Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 January 2017

Jokowi: Saya Selalu Diingatkan Habib Luthfi, “Pak Presiden, Persatuan”


jokowi-habib-lutfi

islamindonesia.id – Jokowi: Saya Selalu Diingatkan Habib Luthfi, “Pak Presiden, Persatuan”

 

Mengawali pidato sambutannya di gedung Kanzus Shalawat Pekalongan, kepada Habib Luthfi bin Yahya, Presiden Joko Widodo mengucapkan terima kasih karena telah diundang dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, (8/1). Dengan menggunakan, peci, sarung dan jas, presiden juga menyampaikan urgensi persatuan dan kesatuan kepada hadirin yang memadati lokasi acara.

“Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi dalam hal politik, kekuatan politik. Rasulullah pernah membentuk kontrak politik dengan semua unsur, dengan semua komponen masyarakat melalui Piagam Madinah. Untuk apa ini? Untuk mempersatukan, untuk sebuah kesatuan,” kata presiden dalam pidato sambutannya seperti dilaporkan oleh portal resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, (8/1).

[Baca juga: Tim Habib Luthfi Klarifikasi Facebook Presiden dan Berita Maulid di Sejumlah Media]

presiden-jokowi-dan-habib-luthfi_20170108_154926

Dengan Piagam Madinah ini, lanjut Jokowi, jelas sekali bahwa ajaran Islam itu menghargai kemajemukan suku, kemajemukan golongan, beraneka macamnya agama. “Dan negara kita, perlu saya ingatkan kepada kita semuanya, Indonesia ini memiliki 700 lebih suku, 1.100 lebih bahasa lokal.”

“Beda-beda semuanya kita ini. Ini perlu kita ingatkan,” tambahnya.

Suku Aceh misalnya, kata Jokowi,  tidak hanya satu. Ada suku Jawa, itupun juga tidak hanya satu. Suku Sunda, juga tidak hanya satu.

“Suku Batak, suku Madura, suku Bugis, suku Banjar, suku Sasak, suku Badui, suku Minang, suku Dayak, suku Kawanua, banyak sekali. Artinya apa?”

Menurut pria kelahiran Solo ini, melihat fakta ini, kita ini dianugerahi Allah memang bermacam-macam. Dan ini anugerah yang patut disyukuri. Tetapi harus dijaga kesatuan kita.

“Berbeda negara yang lain, hanya satu suku. Kita 700. Patut kita syukuri. Ini adalah kekuatan kalau kita bisa membangun persatuannya,” tegasnya.

Kalau masyarakat Indonesia ini bisa membangun kesatuan, bagi Jokowi, ini adalah sebuah potensi.

“Saya selalu diingatkan oleh Habib Luthfi. Ketemu di Solo saya diingatkan, “Pak Presiden, persatuan”. Tadi mau masuk diingatkan lagi oleh Habib, beliau menyampaikan, “persatuan dan kesatuan.” Itu yang selalu diingatkan kepada saya. Karena saya tahu, dan beliau lebih tahu dari saya, bahwa kita ini bersuku-suku.”

[Baca juga: Selain Presiden, Maulid Nabi di Pekalongan Dihadiri Warga dari Berbagai Agama]

Eks gubernur DKI Jakarta ini kembali memberi contoh masalah wilayah. Provinsi di Indonesia punya 34 provinsi, memiliki 516 kabupaten dan kota. 516 kabupaten dan kota dari Sabang sampai Merauke.  Satu provinsi saja, kalau ketemu atau pidato, setelah assalamualaikum, ada salam lokal yang beda-beda.

“Contoh di Sumatera Utara saja, beda-beda. Di bagian selatan, saya hampir keliru saat ke sana. Saya pikir horas, ternyata ya’ahowu. Begitu masuk ke tengah beda lagi, mejuah-juah, maju agak ke timur, juah-juah. Di Medan, kemudian di Toba, horas.”

Jokowi menyebut satu provinsi sudah 4 (empat) salam lokalnya. Dan Indonesia memiliki 516 kota dan kabupaten. “Ini kalau tidak kita jaga persatuan kita, tidak kita jaga kesatuan kita, inilah yang perlu kita ingatkan kepada kita semuanya.”

Tak lupa presiden mengingatkan juga masalah nilai-nilai kesantuan, kesopanan, budi pekerti yang baik dalam kita berucap dan bertindak. Karena sekarang ini, menurut Jokowi, memang ada serangan yang kita tidak merasakan.

“Apa itu? Social media.

Kata jebolan UGM Yogyakarta ini, saat ini hampir setiap orang membawa HP, atau gadget. Informasi dari manapun bisa diterima. Tapi siapa yang bisa menyaring ini berita bohong atau berita benar, ini berita fitnah atau berita benar, ini berita menghasut atau bukan.

“Ini yang saya ingin agar kita semua mengingatkan pada kanan kiri kita, bahwa dunia ini sekarang sangat terbuka sekali, bahwa informasi tidak disaring, di-screening, nanti bisa banyak yang keliru, yang akhirnya bisa memecah-belah persatuan kita. Inilah yang harus kita jaga,” katanya.[]

[Baca juga: Makna di Balik Maulid, Habib Lutfi: Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?]

 

YS/ islam indonesia/ sumber: setkab.go.id. Foto: facebook.com/habibluthfi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *