Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 08 March 2017

KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-2)


seeker-journey-walking-road

islamindonesia.id – KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-2)

 

Ketika berbicara tentang penciptaan manusia, Allah berfirman: Dialah (Allah) yang telah menciptakan lelangit dan bumi dengan al-Haqq. (QS. Al-An’am: 73).

– Baca sebelumnya: KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-1)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah hendak menggugah kesadaran manusia agar merenungkan penciptaan dirinya: benarkan semua ini hanya ‘abats’, tidak punya maksud tertentu? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir di sini, dan tidak akan “dikembalikan” ke sisi Allah? Apakah kalian menyangka bahwa penciptaan alam ini hanyalah bersifat lahiriah dan fisik semata?

Dalam ayat lain Allah berfirman: Dan sesungguhnya tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan segala apa yang ada di antaranya dengan main-main. Tidaklah kami menjadikannya kecuali dengan al-Haqq, tetapi kebanyakkan mereka tidak mengetahui. (QS. Ad-Dukhan: 38-39).

Menjawab tujuan penciptaan manusia dan jin, Allah berfirman: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Penyembahan dan ibadah yang tercantum dalam ayat di atas tentunya mempunyai makna yang bertingkat-tingkat, dan setiap orang boleh memaknainya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalamannya. Dalam bahasa saintis, ibadah ini berarti kegiatan berevolusi secara alamiah. Mengikuti pandangan ini, penyembahan berarti gerak evolusioner manusia dari ketakteraturan (choas) dan potensialitas manusia menuju kepada Tuhan sebagai Perancang aturan dan Penyampai informasi.

Neils Gregersen menunjukkan bahwa pandangan semacam ini konsisten dengan perintah Tuhan  dalam Kitab Kejadian (Genesis): “Hendaklah air mengeluarkan sekawanan makhluk hidup…Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar…Beranak cuculah dan bertambah banyaklah.”

Seperti dengan mudah dapat kita lihat, ketidakteraturan atau potensi tidak-terukur merupakan penggerak seluruh makhluk berpegang dan bergelayut kepada sang Pencipta. Betapapun makhluk atau hamba tidak akan mampu mendekat, tetapi fitrah semua makhluk ialah untuk tergerak mendekati Allah. Segala sesuatu, dengan caranya sendiri-sendiri, akan menghampiri Pusat Wujud agar senantiasa dapat terhubungkan dengan-Nya.

Namun demikian, hamba harus selalu sadar akan keterbatasan dirinya. Dalam menempuh lika-liku jalan menuju Pusat, hamba harus selalu menghayati sifat hakikinya sebagai hamba, dan tidak lupa akan hakikat itu. Begitulah maksud kata-kata Sayidina Ali berikut: “Siapa saja yang, dengan cara apa pun, memusatkan seluruh perhatiannya dan memutar otaknya, untuk mengetahui bagaimana cara-Mu menegakkan ‘arsy-Mu, bagaimana Engkau menciptakan segala ciptaan-Mu, bagaimana Engkau bentangkan bumi-Mu di atas gelombang air…, siapa saja yang berusaha mengetahui itu semua, pandangannya pasti akan kembali dengan kegagalan, dalam keadaan letih lesu, akalnya tercengang terpesona, pendengarannya kebingungan dan pikirannya terheran-heran.[]

Bersambung …

Baca juga: KAJIAN – Tasawuf Sebagai Penghayatan atas Kehambaan (Bagian-1)

 

AJ/YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *