Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 08 January 2017

Makna di Balik Maulid, Habib Lutfi: Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?


habib-luthfi-yahya

islamindonesia.id – Makna di Balik Maulid, Habib Lutfi: Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?

 

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw kembali digelar bersama Habib Lutfi bin Yahya di gedung Kanzus Shalawat, Kota Pekalongan, 8 Januari 2017. Selain habaib dan para kiai, peringatan ‘Maulid Akbar’ ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah ulama dari berbagai negara.

Dalam pengumuman resmi yang disebar oleh panitia, ulama luar negeri yang dijadwalkan hadir ialah: Syeikh Adnan Al-Afyuni (Suriah), Syeikh Riyad Bazo (Lebanon), Syeikh Aun Al-Quddumi (Jordan), Habib Zaid bin Yahya (Yaman). Di depan ribuan orang yang hadir di lokasi Maulid, Syeikh Adnan al-Afyouni menyampaikan, di antara bukti mencintai Nabi Saw adalah memperbanyak membaca shalawat siang dan malam hari.

“Kita sedang merayakan kelahiran orang yang kelahirannya dirayakan penduduk langit dan bumi,” kata mufti Suriah ini ketika menyampaikan keagungan kepribadian Rasul Saw seperti dikutip akun resmi facebook Habib Lutfi, (8/1).

[Baca juga: Pidato Maulid Nabi di Pekalongan, Mufti Suriah: Teladan dari Rasul Mengasihi Bukan Mengebom]

whatsapp-image-2017-01-08-at-16-29-20

Tak heran jika ulama sekaliber Habib Lutfi senantiasa menekankan pentingnya memperingati kelahiran sang nabi agung ini.  Di hadapan ribuan jamaah Nadliyyin di Pekalongan beberapa waktu lalu, Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan salah satu tujuan peringatan Maulid Nabi.

Menurut Ketua Umum Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah ini, adalah untuk membangkitkan cinta kita kepada beliau. “Sekarang ini krisis mahabbah, bukan krisis orang alim,” katanya seperti disiarkan oleh Aswaja Channel.

Cinta yang telah tertanam di hati setiap mukmin seharusnya diupayakan tumbuh mekar. Karena mekarnya cinta, menurut Habib Lutfi, akan meningkatkan kekuatan iman seseorang.

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kata ulama kelahiran Pekolangan ini mengutip QS. Ali Imran: 31).

Ayat di atas, menurut Habib Lutfi, sudah cukup menjadi jawaban mengapa kita seharusnya mencintai Nabi. Orang yang paling mencintai Allah dan dicintai Allah ialah yang diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan ‘fattabiunii’ (ikutilah aku). Tentu manusia pilihan Allah ini bukanlah sebagaimana umumnya manusia biasa. Dia adalah manusia luar biasa.

“Jika Nabi manusia biasa, lalu kita ini apa?” tanya Habib Lutfi kritis, menyindir ucapan sebagian orang yang memposisikan nabi sebagai sebatas manusia biasa.

Sedemikian luar biasanya Nabi sehingga orang-orang yang mengikutinya diberi ‘garansi’. Di sini, kata Habib Lutfi, pentingnya peringatan maulid dan haul yang dilakukan untuk membangkitkan kecintaan pada Nabi.

Di depan ribuan jamaah maulid, pria yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ini kemudian mengupas sejumlah tafsir yang mengungkap mengapa Muhammad Saw bukan manusia biasa.

Allah bukan hanya memuji akhlaknya yang agung dengan ayat ‘Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim’, yang berarti:
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung.

Tapi Allah dalam Al-Qur’an juga tidak pernah memanggilnya dengan menyebut nama langsung; ‘Ya Muhammad’ atau ‘Ya Ahmad’. Ayat yang menyatakan ‘saya adalah manusia (basyar) seperti kalian’, juga tidak boleh dilepaskan dengan kelanjutannya yaitu ‘yuhaa ilayya…’ (diwahyukan kepadaku…).

Menurut Habib Lutfi, wahyu tidak akan diturunkan kepada manusia biasa kecuali kepada dia yang berkedudukan sebagai rasul, nabi dan maksum. Tidak ada masalah dengan kata ‘basyar’, sebagaimana batu juga memiliki derajat; krikil, intan dan permata.

Semuanya sama-sama dikatakan batu, namun nilai satu truk krikil belum tentu sebanding dengan satu permata.

Selain membedah sejumlah kitab tafsir, Habib Lutfi juga menjelaskan kedudukan Nabi Muhammad dengan ayat yang ditafsirkan ayat lainnya. Dan begitu seterusnya sehingga ayat yang satu memiliki hubungan dengan ayat lainnya.

Oleh sebab itu, bagi Habib Lutfi, menafsirkan Al-Qur’an tidaklah mudah. “Memahami kandungan dan rahasia makna ayat Al-Qur’an memerlukan kejernihan hati dan penyucian jiwa. Orang yang menafsirkan Al Qur’an tergantung (tingkat) kejernihan sanubari dan jernihnya akal seseorang,” ungkapnya.

Dalam dunia tasawuf, Habib Lutfi menjelaskan bahwa cinta ialah maqam spiritual kedua setelah maqam ridha. Seseorang tidak akan bisa mencapai maqam ridha kecuali dengan mahabbah (cinta).

Orang yang telah mencapai maqam cinta, derita seperti sakit sekalipun akan dia terima tanpa mengeluh.

Pria berusia 68 tahun ini lalu berkisah tentang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad perihal sejauhmana seseorang dikategorikan mukmin. Nabi Muhammad lalu menjawab, “Yaitu ketika orang itu telah mencintai Allah.”

Berdasarkan ayat sebelumnya jawaban atas pertanyaan sahabat ini meniscayakan kecintaan pada Nabi. Sambil mengutip sebuah hadist, Habib Lutfi kembali menegaskan bahwa kadar keimanan seseorang tergantung pada kecintaan pada nabi. []

[Baca juga: Selain Presiden, Maulid Nabi di Pekalongan Dihadiri Warga dari Berbagai Agama]

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *