Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 05 September 2015

KHAS – Gus Mus: Makkah Sudah Seperti Las Vegas


22

Setelah menyampaikan orasi budaya di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta (3/9), KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri kembali masuk desa yang terletak sekitar 22 km dari pusat Kota Gudeg. Pada Sabtu malam (4/9), dia dan bersama budayawan kondang Emha “Cak Nun” Ainun Najib menyapa ribuan masyarakat yang telah memadati
pekarangan Pondok Pesantren Rahmatul Umam, Tegalsari, Bantul.

Sebagai pengantar dalam acara yang bertajuk “Tafakkur Zaman Akhir” itu, Gus Mus merefleksikan kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini yang, menurutnya, “memprihatinkan”. Sedemikian sehingga, seseorang pernah mengeluh ke Pengasuh Ponpes Raudhatu Tholibin ini, “Gus, saya ini kalau lihat TV, kepala saya jadi pening. Saya katakan, itu TV-nya siapa? Itu TV saya Gus, katanya. Lha, kamu ko’ dibikin ngeluh sama TV sendiri, kenapa ngga ditendang saja TV-nya…” kata Gus Mus disambut tawa oleh para hadirin.

Kiai yang juga seniman ini meyampaikan bahwa sebagai makhluk yang diciptakan sebagai khalifah, wakil Gusti Allah di muka bumi ini, tidak pantas mengeluh pada setiap masalah yang ada di zamannya. Gus Mus mengingatkan bagaimana derita yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad saw, teladan umat Islam, yang pernah berjuang sendirian menyampaikan risalah Islam. Pelajaran keteladanan Kanjeng Nabi seharusnya menjadi spirit bagi umatnya untuk optimis menghadapi setiap tantangan zaman.

“Tapi sepertinya, kita ko’ ngga ada potongan sebagai khalifah sama sekali…”

Masalah terbesar sebenarnya bukan datang dari luar tapi dari umat Islam itu sendiri. Jika dikatakan ulama adalah pewaris para nabi, nyatanya kebanyakan ulama tidak meneladani nabi. Orang-orang yang mengaku pewaris nabi itu tidak lagi mengamalkan metode dakwah nabi yang mendahulukan ketauladanan sebelum mengajak orang lain.  Bahkan prilakunya berlawanan dengan apa yang dia sampaikan ke umat.

“Menganjurkan hidup rukun, dia sendiri provokator…”

Dengan nada rendah, ulama 71 tahun ini berkata, “…(Justru) yang menggunakan metode Rasulullah itu ko’ Pak Harto… ” Gus Mus melanjutkan, “Pak Harto itu kalau mendidik ia menuntun dirinya sendiri dulu. Ketika orang Indonesia ‘diajak kaya’, dia memberikan contoh terlebih dahulu…” katanya yang lagi-lagi disambut tawa.

Alumni Al Azhar Mesir ini menilai ‘metode dakwah Rasulullah’ yang diterapkan oleh penguasa Orde Baru itu telah membentuk karakter manusia Indonesia. Jika dahulu Pak Harto itu cuman satu, sekarang semua orang ingin bahkan telah banyak yang menjadi ‘Pak Harto’. Akibatnya, menurut Gus Mus, orang yang paling terhormat di bangsa ini adalah orang yang ‘punya duit’. Karena dengan duit, orang bisa mengatur pejabat pemerintah, aparat polisi, hakim di pengadilan dsb.

Sedemikian efektifnya, apa yang diajarkan Pak Harto selama 32 itu telah menjadi, -meminjam istilah pesantren- ‘ilmu malakah’. Ilmu yang telah ‘malakah’ berarti telah melekat, mengakar dan menjadi bagian dari mental seseorang.

“Pemuka agama di desa-desa itu kalau diundang tahlilan sama orang kaya, tahlilnya sampai seribu kali. Tapi kalau diundang oleh orang melarat, cukup dengan doa singkat ‘rabbanaa atina fiddunya hasanah ..dst’, ” lanjut Gus Mus menyinggung fenomena ‘muballigh amplop’ di tengah masyarakat.

Akar dari problem yang dihadapi bangsa ini adalah gaya hidup berlebihan atau cinta dunia berlebihan. Orang yang saleh bukan saja diukur oleh ibadah ritualnya tapi juga sikap hidupnya sesama manusia.  Selain mempertanyakan fenomena ‘balapan’ membangun masjid di mana-mana, pemuka Nahdatul Ulama ini menyindir pembangunan di sekitar Masjidil Haram, Makkah, yang semakin tidak mendukung orang untuk beribadah.

“Makkah itu udah kayak Las Vegas,” sindir Gus Mus sambil menggambarkan fenomena menjamurnya hotel berbintang, pusat perbelanjaan seperti mall, dan lain-lain di tanah yang disucikan umat Islam itu.

Gus Mus kembali mengingatkan kehidupan Rasulullah yang sederhana dengan mengutip hadist yang melarang mempraktekkan gaya hidup yang berlebihan. Cinta dunia berlebihan bukan hanya merusak dirinya tapi juga masyarakat dan alam semesta. Dengan mengenal Gusti Allah dengan baik, kita mengenal utusan-Nya dengan baik pula. Dengan mengenal kanjeng Nabi, kita menemukan keteladanan yang sebenarnya dibutuhkan oleh bangsa ini.

IMG-20150905-WA0005

 

Edy/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *