Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 04 October 2016

Prof. Sumanto Al-Qurtubi: Di Saudi, Tak Ada Pengajian Akbar Anti-Syiah


men_talking_in_a_group_saudi

IslamIndonesia.id –  Prof. Sumanto Al-Qurtubi: Di Saudi, Tak Ada Pengajian Akbar Anti-Syiah

 

Dosen Antropologi dan Sosiologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, Prof. Sumanto Al-Qurtubi beberapa waktu lalu megamati fenomena gerakan anti-Syiah di Indonesia. Menurutnya, gerakan itu telah mengepung Syiah dari berbagai penjuru mata angin dengan dalih teologi-keagamaan sampai politik kekuasaan. Salah satu yang sering dikampanyekan ialah bahaya laten revolusi Syiah bagi NKRI.

Gerakan ini, katanya, bukan saja beroperasi dalam tataran wacana, tetapi juga sudah sampai pada tingkat penggalangan massa untuk aksi kekerasan. Antropolog yang kerap menyoroti gerakan-gerakan radikal ini kemudian mencontohkan aksi kekerasan terhadap Syiah yang terjadi di Sampang dan beberapa kota lain.

Peraih gelar doktor dari Boston University ini lalu mempertentangkan fenomena yang diduga didalangi kelompok Saudi-Wahabi di Tanah Air dengan apa yang terjadi di Arab Saudi sendiri itu sendiri. Menurutnya, gerakan anti-Syiah di Arab Saudi tidak sevulgar dan semarak di Indonesia. Tidak ada poster, spanduk, atau selebaran-selebaran provokatif kontra Syiah di tanah Haramain tersebut.

Di sana juga, anehnya, tidak ada pengajian-pengajian akbar anti-Syiah yang bergemuruh. Para khatib Jumat memang sering menekankan umat Islam untuk menghindari praktek bid’ah dan khurafat serta menjalankan ajaran Islam yang “murni dan konksekuen” yang sebetulnya merupakan kritik terhadap Syiah, tetapi tidak menyebut secara langsung kesesatan (apalagi pengkafiran) Syiah.

Aktivis NU yang lama tinggal di Arab Saudi ini menyatakan bahwa di tanah kelahiran Wahabi itu, menariknya, tidak adanya gerakan masif dari tokoh dan ormas Islam untuk memobilisasi massa guna menyerang kantong-kantong Syiah seperti terjadi di Indonesia. Kekerasan terhadap Syiah di Saudi lebih banyak dilakukan oleh “oknum” negara dan sayap ultraradikal Wahabi.

Dosen di King Fahd University itu lalu menulis, “Ada banyak teman-teman saya yang Wahabi yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan keagamaan Syiah yang dinilai melecehkan Islam, Al-Qur’an, Nabi Muhammad, dan para sahabat, serta dianggap menyimpang dari ajaran fundamental Islam. Tetapi mereka menolak untuk melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap komunitas Syiah. Mereka bahkan menuding kekerasan anti-Syiah di distrik Dalwah di Saudi timur, yang dilakukan oleh para penembak bertopeng pada November 2014 lalu dilakukan oleh ekstremis ‘Islamic State’ (baca: ISIS—Islamic State of Iraq and Syria) yang ingin mengusik stabilitas politik Saudi.”

Selanjutnya dia menulis, “Di universitas milik Kerajaan Saudi tempat saya mengajar saat ini, King Fahd University, juga banyak dijumpai para profesor Syiah dan beberapa di antaranya menduduki jabatan sebagai dekan atau ketua departemen seperti Samier Al-Bayat, Badr Al-Humaidi, Jaafer bin Moosa, dan lain sebagainya.”

Nah, dalam amatan kiai cum intelektual NU ini, meskipun relasi harmoni kedua kelompok ini sering diusik oleh kepentingan politik, masyarakat akar rumput Sunni dan Syiah sering kali tidak memperdulikannya. Mereka biasa saja bergaul membaur dan bersenda gurau di pasar-pasar tradisional, kedai kopi, warung teh, rumah makan, dan ruang-ruang publik lain.

[Baca: Di Demak, Ulama Yaman Tegaskan Konflik di Timur Tengah Bukan Soal Sunni-Syiah]

Di kawasan Al-Mobarroz, Ahsa, misalnya, warga Sunni dan Syiah bahkan membangun masjid-masjid dan rumah-rumah mereka berjejer-jejer. Sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat juga menuturkan kepada saya kalau mereka sudah biasa bekerja sama dalam berbagai urusan sosial-kemasyarakatan.

Mereka juga saling membantu dan mengunjungi acara pengajian dan keagamaan yang diadakan masing-masing kelompok serta tidak sedikit dari mereka yang mempraktekkan kawin-mawin, sebuah traidisi yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Perbedaan pandangan keagamaan dan konflik elit tidak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dan mewujudkan perdamaian. Demikian kesimpulan dosen antropologi dan sosiologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, Prof. Sumanto Al-Qurtubi.

Nah, bukankah sungguh aneh bila di Tanah Air tercinta ini ada sebuah ormas khusus untuk melawan Syiah dengan nama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS)? Bukankah ini menggelikan? Bagaimana mungkin di negeri yang konon menjadi dalang berbagai kekerasan terhadap Syiah di dunia justru tidak ada gerakan anti Syiah semarak dan semarah di sini? Mengapa harus ada ketakutan atau hasutan terhadap sekelompok orang Syiah yang jumlahnya barangkali tidak lebih dari 0,3 persen? []

 

[Baca – Azyumardi Azra: Ribu-ribut Sunni Syiah Rugikan Islam dan Indonesia]

 

AJ/IslamIndonesia

0 responses to “Prof. Sumanto Al-Qurtubi: Di Saudi, Tak Ada Pengajian Akbar Anti-Syiah”

  1. fuad says:

    di indonesiapun gerakan intoleran ini kecil tapi mulutnya sangat lebar.

  2. fresh meat says:

    Anda prof antropolog ko ngurusin ( bicara seperti ahli agama)…Anda liberal antek Syiah…ciri2 nya
    1.Anda adalah pemakan daging
    2……….
    3.Anti Islam fundamental ( Islam murni )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *