Satu Islam Untuk Semua

Monday, 07 November 2016

Komaruddin Hidayat: Ironis, Ada yang Doyan Sekali dengan Hoax Demi Sensasional


komaruddinhidayat

islamindonesia.id – Komaruddin Hidayat: Ironis, Ada yang Doyan Sekali dengan Hoax Demi Sensasional

 

 

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan gelar perkara kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok secara cepat dan transparan di hadapan media massa.

Hal itu menindaklanjuti arahan langsung Presiden Joko Widodo mengenai proses hukum terkait dugaan penistaan agama oleh calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Hal ini disampaikan Kapolri  usai menghadap Presiden Joko Widodo, Sabtu (5/11/2016) malam.

Sebagaimana kesepakatan bersama perwakilan aksi 4 November di Istana Negara, pemerintah berjanji untuk menyelesaikan perkara Ahok dalam dua minggu ini. Sebagian pihak menilai, di luar proses hukum yang tengah ditangani oleh polisi, dan bercermin dari kerusuhan depan Istana Jum’at lalu, potensi kemarahan umat yang tak terkendali bisa berujung keresahan serta kerusuhan sosial masih patut dikhawatirkan.

“Jika ancaman itu benar terjadi tentu sangat merugikan bangsa yang tengah merangkak membangun di tengah kelesuan ekonomi global saat ini. Sekali konflik vertikal dan horisontal meledak, akan sulit diredam. Ongkos sosial politiknya amat mahal,” kata cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat.

Baca: Catatan Pasca 4/11

Salah satu contoh dari dampak distorsi itu, kata Komaruddin, ialah kondisi Timur Tengah. Peradaban yang dibangun ratusan tahun hancur hanya dalam hitungan bulan dan tahun oleh perang saudara.

Tak terbayang, berapa lama dibutuhkan waktu untuk membangun kembali. Itu pun kalau bisa. Dalam situasi demikian, peran aktif tokoh-tokoh pers, televisi, ulama, cendekiawan sangat diharapkan ikut serta menciptakan kedamaian dan edukasi sosial.

“Bahwa berbeda pendapat dan demonstrasi itu hal yang lumrah saja di alam demokrasi, asal terkendali dan tidak destruktif. Di sini tugas polisi memang cukup berat,” katanya seperti ditulis di Koran Sindo (28/10)

Polisi, kata eks rektor UIN Syarif Hidayatullah ini, tengah diuji untuk menegakkan hukum dan menjaga tertib sosial. Sebaiknya, lanjut Komaruddin, pers ikut menyejukkan suasana, jangan malah jualan sensasi dan memanaskan situasi. Masyarakat pun perlu bersikap kritis terhadap berbagai berita yang datang setiap saat.

“Banyak masyarakat yang tidak bisa membedakan antara berita valid dan hoax. Sedemikian bebasnya orang melemparkan hoax yang hanya akan menambah sampah di dunia maya. Ironisnya, masyarakat ada yang doyan sekali dengan hoax demi sensasional,” kata jebolan Ponpes Pabelan Magelang ini.

Belum lagi ditambah dengan dinamika politik menjelang Pilkada DKI 2017. Meski masing-masing kontestan menyatakan siap menang dan siap kalah, tapi menurut Komaruddin, pasti semuanya menargetkan untuk menang.

“Terlebih mereka yang sudah mengeluarkan biaya besar, pasti harapan untuk menang juga besar. Kompetisi menjadi lebih seru dan bisa memanas ketika unsur emosi dan ideologi primordialisme, yakni etnis dan agama ikut terlibat,” katanya

Bagi penulis Psikologi Kematian ini, orang mendukung calon tidak saja berdasarkan pertimbangan rasional, tetapi juga ideologis emosional.

“Di sini tugas polisi, KPU, Bawaslu dan peran serta ulama serta cendekiawan tengah diuji. Bisakah mengawal pilkada dengan damai dan berkualitas?”

 

KPU DKI Tetapkan 3 Pasang Cagub-Cawagub, Menag: Jadikan Agama untuk Hal Baik, Bukan Alat Pecah-Belah dalam Pilkada

 

 

YS / islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *