Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 September 2015

SEJARAH – Mengenal Kakek, Ayah & Ibunda Rasulullah Muhammad saw (10)


pasukan-gajah-2

Perjalanan hidup kakek-kakek Rasulullah, sejak kecil tak beda jauh dengan kisah para nabi Bani Israil. Sejarah mencatat berbagai peristiwa besar yang menunjukkan kebesaran, ketinggian budi pekerti, serta keimanan mereka yang teguh pada Allah SWT. Anehlah rasanya bila sebagian kaum muslimin kini masih sering memperdebatkan keutamaan serta kesucian ayah, ibu dan kakek Rasul. 

Salah satu kisahnya adalah ketika Ka’bah terancam oleh Abrahah, Panglima Pasukan Gajah yang menyerbu Makkah. Saat itu kemah pasukan Abrahah hanya berjarak beberapa jam perjalanan dari Ka’bah. Mengikuti tradisi kuno, Abrahah memerintahkan anak buahnya melakukan perampokan agar penduduk menjadi panik ketakutan. Di antara ternak yang dirampok adalah 200 ekor onta milik Abdulmuttholib. 

Setelah gertakan itu, Abrahah mengirimkan utusannya menemui pemimpin Quraisy, Abdulmuttholib sendiri. Abrahah menyampaikan maksud kedatangannya. Pesannya: “Bila Quraisy tidak melawan, mereka semua akan selamat. Sasaran kami sebenarnya hanya satu. Meratakan ka’bah dengan tanah”. 

Perwira utusan Abrahah tekesan oleh pribadi Abdulmutthalib. Ia pun manut ketika ia dipinta mengantar Abdulmuttholib menghadap Abrahah. 

Sepanjang perjalanan menuju kemah Abrahah, Abdulmuttholib menyaksikan sendiri betapa besar kekuatan tentara musuhnya. Tapi dia tak gentar. 

Sesampainya di kemah Abrahah, kedua pemimpin itu duduk berhadap-hadapan, ditengahi seorang penerjemah. Abrahah memulai percakapannya dengan bertanya: ”Apa maksud yang mulia datang kemari?” 

Dengan tenang Abdulmuttholib menjawab: ”Yang Mulia, pasukan Anda telah merampok harta dan ternak penduduk. Diantaranya termasuk 200 ekor onta milik saya. Saya berharap Anda mengembalikan semua hasil rampasan itu. Percayalah yang mulia, saya tidak akan melakukan kesalahan bodoh dengan berperang melawan pasukan Anda yang sebesar itu”. 

Abrahah terkejut bukan main. Nama Abdulmuttholib yang tenar sebagai pembela kaumnya, pemimpin yang bijaksana, berani, menjaga kehormatan nenek moyangnya, penuh kewibawaan, datang sekedar menuntut ternak dan harta yang dirampas orang. “Apakah pantas, kamu berbicara seperti itu? Menuntut harta penduduk dan 200 ekor onta milikmu itu!? Dan kamu lupakan Ka’bah yang akan kuratakan dengan tanah!? Bukankah Ka’bah adalah simbol keyakinan agama dan kehormatan nenek moyangmu!? Saya tidak mengira seorang pemimpin Quraisy seperti anda akan bicara mengenai hal-hal sepele seperti itu,” kata Abrahah. 

Masih dengan ketenangan yang sama, Abdulmuttholib menjawab: “Saya dan rakyat saya adalah pemilik harta dan onta-onta itu. Rumah Allah itupun ada pemilikinya. Biarkanlah “Pemilik Rumah” itu yang akan mencegah dan menghalangi gangguan atasnya”. 

Sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum sinis, Abrahah sesumbar: ”Tidak akan ada kekuatan yang mampu menghalangi pasukanku mencapai maksudku!!” 

Kemudian ia memerintahkan agar harta dan ternak yang diminta Abdulmuttholib dikembalikan pada pemiliknya, sekaligus mempersiapkan pasukan untuk menghancurkan Baitullah Ka’bah.

HY/islamindonesia. Foto: umrohalhabsyi.com

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Bagian 6

Bagian 7

Bagian 8

Bagian 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *