Satu Islam Untuk Semua

Friday, 23 September 2016

RENUNGAN JUM’AT – Ajakan untuk Bertauhid


wc1690131

Islamindonesia.id – RENUNGAN JUM’AT — Ajakan untuk Bertauhid

 

Diri yang malang, periksalah dirimu dengan serius dan carilah obat untuk menyembuhkan bermacam penyakit ruhanimu. Sadarilah sia-sianya harga diri yang kau pertahankan dalam hatimu—sepotong kecil daging yang tidak akan memuaskan selera seekor burung itu. Makhluk-makhluk yang lemah ini sama sekali tidak memiliki kekuatan dan pujian. Mereka tidak ada artinya.

Kekuatan yang sesungguhnya harus dicari dari Pemilik sejatinya, yakni Allah; Dialah Sebab Mutlak bagi segala sebab—Sebab Akhir. Bahkan jika seluruh makhluk bekerja sama untuk menciptakan seekor lalat, maka niscaya mereka tidak akan berhasil; dan jika lalat itu menyebabkan mereka mendapat bahaya, mereka tidak akan mampu mengelak, jika Allah menghendaki demikian.

Seluruh kekuatan adalah milik Yang Mahakuasa. Dialah penggerak alam semesta. Ketika kau sedang melakukan sesuatu, tuliskan dalam hatimu dengan pena akal, “Tidak ada sebab efektif dalam dunia wujud kecuali Allah”.

Dengan segala cara, tanamkan dalam hatimu prinsip tauhîd al-af‘âli (yakni bahwa segala perbuatan di alam semesta ini adalah milik Allah), yang merupakan tingkat pertama Wahdatul Wujud; dan dengan demikian jadikan hatimu hati seorang mukmin sejati. Terangilah hatimu dengan pernyataan suci “tidak ada Tuhan selain Allah”; dan bentuklah hatimu sesuai dengannya.

Bawalah hatimu ke tingkat ketenteraman (ithmi’nân) dan sadarilah dengan hatimu bahwa makhluk manusia tidak dapat menyebabkan kebaikan atau keburukan, dan bahwa hanya Allah yang mampu melakukannya. Jernihkan pandanganmu, yang menderita kebutaan agar kau tidak dibangkitkan sebagai orang buta pada Hari Pengadilan dan mengeluh kepada Yang Mahakuasa, “Ya Tuhanku, mengapakah Kau bangkitkan aku dalam keadaan buta …?” (QS Thâ Hâ [20]: 125).

Kehendak Allah menguasai kehendak makhluk-Nya. Jika hatimu tunduk kepada sabda suci tersebut, dan meyakininya, semoga perbuatan-perbuatanmu memperoleh balasan serta seluruh jejak syirik, riya, kufr, nifâq, akan terhapus dari wajah hatimu. Keimanan yang tinggi itu selaras dengan akal dan wahyu, serta tidak ada tanda-tanda determinisme (jabr) di dalamnya.

Mungkin saja beberapa orang yang tidak mengetahui makna prinsip dasar dan kandungan determinisme akan menyalahartikannya; padahal itu bukanlah jabr tetapi tauhid. Determinisme adalah sebentuk syirik pula; sementara tauhid membimbing, determinisme menyesatkan.

[Baca: KAJIAN – Membincang Keadilan Tuhan (Bagian Pertama)]

Dalam kesempatan ini tidak tepat untuk mendiskusikan determinisme dan kebebasan. Namun, orang-orang yang memahami persoalan itu dapat mengetahui pentingnya tema ini. Lebih jauh, Rasul Saw. telah meminta kita untuk tidak berdebat tentang masalah-masalah seperti itu. Bagaimanapun, dengan doa dan permohonan yang sungguh-sungguh pada setiap saat, khususnya ketika engkau merasa sendiri, bermohonlah agar Allah membimbingmu dan mencerahkan hatimu dengan cahaya tauhid.

Mintalah kepada-Nya agar menganugerahimu pandangan tentang hal-hal yang tersembunyi, penglihatan akan kesatuan (dalam keragaman)—Wahdatul Wujud Allah sehingga kau tidak menganggap penting segala sesuatu selain Allah dan menganggap segala sesuatu itu sebagai remeh. Mohonlah kepada esensi suci-Nya untuk menjadikan perbuatanmu bersih dan ikhlas sehingga mampu membimbingmu menuju jalan cinta dan keikhlasan.

Dan, jika kau telah mencapai maqâm ruhaniah sedemikian hingga doa-doamu didengar dan dijawab oleh-Nya dan kau dapat melakukan sesuatu bagi makhluk ciptaan Allah yang lemah ini, doakanlah ia yang telah menyia-nyiakan hidupnya dalam pencarian tanpa makna, tanpa tujuan yang jelas, takluk kepada nafsu, dan syahwat; yang dosa-dosanya telah melukai hatinya sampai ke suatu titik yang tidak ada anjuran, nasihat, ayat Al-Quran, hadis Rasul Saw., argumen, atau perkataan bijak yang dapat memengaruhinya. Semoga doamu dapat menyelamatkannya. Allah tidak pernah tidak mempedulikan seorang mukmin dalam pengadilan-Nya dan Dia senantiasa mengabulkan doa-doanya.

Dengan terus-menerus mengingat semua itu, yang telah kauketahui dan bukan hal baru bagimu, tanamkanlah rasa ikhlas dan penuh perhatian dalam hatimu; dan, tanpa berhenti, nilailah kembali gerakmu, diammu, dan perilakumu. Selidikilah selalu niat-niatmu yang tersembunyi dan dengan cermat perhitungkanlah segala sesuatunya seperti seorang pengusaha menilai mitra kerjanya. Jangan melakukan apa pun yang mengandung riya dan kepura-puraan, betapapun hal itu tampak sebagai perbuatan yang sangat baik.

Bahkan dalam ibadah-ibadah wajib, jika kau tidak merasa yakin dapat melakukannya dengan ikhlas di depan umum, lakukan secara sembunyi-sembunyi, meskipun lebih utama untuk melakukannya secara terbuka. Riya jarang muncul dalam ibadah-ibadah wajib itu sendiri; lebih sering ia muncul dalam hubungannya dengan cara ibadah wajib itu dilakukan dan pada ibadah-ibadah sunnah.

Dalam hal apa pun, bersihkan hatimu dari debu syirik dengan penuh kesungguhan dan kritik diri yang paling keras. Jika, semoga Allah menghindarkannya, engkau meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti itu, kau akan tampil dalam bentuk yang buruk dan tidak ada harapan keselamatan bagimu. Lalu, kau akan memancing murka Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

Rasul pernah bersabda, “Seseorang yang melakukan perbuatan yang disukai Allah dalam rangka memamerkannya kepada orang lain dan secara diam-diam perbuatan yang dibenci-Nya, maka orang itu akan mendapatkan amarah dan murka Allah (di Hari Kebangkitan).”

Ada dua kemungkinan penafsiran atas hadis tersebut, Pertama, hadis itu berbicara tentang seseorang yang menampilkan dirinya sebagai teladan sifat-sifat baik bagi orang lain, tetapi batinnya tercemar dengan sifat-sifat jahat yang buruk. Kedua, mungkin yang dibicarakan adalah seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik secara lahiriah dengan maksud riya. Terlepas dari hal itu, hadis tersebut jelas mengecam orang yang riya karena perbuatan yang disukai oleh Allah, tetapi dapat menimbulkan kemurkaan-Nya jika di dalamnya terdapat motif riya.

Ini adalah peringatan bagi kita semua untuk berhati-hati. Jika tidak, kita dapat memancing kemurkaan Raja segala raja dan Pengasih yang paling mengasihi.[]

 

[Baca: OPINI – Belajar Memahami Tauhid dari Rumi]

 

AJ/IslamIndonesia

0 responses to “RENUNGAN JUM’AT – Ajakan untuk Bertauhid”

  1. zuniar says:

    kemurkaan Allah adalah yang terburuk, semoga kita semua dapat terhindar dari kemurkaan Allah

    Amin ya robbal alamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *