Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 20 August 2015

SEJARAH – Mengenal Kakek, Ayah & Ibunda Rasulullah Muhammad saw (8)


s_f29_RTR2P2VM

“Aku anak dari dua orang yang tersembelih,” begitu kata Rasulullah saw, merujuk pada kakeknya Ismail yang dikorbankan Nabi Ibrahim, dan ayahnya Abdullah yang ingin dikorbankan Abdulmuttholib. 

Masyarakat Mekkah sempat gempar mendengar Abdullah, sang idola tampan, gagah, harapan pelanjut estafet pimpinan Quraisy, akan ditumpahkan darahnya di atas altar persembahan Ka’bah. Protes pun melayang dari tingkat masyarakat awam sampai para tokoh masyarakat. Salah seorang Quraisy berkata: “Bila pengorbanan ini dapat diganti dengan harta, kami akan mengumpulkan berapa saja harta yang memadai sebagai gantinya.” 

Bahkan Abdulmuttholib sampai mendengar seorang gadis rupawan rela menggantikan Abdullah untuk dikorbankan. Walau begitu, gejolak yang terjadi di tengah masyarakatnya tidak menggoyahkan tekad Abdulmuttholib untuk memenuhi nazarnya. 

Hari itu, Abdulmuttholib menggandeng tangan Abdullah menuju altar Ka’bah. Orang-orang berdiri mengelilinginya sambil terus mendesak dan memberi berbagai usulan. Di antara saran para tokoh Quraisy itu, ada yang menarik hati Abdulmuttholib: meminta pendapat seorang tua yang dikenal sangat sholeh dan tinggal di Madinah.
Tak ingin menunda lebih lama, berangkatlah Abdulmuttholib ke Madinah. Setelah Abdulmuttholib menceritakan semuanya, termasuk reaksi masyarakat Quraisy, laki-laki sholeh itu meminta agar Abdulmuttholib beristirahat dan datang lagi besok. 

Pagi-pagi sekali Abdulmuttholib sudah berada di rumah laki-laki itu: “Berapa besar tebusan bagi nyawa yang terbunuh?” katanya bertanya. 

“Sepuluh ekor unta,” jawab Abdulmuttholib. Kemudian laki-laki tua itu melanjutkan: “Undilah anak itu dengan sepuluh ekor unta. Bila undian jatuh pada unta, maka cukuplah memadai sepuluh ekor itu untuk dikorbankan sebagai penggantinya”. Bila undian jatuh pada anak itu, maka lipatkanlah jumlah onta menjadi 20 ekor dan undilah lagi. Bila undian jatuh pada anak itu lagi, undilah dengan 30 ekor onta. Begitu seterusnya, sampai undian jatuh pada onta”. 

Abdulmuttholib lega dan menerima nasehatnya. 

Ia segara pulang dan membawa berita gembira. Masyarakat banyak yang menyatakan kelegaannya.
Undian pun kembali dilakukan, kini di hadapan para pemuka Quraisy. Antara 10 ekor unta dan Abdullah, undian masih jatuh pada permata Quraisy itu. Hal ini terus berlangsung sampai kelipatan sepuluh: 100 ekor unta berhasil menggantikan Abdullah. Namun masih ada keraguan pada hati Abdulmuttholib: “Adakah Allah berkenan dengan perubahan nazarnya ini, ya Allah berilah kemantapan pada diriku !?” Untuk memantapkannya, ia kembali mengundi antara 100 unta dan Abdullah. Dan tiga kali berturut-turut, undian enggan memilih Abdullah. 

Mantaplah hati Abdulmuttholib. Ia siapkan dan sembelih 100 ekor unta lalu membiarkan siapapun mengambilnya. Bahkan burung-burung dan binatang lainnya ikut menikmati persembahan tersebut.

HY/islamindonesia

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Bagian 6

Bagian 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *