahulu sudah mengenalnya, kini memendam rasa ingin jadi istrinya. Sebagai pemuda, Abdullah memang memenuhi segala syarat yang didambakan oleh wanita manapun.

Suatu hari, seorang gadis cantik, cerdas lagi terhormat dari keluarga yang dikenal taat menjaga kesuciannya, memberanikan diri menemui Abdullah. Ruqayyah bin Naufal namanya. Ruqayyah sebelumnya mendengar kisah keberanian Abdullah maju sebagai nazar ayahnya di Kabah. Kisah keberanian dan keikhlasan ini menciptakan ‘cahaya’ dari muka Abdullah di mata Ruqayyah.

Seketika segala keinginannya sirna di hadapan keinginan mendampingi bintang pemuda Quraisy ini. Ia pun datang bersama ayahnya berharap pulang membawa oleh-oleh pinangan.

Dengan tetap menjaga perasaan serta kehormatan Ruqayyah, Abdullah menjawab halus: ”Ayahku telah menetapkan wanita yang akan menjadi istriku.” Namun, keberanian, ketulusan, dan kejujuran Ruqayyah tetap meninggalkan kagum dan simpati yang dalam di hati Abdullah.

Memang, Abdulmuttholib berniat mencairkan ketegangan pasca undian nazar dengan pernikahan anaknya. Ia ingin Abdullah menikah dengan Aminah binti Wahhab bin Abdimanaf bin Zuhroh. Keluarga yang dikenal taat beragama dan sangat menjaga kesucian serta kesederhanaan.

Selain melamar Aminah untuk Abdullah, Abdulmuttholib juga melamar sepupu Aminah; Halah. Halah kelak menjadi ibu dari Hamzah “singa Allah”, paman Nabi saw.

Diceritakan setelah beberapa bulan menikah dengan Aminah, Abdullah tiba-tiba teringat Ruqayyah. Ia merasa tak enak setelah menolak permintaan seorang wanita terhormat dan baik hati seperti itu. Ia rencanakanlah pertemuan dengan Ruqayyah untuk meminangnya. Namun, jawaban Ruqayyah sungguh tak disangka Abdullah; dengan tenang ia menolaknya.

Terheran-heran, Abdullah pun bertanya:”Wahai Ruqayyah, dahulu engkau datang padaku dan memohon jadi istriku, sekarang saya datang untuk memenuhi keinginanmu itu, mengapa engkau tidak berkenan?” Jawaban Ruqayyah jelas tanpa ragu, katanya: ”Ya, benar, dahulu saya datang padamu, karena saya melihat “nur”, cahaya ilahi di wajahmu. Kini “nur” itu telah kau berikan pada Aminah binti Wahhab, istrimu. Dia memang lebih berhak menyandangnya”.

HY/islamindonesia

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Bagian 6

Bagian 7

Bagian 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *