Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 05 October 2016

Saudi Beralih ke Masehi Karena Sering Salah Tetapkan Awal Bulan Hijriah?


saudi, hijriah, krisis saudi, raja salman, hijriah, masehi

IslamIndonesia.id – Saudi Beralih ke Masehi Karena Sering Salah Tetapkan Awal Bulan Hijriah?

 

Kerajaan Saudi secara resmi beralih dari penanggalan Hijriah ke penanggalan Gregorian (Masehi) per 2 Oktober 2016 kemarin. Pemberlakuan kalender ‘dunia Barat’ di Saudi ini juga bertepatan ketika umat Islam menyambut kedatangan tahun baru Hijriah 1438. Apakah benar kebijakan ini hanya untuk mengurangi gaji dan hari libur? Atau, karena seringnya Badan Falak Saudi melakukan kesalahan dalam menentukan awal bulan Hijriah?

Seperti diketahui, penanggalan Hijriah berlaku di Saudi sejak Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud memproklamasikan berdirinya kerajaan Saudi sekitar 84 tahun lalu. Selama itu, menurut anggota Rukyat Hilal Indonesia Ibnu Zahid, puluhan kali Saudi menetapkan awal bulan berdasarkan rukyat yang salah secara ilmiah. Seperti keputusan Saudi atas 1 Ramadhan 1403 H  yang jatuh pada hari Sabtu 11 Juni 1983 dengan berdasarkan kesaksian rukyat hilal pada hari Jum’at malam Sabtu 10 Juni 1983.

“Kesalahan rukyat Saudi itu terbukti dengan terjadinya gerhana matahari total di Indonesia esok harinya pada pukul 09:55-13:17 WIB. Kita semua tahu bahwa gerhana adalah proses ijtimak bulan, matahari dan bumi,” kata Zahid seperti dikutip portal nu.or.id

Gerhana matahari terjadi karena sinar matahari tertutup oleh bulan pada saat ijtimak/konjungsi. “Lalu hilal yang terlihat di Saudi pada malam Sabtu itu hilal yang mana? Sementara ijtimak baru terjadi esok harinya dengan bukti terjadinya gerhana matahari di wilayah Indonesia.”

Pada tahun 2011, Saudi bahkan mengklaim melihat hilal 1 Syawal yang menurut ahli astronomi adalah planet Saturnus. Meski ahli astronomi telah menyampaikan pandangan berbeda, Kerajaan Saudi tetap mengumumkan 1 Syawal jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus.

“Planet Saturnus muncul di tahun itu dan dapat dilihat oleh seluruh warga Arab Saudi dengan mata telanjang. Karena sinar matahari menutupi ufuk barat. Adapun daerah yang ditutupi bulan dan berada di antara lapisan atmosfir, maka tidak mungkin merukyat hilal dari sana,”  kata Majid Abu Zahirah, Ketua Asosiasi Astronomi Jeddah, Saudi.

[Baca: FIKIH—Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal Menurut Pelbagai Mazhab (1)]

Dosen Studi Astronomi Mesir dan Wakil Persatuan Arab Ilmu Dirgantara dan Perbintangan, Muslim Syaltout, menambahkan, “Hilal bulan Syawal di Arab Saudi dan Mesir tidak mungkin terjadi pada Senin sore itu (29/8). Apa yang terlihat di Saudi itu adalah planet Saturnus yang terlupakan oleh ahli astronomi Arab Saudi dan bertumpu pada perukyat hilal yang tidak ahli.”

Namun, Abdul Aziz bin Abdullah Al Syeikh, Mufti Agung Saudi menilai tidak penting pandangan ahli astronomi dan mengatakan, “Siapa yang meragukan Idul Fitri adalah pembohong dan mendustai Sunnah Nabi Muhammad Saw.”

Sang Mufti Kerajaan melanjutkan, “Pendapat yang ada ini bertentangan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. Karena penetapan Idul Fitri berdasarkan kesaksian orang-orang adil yang melihat hilal bulan Syawal.”

Seringnya terjadi kesalahan penetapan awal bulan – apalagi untuk penanggalan resmi pemerintahan- tentunya berdampak luas. Namun apakah hal ini menjadi salah satu sebab Saudi memilih kalender berdasarkan perputaran matahari? Entahlah, yang jelas negeri kaya minyak ini menyatakan tidak lagi menggunakan hijriah untuk penghematan anggaran.

Akibat krisis yang mengguncang keuangan kerajaan, Riyadh juga memutuskan untuk memotong gaji menteri sebesar 20 persen dan 15 persen gaji Dewan Syuro, serta menambah biaya visa masuk bagi warga Saudi dan warga asing.

Bonus tahunan pada Tahun Baru Hijriah, yang jatuh mulai 2 Oktober, juga ditiadakan. Begitu pula pembaruan atau perpanjangan kontrak kerja tidak akan ada kenaikan gaji. Cuti tahunan bagi para menteri juga dikurangi, dari 42 hari menjadi 36 hari.

Saudi yang dulunya dikenal akan dana pembelanjaan publik yang boros, telah terkena dampak merosotnya harga minyak, serta mahalnya biaya operasi militer pasukan Saudi yang diseret perang berbulan-bulan oleh Yaman.

Hingga kini, dengan koalisi dan dana yang telah terkuras banyak, Riyadh belum mampu menaklukkan tetangganya itu.  Sedemikian, Kerajaan Saudi mengalami defisit anggaran hampir US$ 100 juta dikarenakan turunnya harga minyak serta meningkatnya pembelanjaan militer. []

 

[Baca: KHAS – Gus Mus: Makkah Sudah Seperti Las Vegas]

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *