Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 09 March 2017

KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (III-Tamat)


2014-02-06-21-49-40-01

islamindonesia.id – KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (III-Tamat)

 

Menurut para sufi, dalam menapaki jalan menuju Allah, manusia akan menemukan Sifat-sifat Jalaliyayah (Keagungan) dan Jamaliyyah (Keindahan) Allah. Kedua kategori Sifat Ilahi ini akan melahirkan keseimbangan antara ketakjuban dan keakraban, ketakutan dan harapan sang hamba kepada Allah.

– Baca sebelumnya: KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-2)

Ini berimplikasi bahwa hamba harus selalu membangun hubungannya dengan Allah secara seimbang. Hamba harus takut kepada Allah, tetapi tidak berputus-asa kepada-Nya.

Demikianlah, puncak tasawuf sebenarnya adalah realisasi (tahaqquq) dan penghayatan terhadap kehambaan kepada Allah. Dalam mencapai kehambaan itu, sebagian sufi (seperti al-Ghazali) menemukan ketakutan, sementara sebagian lain (seperti Jalaluddin Rumi) menekankan kecintaan.

Penekanan ini, lagi-lagi, sangat terkait dengan tingkat pemahaman dan pengalaman kita menuju kepada Allah. Oleh sebab itu, tasawuf Islam mengajarkan kepasrahan (islam) kepada Allah. Dan dalam keadaan pasrah inilah hamba akan merasa damai (salam) ketika menemukan sisi menakutkan dan sisi yang melahirkan cinta kepada Allah.

Kepasrahan adalah syarat mutlak bagi manusia untuk dapat mempertahankan perilaku baik di dunia dan hati damai (qalbun salim) saat berjumpa dengan Allah (QS. Asy-Syu’araa: 89). Itulah sebabnya Al-Qur’an menyebut Islam (kepasrahan dan penyerahan) sebagai agama yang dianut semua nabi.

Allah berfirman: Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuahnmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 133).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam. (QS. Ali Imran: 19).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran: 85).

Islam tidak saja berarti kepasrahan (taslim), melainkan juga berarti kedamaian (salam), sebagaimana keimanan (iman) mengandung arti rasa aman dan tenteram (amn). Dengan demikian, kepasrahan dalam Islam tidak hanya akan melahirkan ketundukan dan kepastian dalam diri seseorang, tetapi juga akan melahirkan keimanan yang menentramkan dan menyejahterakan.[]

TAMAT

Baca juga: KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-1)

AJ/YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *