Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 January 2017

Maulid Nabi Dibubarkan di Myanmar, Putri Gus Dur: Garis Keras atas Nama Mayoritas Cenderung Menindas


1885620271-majority-rule-1

islamindonesia.id – Maulid Nabi Dibubarkan di Myanmar, Putri Gus Dur:  Garis Keras atas Nama Mayoritas Cenderung Menindas

 

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Ahad kemarin (8/1) dihentikan paksa oleh kelompok yang dilaporkan terdiri dari biksu Buddha di Yangon, Myanmar. Sekretaris Organisasi Ulama Islam Myanmar, Kyaw Nyein, mengatakan, situasi ini semakin menyulutkan Islamofobia.

“Ini mencederai kebebasan beragama,” kata Nyein, seperti dikutip situs Channel News Asia, Senin 9 Januari 2017 dan dirilis viva.co.id.

[Baca juga: Dinilai Gunakan Tempat Umum, Ormas ‘Bubarkan’ KKR Natal di Bandung]

Menurutnya, para biksu mencoba untuk membubarkan acara tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya. “Saya heran mengapa aparat yang berwajib tidak bertindak?” katanya.

Di lokasi kejadian, diberitakan terdapat sejumlah aparat kepolisian namun tidak melakukan tindakan apa pun fenomena diskriminatif atas penganut minoritas ini ditanggapi oleh putri KH. Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid, Alissa Wahid.

“Mereka yang garis keras, atas nama mayoritas, memang cenderung menindas. Karena merasa berkuasa,” katanya merespon berita viva.co.id itu di akun pribadinya @AlissaWahid (9/1).

2017-01-10

[Baca juga – Kutip ‘Ramalan’ Nabi, KH. Zainuddin MZ: Kelak Kalian Mayoritas tapi Seperti Buih di Lautan]

Seperti dilaporkan saksi mata, belasan biksu menyerukan agar kelompok Muslim menghentikan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian, mereka merangsek masuk ke tengah-tengah acara keagamaan Islam itu dan melakukan pembubaran paksa.

Adapun, Wakil Ketua Panitia Maulid, Tin Maung Win, menambahkan, kelompok nasionalis Buddha itu berusaha melawan keputusan pemerintah yang kini didukung tokoh sipil Aung San Suu Kyi. Win menilai, kelompok garis keras Buddha tersebut merupakan simpatisan Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang didukung pihak militer.

“Bagi mereka (kelompok ekstremis) pemerintah dinilai terlalu lunak terhadap kaum Muslim Myanmar. Inilah yang menyulut Islamofobia,” tutur Win. Ia juga mengaku bukan kali ini saja menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Win mengatakan sudah selama tujuh tahun berturut-turut pihaknya menggelar Maulid namun tidak pernah mengalami ribut atau pun konflik dengan siapa pun. “Tapi sekarang terjadi. Ada kepentingan politik di balik (aksi pembubaran) ini,” kata Win.[]

[Baca juga: Pasukan Muslim Irak Kembalikan Salib ke atas Gereja Pasca-Bebaskan Desa Kristen dari ISIS]

 

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *